Yesus Memberi Makan 5.000 Orang (Eksposisi Matius 14:13-21)


Tuhan Yesus mempunyai seorang kakak sepupu yang seumur dengan-Nya, namanya Yohanes. Tuhan Yesus dan Yohanes bukan cuma kerabat, tetapi juga mempunyai minat yang sama, membaktikan hidup mereka untuk Kerajaan Allah. Waktu Tuhan memulai pelayanan-Nya, Yohanes-lah yang membuka jalan bagi pelayanan-Nya; waktu Tuhan akan masuk ke dunia pelayanan publik, Yohanes-lah yang memperkenalkan Dia kepada publik.

Lebih dekat ke rumah, Kitab Suci mencatat, pada tahun-tahun pelayanan-Nya adik-adik Tuhan Yesus tidak percaya kepada Dia; tetapi Yohanes, bahkan sejak dalam kandungan sudah mengenali bahwa Yesus adalah Tuhan. Di dalam diri Yohanes kita menemukan satu pribadi yang sangat dekat, sangat penting buat kehidupan Tuhan di dunia.

Slide03

Maka, waktu Tuhan Yesus mendengar kakak sepupunya ini, orang yang begitu penting dalam hidupnya, mati, dipenggal oleh Herodes … bagaimana perasaan Tuhan Yesus? Terkejut? Sedih? Marah? Tidak percaya … benarkah berita ini, bahwa Yohanes sudah mati? Waktu orang mendengar berita duka, seseorang yang dekat dengan kita meninggal mendadak, bukan karena tua, bukan karena sakit berkepanjangan, ada perasaan yang campur-aduk … dan kita butuh memproses perasaan itu. Kita butuh waktu. Maka Alkitab mencatat, “Setelah Yesus mendengar berita itu, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat sunyi.”

Slide04

Tuhan butuh waktu sendiri, untuk memproses realita bahwa Yohanes, kakak sepupunya ini, orang yang begitu dekat dengannya, sudah mati.

Kematian masih berkuasa. Akan datang waktunya Dia akan mengalahkan maut.
Akan datang waktunya maut akan dibinasakan. Akan datang waktunya orang berkata, “Hai maut, di manakah sengatmu?” Akan datang waktunya tidak ada lagi maut, tidak ada lagi perkabungan, tidak ada ratap tangis, tidak ada lagi dukacita. Tapi itu belum saatnya. Kematian masih berkuasa. Bahkan Tuhan sendiri pun harus berhadapan dengan fakta bahwa saudara sepupunya, orang yang dicintainya, orang yang begitu dekat di hatinya, mati.

Slide07

Dan Dia berduka. Dia butuh menyendiri. Dia mau menyendiri!

Slide08

“Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.” Orang-orang ini datang berbondong-bondong bukan karena mereka mau menghibur Tuhan. Mereka datang karena mereka butuh sesuatu dari Tuhan!

Kalau saudara dalam kondisi ini, apa yang saudara akan perbuat?

Sepasang suami-istri baru pulang dari rumah sakit. Mereka baru mendengar diagnosis dokter bahwa si istri menderita kanker rahim stadium akhir. Hidupnya mungkin hanya akan bertahan beberapa bulan lagi. Mereka sama-sama terkejut. Mereka tahu si istri punya penyakit, tapi siapa yang menduga diagnosisnya akan seberat ini? Di tengah keterkejutan mereka, mereka hanya bisa berpikir, “Kita pulang. Kita berdoa. Kita beristirahat. Malam ini kita butuh istirahat, sambil kita mencerna apa arti berita ini buat kita ….”

Dalam perjalanan pulang, mereka mendapat telepon dari gereja, “KKR malam ini butuh lebih banyak konselor daripada yang sudah disiapkan. Kalian bisa tolong datang ke gereja dan berikan konseling orang-orang yang butuh dilayani?”

Kalau saudara dalam kondisi ini, apa yang saudara akan perbuat?

Slide09

Terkadang, di tengah-tengah kebutuhan kita sendiri, Tuhan tiba-tiba membuka kesempatan untuk menjamah hidup orang lain. Apa yang akan saudara perbuat?

Slide10

Seberapa besar belas kasihan Tuhan kepada orang-orang ini? Kita tahu Tuhan tengah mengalami dukacita yang sangat mendalam, tapi di sini kita melihat bahwa dukacita yang begitu mendalam pun, yang Tuhan tengah alami, kalah oleh belas kasihan-Nya kepada orang banyak ini. Kita melihat Tuhan mempunyai pengendalian diri yang luar biasa. Dia bisa mengatur emosinya dan memprioritaskan apa yang harus diprioritaskan.

Saudara, Tuhan Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Di dalam diri seorang Yesus, kedua natur ini, Allah dan manusia, hadir bersama-sama tanpa terpisahkan, tetapi juga tanpa bercampur.

Slide16

Waktu kita membandingkan kemanusiaan Tuhan Yesus dengan kemanusiaan kita, Tuhan Yesus bukan manusia super, Dia bukan superman. Kemanusiaan Tuhan Yesus adalah ke-manusia-an yang sejati, Dia adalah manusia seutuh-utuhnya manusia, Dia adalah manusia sesungguh-sungguhnya manusia. Dia bukan manusia plus!

Slide13

Kalau begitu, bagaimana Tuhan Yesus bisa begitu hebat mengendalikan emosinya dengan pengendalian diri yang begitu luar biasa? Bagaimana Tuhan Yesus bisa berhadapan dengan para pemimpin agama yang sangat dihormati semua orang dan berkata, “Celakalah kalian, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian orang-orang munafik, pemimpin-pemimpin buta!”, lalu waktu Dia dengan tangan terikat berhadapan dengan Pilatus, Pilatus berkata, “Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?” Tuhan berkata … “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, kalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas.”

Tetapi waktu Tuhan berhadapan dengan orang banyak yang mencari dia, orang-orang kecil, orang-orang yang sakit dan tidak tahu harus berobat ke mana lagi … “hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka.” Kalau Tuhan Yesus bukan manusia plus, lalu bagaimana Dia punya pengendalian diri yang begitu luar biasa? Bahkan di tengah kondisi dukacita yang begitu besar, Dia bisa melihat pekerjaan Allah yang lebih besar dan belas kasihannya kepada jiwa-jiwa yang terhilang bisa mengalahkan dukacitanya?

Bukan karena Tuhan Yesus adalah manusia plus, tapi karena kita adalah manusia plus: plus dosa.

Slide14

Kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang sudah jatuh ke dalam dosa. Kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang rusak. Kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang mengeluh, yang telanjang, yang takluk kepada kesia-siaan.

Slide15

Dalam diri Tuhan Yesus, bagaimana Dia melihat orang banyak lantas berbelas kasihan, bagaimana Dia melihat ketidakadilan lantas marah, bagaimana Dia mendengar kabar duka lantas berkabung, bagaimana Dia mendengar iman perwira asing di Kapernaum lantas heran, kita melihat seorang manusia yang sempurna, yang pada setiap situasi dan kepada setiap orang bisa memberikan reaksi yang tepat. Di dalam diri Tuhan Yesus kita melihat seorang manusia yang sempurna. Bukan manusia plus. Paulus membandingkan Tuhan Yesus dengan Adam. Sesungguhnya, kalau Adam tidak jatuh ke dalam dosa, kita tidak jatuh ke dalam dosa, kita akan menghidupi sebuah kemanusiaan yang sempurna, seperti yang Tuhan Yesus tunjukkan dalam hidup-Nya di dunia.

Slide16

Buat saudara yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan dalam hidup saudara, kita berada dalam sebuah proses pengudusan. Kita masih jatuh-bangun dalam dosa, tetapi kita berada dalam satu proses yang ujungnya nanti adalah sebuah kemanusiaan yang sempurna, sama dengan kemanusiaan Tuhan Yesus.

Slide17

Apa artinya buat kita, sekarang ini? Kalau Tuhan Yesus adalah manusia plus, superman, apa pun yang Dia lakukan di Alkitab jauh dari kita, Dia adalah Dia, kita adalah kita. Beda. Tetapi Alkitab mengatakan, Allah kita bukan Allah yang jauh di sana,

“Beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia,
yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya:
‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus
tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati,
untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati
dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.’”

Dia adalah Allah yang dekat dengan kita. Dia adalah Allah yang peduli. Dan di sinilah pentingnya kita menyadari bahwa Tuhan Yesus punya natur sebagai Allah dan sebagai manusia. Kedua natur ini hadir bersama-sama dalam diri Tuhan Yesus tanpa terpisahkan, tetapi juga tanpa bercampur. Waktu kita menyadari bahwa dalam kemanusiaan-Nya, Tuhan Yesus adalah manusia sesungguh-sungguhnya manusia, dan bukan manusia plus, artinya dalam setiap kesusahan hidup kita, dalam setiap masalah kita, dalam jatuh-bangunnya hidup kita, kita bisa datang kepada Dia, berdoa kepada-Nya, karena kita tahu bahwa Dia tahu apa yang kita alami.

Ibrani menulis, “Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Slide19

Tuhan Yesus tidak berdosa bukan karena Dia kebal dari dosa, tetapi karena dalam kemanusiaan-Nya yang sempurna, Dia tahu betul apa yang berkenan kepada Allah, Dia memilih untuk taat kepada Allah, sehingga bisa berkata, “Enyahlah, Iblis!” (Mat. 4:10).

Slide20

Ingatlah ini waktu saudara berhadapan dengan Iblis. Proses yang saudara alami sekarang adalah proses pengudusan, agar pada akhirnya saudara menjadi sama dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sudah mengalami apa yang saudara alami, dan Dia menang.

Lalu, apa yang terjadi?

Slide21

Saudara ingat cerita Tuhan Yesus menyembuhkan perempuan yang sudah 12 tahun mengalami pendarahan? Tuhan Yesus tengah berada di tengah kerumunan orang banyak yang berdesak-desakan, sehingga mau jalan pun susah. Lalu tiba-tiba Dia berkata, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya saling menatap bingung, lalu berkata balik kepada Tuhan, “Tuhan, ini orang-orang sedang berdesak-desakan, dan Tuhan bertanya, ‘siapa yang menyentuh Aku…?” Tetapi, Alkitab mencatat, waktu perempuan itu, dengan imannya, menyentuh jubah Tuhan, apa yang terjadi?

Markus 5:30, “Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya.” Tuhan Yesus menyembuhkan orang memang gampang, tetapi bukan gampangan. Ada tenaga yang keluar dari Dia. Dia terlibat secara pribadi di dalam proses penyembuhan itu. Karena itu saudara bisa merenungkan betapa besar belas kasihannya kepada orang-orang yang terhilang ini – kepada kita! – ketika di tengah dukacita yang begitu mendalam Dia masih mau meladeni 5.000 orang yang datang, dengan entah berapa ratus orang sakit yang mau disembuhkan.

Slide22

“Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: ‘Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa].’” Alkitab tidak malu menggambarkan kenyataan bahwa terkadang murid-murid Tuhan Yesus tidak jadi teladan yang baik. Bukankah seringkali kita juga begitu?

Berbeda dengan Tuhan, yang di tengah kedukaan besar masih punya hati untuk orang-orang yang terhilang, murid-murid yang tidak sedang mengalami kedukaan malah meminta Tuhan mengusir orang banyak itu. Ada dua masalah di sini. Pertama, mereka mau enak sendiri. Kedua, mereka bukannya membantu Tuhan, malah menjadi beban tambahan buat Tuhan; karena mereka di sini menyuruh Tuhan, mereka membuat Tuhan terjepit di antara orang-orang yang butuh dilayani dan murid-murid yang mau istirahat – padahal yang sedang sibuk adalah Tuhan.

Saudara, waktu kita di gereja, berapa sering saudara berperilaku seperti ini? Atau mungkin lebih gampang kalau saya tanya, “Berapa sering saudara melihat orang lain berperilaku seperti ini?” Menilai orang lain lebih gampang daripada menilai diri sendiri kan?

Berapa sering saudara punya mentalitas:
“Tuhan punya saya, bukan punya kamu!”
“Mau deket-deket dengan Tuhan? … Tunggu dulu! Udah se-qualified saya belum?”
“Mau jadi usher? … Tunggu dulu! Udah bebas dari rokok belum?”
“Mau mimpin doa? … Tunggu dulu! Masih clubbing nggak?”

Saudara, kalau saudara pernah berpikir seperti ini, apa yang membuat saudara berpikir bahwa dosa dia lebih besar daripada dosa saudara?

Slide24

Jangan sampai saudara jadi seperti orang Farisi di Lukas 18 yang masuk ke Bait Allah, dia berdiri di depan, dan berdoa dengan pede di hadapan Allah. Dia dikagumi banyak orang di Bait Allah, tapi pulang tanpa dibenarkan oleh Allah. Tetapi ada pemungut cukai yang tidak berani ke depan, dia berdiri jauh-jauh, bahkan dia tidak berani menatap ke langit … dia tertunduk dengan penuh penyesalan, dan berdoa dengan sangat sederhana, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Semua di Bait Allah tahu ini orang berdosa, tapi Tuhan Yesus berkata, “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah.”

Apa yang membuat murid-murid berpikir hanya mereka bisa mengklaim Tuhan untuk diri mereka sendiri? Yang jelas bukan Tuhan. Tuhan berkata: “Tidak. Tidak perlu mereka pergi. Kalian yang kasih mereka makan.”

Slide25

Kalau memang benar kalian sudah sebegitu dekat dengan Aku, kalian mau klaim diri-Ku sebagai milik kalian, sekarang buktikan bahwa kalian memang qualified: kasih mereka makan. Tetapi, apa kata murid-murid? “Yang ada pada kami di sini hanya 5 roti dan 2 ikan.”

Lima roti dan dua ikan…? Saudara, coba saudara pertimbangkan baik-baik: Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya adalah 13 orang pria dewasa yang secara fisik sangat aktif, bukan orang-orang yang cuma seharian duduk di balik komputer. Apakah cukup 13 orang pria dewasa dengan gaya hidup seperti mereka makan malam dengan 5 roti dan 2 ikan? Artinya, walaupun tidak ada 5.000 orang ini, buat makan sendiri aja tidak cukup, bukan? Mereka, yang mau mengklaim Tuhan untuk diri mereka sendiri; mereka, yang mengklaim lebih kenal Tuhan daripada orang-orang lain yang tidak layak dekat-dekat sama Tuhan, ternyata mencukupi makan sendiri pun tidak bisa! Dan dari reaksi Tuhan, kita melihat ternyata mereka tidak benar-benar mengenal Tuhan, bukan?

Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada 5.000 orang itu. Murid-murid-Nya? Tidak.
Tuhan mau menginvestasikan beberapa jam yang berharga dari hidup-Nya untuk orang banyak itu. Murid-murid-Nya? Cuek.
Tuhan menyambut 5.000 orang itu dengan tangan terbuka? Murid-murid-Nya? Mereka malah menghalang-halangi dan menyuruh orang-orang itu cepat-cepat pergi.

Apa solusi Tuhan? “Yesus berkata: ‘Bawalah ke mari kepada-Ku.’”

Slide26

Terkadang kita perlu ditantang oleh Tuhan. Waktu Tuhan bilang, “OK. Kamu merasa dirimu qualified? Kalau memang kamu qualified, kamu yang kasih mereka makan, tapi jangan kamu menghalang-halangi orang datang kepada-Ku dan membuat orang jadi pergi!” Waktu murid-murid ditantang Tuhan, mereka baru menyadari betapa kecilnya resource yang ada pada mereka. Lima roti dan dua ikan? Mereka tahu Tuhan tengah berduka. Mereka tahu Tuhan sedang mau menyendiri, ke tempat yang sunyi. Dan mereka ber-13 … tetapi mereka cuma membawa lima roti dan dua ikan? Mereka sendiri bahkan belum mempersembahkan yang terbaik yang ada pada mereka!

Tetapi Tuhan baik, saudara. Dia bukan cuma menyambut 5.000 orang itu untuk datang kepada-Nya. Dia mengingatkan murid-murid-Nya, bahwa sambutan Tuhan berlaku … juga untuk mereka.“Jangan mengandalkan kekuatan kalian sendiri, tapi apa yang ada pada kalian, walaupun cuma 5 roti dan 2 ikan – yang jelas menunjukkan bahwa kalian nggak sepenuh hati menjadi murid-Ku, bawa kepada-Ku, dan lihat apa yang akan Aku perbuat dengan persembahanmu ini.”

Slide27

Energi kita terbatas. Kita mau membagi waktu antara studi, pasangan, bersenang-senang, pelayanan, masalah keluarga di Indonesia, rencana bekerja, memikirkan masa depan … check list kita lebih panjang daripada energi kita … benar kan?

Belas kasihan kita terbatas. Kita hidup di kota yang multikultural ini, mungkin saudara mengalami banyak gesekan dengan orang-orang dari kebudayaan yang berbeda. Seringkali sulit apa yang kita alami membuat kita sulit menerima bahwa orang-orang ini pun diciptakan menurut gambar dan rupa Allah….

Resource kita terbatas. Emosi kita terkadang di luar kendali. Lalu, bagaimana kita bisa menjalani hidup yang berkenan kepada Tuhan? Tuhan Yesus berkata, “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Energi saudara, belas kasihan saudara, resource saudara, emosi saudara, … semua yang ada pada saudara, bawa kepada Tuhan, dan lihat apa yang Dia perbuat dengan apa yang saudara persembahkan ke dalam tangan-Nya.

Apa yang Tuhan perbuat dengan 5 roti dan 2 ikan itu?

Slide28

Tuhan biarkan. Tuhan tidak apa-apakan.

Slide29

“Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput.”

Tuhan tidak tergesa-gesa.

Slide30

Allah kita bukan Allah yang tergesa-gesa. Dari Taman Firdaus sampai Bukit Golgota, Allah menunggu bukan 1-2 abad, tapi ribuan tahun. Dia bisa menunggu selama yang Dia mau. Kita yang seringkali tergesa-gesa. Mau ini, mau itu. Sekarang, Tuhan! Semester depan ya, Tuhan! Jangan sampai lewat bulan Desember, Tuhan!

Dan ini pun kita lihat dalam diri Tuhan Yesus. Tuhan tidak tergesa-gesa. Mengatur 5.000 orang untuk duduk dalam kelompok-kelompok yang rapi bukan perkara 10-20 menit. Tapi Tuhan menunggu. Dan 5 roti dan 2 ikan itu pun menunggu. Kenapa Tuhan menunggu? Ada cara Dia bekerja agar kemuliaan Allah menjadi nyata dengan jelas, dengan terang-benderang buat semua orang.

Slide32

Saudara bayangkan kalau Tuhan tidak mengatur dulu agar semua orang duduk rapi dalam kelompok-kelompok (Markus mencatat bahwa mereka diatur dalam kelompok, kelompok, ada yang 50 orang, ada yang 100 orang per kelompok), apa yang terjadi?

Pertama, orang tidak melihat bahwa mujizat itu datang dari Allah dan nama Allah tidak dimuliakan. Orang cuma tahu mereka kenyang. Tapi, lalu apa? Dalam satu bulan mungkin mereka sudah akan melupakan peristiwa itu.

Kedua, akan terjadi kericuhan karena orang tahu hanya ada makanan dalam jumlah yang sangat terbatas dan dalam kelaparan, orang gampang jadi liar. Bisa-bisa, bukannya kita membaca soal 5.000 orang yang diberi makan, berita ini menjadi 300 orang tewas terinjak-injak karena berebut makanan.

Satu lagi poin penting yang bisa kita lihat dari peristiwa ini adalah Tuhan menunggu semua orang duduk dengan tertib, lalu dengan sikap tubuh yang sangat jelas, Dia berdoa, Dia mengucapkan berkat untuk makanan yang akan dimakan. Ini menjadi teladan juga buat kita, dan kita pun berdoa sebelum makan.

Slide33

Tapi, saya ingin menekankan, di kota ini, di negara ini, perilaku sederhana ini bisa menjadi alat kesaksian yang luar biasa. Waktu saudara pergi makan bersama teman-teman, sambil pesan makanan, sambil ngobrol, lalu makanan datang, sebelum saudara makan … berdoalah! Jangan cuma berdoa asal lewat. Kalau lagi ngobrol dengan teman-teman, katakan, “Permisi ya, saya mau berdoa dulu, setelah saya berdoa kita lanjut ngobrol.”

Tundukkan kepala. Tutup mata. Lipat tangan. Berdoalah untuk makanan saudara, untuk percakapan di seputar meja makan itu, untuk persahabatan yang saudara nikmati, untuk percakapan yang akan terjadi selama saudara makan bersama.

Slide34

Tindakan sederhana ini akan menjadi satu kesaksian yang baik. Orang mungkin bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” Berdoa. “Apa itu doa? Kenapa kamu berdoa?” Dan saudara bisa katakan, “Saya Kristen, saya percaya kepada Yesus. Saya berdoa untuk mengucap syukur untuk makanan ini, untuk persahabatan kita.” Dan saudara lihat ke mana Tuhan pimpin percakapan saudara.

Yang saya alami, saya seringkali tidak perlu memulai percakapan soal iman, soal kekristenan. Dengan berdoa, praktis seluruh percakapan didorong oleh keingintahuan teman saya. Mereka yang punya banyak pertanyaan sehingga percakapan terjadi secara alami. Berdoalah sebelum makan, dan lihat bagaimana Roh Kudus bekerja di hati teman saudara.

Tuhan berdoa. Semua orang melihat. Semua orang mengalami berkat dari Tuhan, mereka makan sampai kenyang. Lalu pulang.

Slide35

Saudara, apa yang terjadi di sini? Kita tahu bahwa 5.000 orang ini lebih suka ikan daripada roti, makanya rotinya sisa 12 bakul, tapi ikannya tidak bersisa. Tapi bukan itu poin pentingnya. Semua orang makan sampai kenyang – dan sisanya jauh lebih banyak, jauh lebih besar, daripada modal awalnya, yang cuma 5 roti dan 2 ikan.

Dari mana mereka bisa punya 12 bakul? Kemungkinan ini adalah dua belas bakul yang biasa dibawa orang pada masa itu untuk bekal perjalanan mereka. Karena ada 12 murid, maka rombongan itu punya 12 bakul. Dan di sini kita melihat waktu murid-murid menjadi alat yang Tuhan pakai, mereka sendiri juga mengalami berkat Tuhan.

Mereka mau menyuruh orang banyak pergi, tapi Tuhan berkata, “Kita layani mereka bersama-sama.” Waktu para murid terlibat melayani bersama Tuhan, apa yang terjadi? Mereka juga kenyang. “Semuanya makan sampai kenyang.” Bukan cuma 5.000 orang itu, tetapi juga ke-12 murid, makan sampai kenyang. Bukan cuma makan sampai kenyang, sekarang mereka juga punya persediaan makanan untuk satu hari lagi perjalanan. Ikan mungkin lebih cepat rusak, sedangkan roti bisa bertahan lebih lama, maka Tuhan, dalam kebijaksanaan-Nya, menyediakan lebih banyak roti daripada ikan. Tuhan tahu bagaimana mencukupi kebutuhan kita, maka itu Dia mengajarkan kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Slide36

Waktu Tuhan memanggil saudara mengikut Dia, percayalah Dia akan menyediakan. Pada waktu-Nya, sesuai kebijaksanaan-Nya.

Di tengah segala keterbatasan kita, ingatlah bahwa Tuhan sayang kepada saudara. Dia begitu mencintai setiap jiwa sehingga di tengah kedukaan yang mendalam pun Dia meluangkan waktu untuk menjumpai setiap jiwa yang mencari Dia. Motivasi kita mungkin salah, sikap kita mungkin arogan, kita bangga dengan status sebagai orang yang sudah lama jadi Kristen, kita bangga dengan “dosa kita yang di mata kita tidak sebesar dosa orang lain”, kita merasa diri kita hebat …. Tapi Tuhan berkata, “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Apa pun yang saudara punya, bawa kepada Tuhan.

Slide37

Saudara mungkin merasa diri saudara hebat, saudara adalah someone. Tapi waktu saudara bawa kepada Tuhan, saudara akan melihat bahwa tidak banyak yang bisa diperbuat dengan 5 roti dan 2 ikan itu kalau tidak dibawa kepada Tuhan. Mau disimpan? Busuk. Mau dimakan? Nggak cukup!

Tapi waktu saudara persembahkan apa yang ada pada saudara – apa adanya – dan saudara lihat apa yang Dia perbuat dengan persembahan saudara, saudara akan bersyukur dengan hal-hal ajaib yang Tuhan bisa perbuat melalui hidup saudara.

Di Indonesia ada satu kamp tahunan yang menurut saya sangat baik untuk remaja dan pemuda. Tiga belas tahun lalu, salah mempromosikan kamp ini kepada KTB saya. Saya katakan kepada mereka, “Kalian ikut kamp ini. Ini kamp bagus sekali untuk kehidupan iman kalian.” Tetapi sayangnya memang situasi waktu itu tidak mendukung. Di gereja itu tidak ada seorang pun yang ikut, gereja juga tidak mensponsori. Salah satu anggota KTB saya berkata kepada saya, “Ko, saya mau ikut, tapi setelah mikir-mikir, biayanya lumayan mahal, untuk kamp plus transportasinya,” karena itu sekitar waktu lebaran. Saya tanya: sanggupnya berapa? Biaya transportasi Jakarta-Malang pp. dia masih bisa bayar sendiri; jadi saya berkata,“OK, biaya kamp saya bayari.” Biaya kamp itu Rp500.000.

Tahun itu dia seorang diri pergi dari gerejanya. Pulang dari kamp, semangatnya berkobar-kobar luar biasa. Tahun berikutnya, saya tidak perlu mempromosikan kamp ini lagi, dia yang mengajak beberapa temannya untuk ikut kamp itu. Tahun ke-3, dia melobi gereja untuk mensponsori sebagian dana supaya lebih banyak remaja gereja bisa pergi. Setelah itu saya tidak mendengar banyak soal kamp ini. Tahun lalu, setelah 13 tahun bergulir dan saya tidak ingat lagi peristiwa yang terjadi pada tahun pertama tadi, anggota KTB saya ini datang kepada saya.

Dia mengingatkan saya tentang kisah Rp500.000 itu, lalu dia berkata, “Kalau target peserta dari gereja kami tahun ini gereja tercapai, gereja akan menyewakan satu gerbong kereta api untuk anak-anak remaja yang akan pergi ke kamp.” Saya tidak tahu apakah target itu akhirnya tercapai atau tidak. Tapi buat saya, kalaupun target itu tidak tercapai, mengetahui bahwa ada begitu banyak anak remaja yang tiap tahun pergi menghadiri kamp itu dan pulang dengan kehidupan iman yang disegarkan … itu saja sudah yang luar biasa … apalagi saya lalu mendengar bahwa dari peserta selama 13 tahun terakhir ini akhirnya ada 5 orang yang lalu masuk seminari dan akan menjadi hamba Tuhan. Dan itu semua berawal hanya dengan Rp500.000!

Kita tidak pernah tahu bisa menebak yang Tuhan akan perbuat dengan “5 roti dan 2 ikan” yang kita persembahkan kepada Dia.

Saudara, apa yang ada pada saudara? Jangan sombong. Jangan merasa diri saudara hebat. Bawa apa yang ada pada saudara kepada Tuhan dan biarkan Tuhan bekerja.

Kalau saudara belum menerima Yesus sebagai Tuhan saudara, Alkitab berkata,
“Orang yang pikirannya dikuasai oleh tabiat manusia, orang itu bermusuhan dengan Allah; karena orang itu tidak tunduk kepada hukum Allah; dan memang ia tidak dapat tunduk kepada hukum Allah. Orang-orang yang hidup menurut tabiat manusia, tidak dapat menyenangkan Allah.”

Tetapi saudara punya pilihan. Tuhan Yesus sudah datang ke dunia, mati buat saudara, dan sekarang Dia ada di surga, bersama Allah Bapa. Dia pernah hidup di bumi sebagai manusia. Apa pun kesusahan hidup saudara, Dia mengerti, karena Dia, walaupun Allah, pernah mengalami sendiri kesusahan hidup saudara. Undangan-Nya kepada kita semua sederhana, “Bawalah ke mari kepada-Ku.”

Saudara bisa melepaskan semua topeng saudara. Saudara bisa melupakan semua naskah sandiwara yang saudara mainkan di hadapan teman-teman, papa-mama, dan orang lain. Dia mengundang saudara datang kepada-Nya, apa adanya saudara. Dan saudara bisa lihat, kalau 5 roti dan 2 ikan bisa memberi makan kenyang 5.000 orang dan sisanya masih 12 bakul, apa yang akan terjadi kalau saudara mempersembahkan hidup saudara kepada Tuhan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s