Mati Sendirian?

Sudah beberapa kali saya mendengar orang yang mati karena Covid-19 diratapi, “Kasihan, mati sendirian, dikubur begitu saja, tidak mendapatkan penghormatan terakhir yang pantas.” Apa kata Alkitab? Di Lukas 16:19-31 Tuhan menceritakan dua orang yang mengalami kematian yang berbeda.

Pertama ada Lazarus, seorang yang luar biasa miskin dan bukan siapa-siapa di dunia ini. Tuhan mengatakan, “Kemudian matilah orang miskin itu,” dan dengan kata-kata ini kita menjumpai akhir hidup Lazarus di dunia ini. Tidak ada sepatah kata pun apakah dia mendapatkan penghormatan terakhir (mungkin sekali tidak, kalaupun ada, siapa yang akan hadir?), apakah dia dikubur secara layak (siapa yang bayar?). Jangan-jangan kuburannya pun tanpa batu nisan, dan satu-satunya alasan orang menguburkan dia adalah karena ada norma yang mengatur bahwa orang asing pun harus dikuburkan (bnd. Matius 27:7).

Kedua, Tuhan memperkenalkan kepada kita seorang kaya tanpa nama, yang memakai haute couture untuk pakaiannya sehari-hari, makanan dan minumannya semua yang terbaik yang bisa dibeli uang. Pada waktu dia mati, Tuhan memberikan keterangan tambahan, “lalu dikubur.” Dia mendapatkan penghormatan terakhir yang layak sesuai posisi sosialnya, dia dikubur secara terhormat, para penguasa dan sosialita zaman itu tak akan terpikir untuk tidak menghadiri pemakaman tokoh ini.

Adegan lalu berpindah ke alam maut. Apa yang Tuhan perlihatkan kepada kita di sini?

Lazarus “dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” Coba saudara renungkan: berapa banyak malaikat yang diperlukan untuk membawa satu orang Lazarus ke pangkuan Abraham? Apa satu malaikat saja tidak cukup? Saya kira jawabannya sama dengan dua kondisi di bawah ini:

Berapa orang tentara yang gagah perkasa ini yang diperlukan untuk membawa peti jenazah Presiden George W. Bush?Peti Presiden George W. Bush Dibawa 8 Orang TentaraBerapa ekor kuda yang diperlukan untuk menarik kereta Ratu Elizabeth II?Prosesi Kereta Kuda Ratu Elizabeth II

Dalam semua keadaan ini, bukan karena dua orang tentara tidak cukup kuat untuk mengangkut jenazah Presiden George W. Bush, juga bukan karena satu ekor kuda tidak cukup kuat untuk menarik kereta yang dinaiki Ratu Elizabeth II, tetapi untuk menunjukkan penghormatan kepada pribadi-pribadi inilah, demi keagungan prosesi mereka, maka delapan orang tentara mengangkat peti jenazah Presiden George W. Bush, enam ekor kuda menarik kereta Ratu Elizabeth II. Saya percaya karena alasan yang samalah maka Allah mengutus bukan cuma satu malaikat, tapi malaikat-malaikat untuk membawa Lazarus ke pangkuan Abraham.

Bagaimana dengan si orang kaya? Seperti Lazarus yang mati dalam anonimitas dan kepergiannya tidak diperhatikan siapapun, demikian pula si orang kaya di alam maut. Setelah dia dikubur, kita tiba-tiba menjumpai dia “di alam maut.” Bagaimana dia sampai di situ? Kita tidak tahu. Siapa yang membawa dia ke situ? Kita juga tidak tahu. Sudah berapa lama dia di situ? Kita tidak tahu. Kita tidak tahu apa pun soal orang ini. Namanya pun kita tidak tahu.

Siapa yang patut dikasihani? Lazarus, atau si orang kaya ini?

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.” 1 Korintus 15:19.

Kita memberikan penghormatan terakhir, bukan demi kepentingan si orang yang mati. Pada detik seseorang mati, nasibnya di dalam kekekalan sudah disegel. Kalau dia mati dalam Tuhan, dia sudah akan bahagia di pangkuan Abraham. Kalau dia mati di luar Tuhan, dia sudah akan mulai menjalani siksaannya di alam maut. Di era PSBB karena Covid-19 ini, yang perlu kita tanyakan adalah: apa yang bisa saya perbuat untuk berduka bersama dan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan? Kita memberikan penghormatan terakhir dan penghiburan, itu semua mungkin karena almarhum, tetapi bukan demi almarhum, melainkan demi keluarga yang ditinggalkan.