Karl Marx: Sebuah Keprihatinan terhadap Sesama, Sebuah Upaya Memahami Sejarah, dan Sebuah Resep yang Mencelakakan Dunia


Trier, Jerman. Tahun 1818. Pada tanggal 5 Mei, seorang putra terlahir ke dalam keluarga Heinrich dan Henrietta Marx. Inilah anak ketiga mereka (dan anak kedua yang bertahan hidup), yang mereka namai Karl.

Kelak total mereka akan mempunyai 8 orang anak yang bertahan hidup. Henrietta Marx adalah seorang ibu rumah tangga sedangkan suaminya, Heinrich, adalah seorang pengacara berdarah Yahudi yang setahun sebelumnya telah menanggalkan identitas resminya sebagai seorang Yahudi dan menjadi anggota gereja Kristen untuk membuka peluang penghidupan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarganya, baik secara sosial maupun ekonomi. Bagi Heinrich yang memiliki sikap hidup tak acuh itu, penanggalan identitas ini hanyalah bersifat pragmatis. Ia tak ambil banyak pusing, walaupun keputusan itu pada kenyataannya membawa sejumlah kecanggungan sosial bagi dia dan keluarganya. Namun, di sisi lain, sikap tak acuh Heinrich Marx ini diduga menjadi salah satu benih kebencian Karl anaknya terhadap segala sesuatu yang berbau agama (Berlin, p. 25-26):

The hostility of [Karl Marx] to everything connected with religion, and in particular with Judaism, may well be partly due to the peculiar and embarrassed situation in which such converts sometimes found themselves. Some escaped by becoming devout and even fanatial Christians, others by rebelling against all established religion. They suffered in proportion to their sensitiveness and intelligence ….

The elder Marx suffered from none of these complications. He was a simple, serious, well-educated man, but he was neither conspicuously intelligent nor abnormally sensitive.

Tak semua orang setuju dengan penilaian ini. Sperber, berbeda dengan Berlin, mengatakan bahwa penilaian para pemikir kontemporer terhadap pengaruh awal keputusan ayahnya berpindah agama atas kebencian Marx terhadap agama mungkin berlebihan (Sperber, p. 17):

Conversion was a common option for central European Jews interested in engaging in public life during the first half of the nineteenth century. There were numerous examples on the left and center of the political spectrum, and even some on the right …. In Trier itself, most of the members of the leading families of the eighteenth-century Jewish community had converted to Christianity by the 1830s.

Kita tidak bisa tahu dengan pasti pengaruh keputusan ini pada pemikiran Marx, tetapi yang kita tahu adalah pada akhirnya keputusan Heinrich Marx ini memang membuahkan hasil. Ia yang pada awal pernikahannya bisa hidup nyaman karena warisan keluarga istrinya, pada masa paruh bayanya akhirnya menikmati prestise dan mampu menghidupi keluarganya dengan sangat baik dari penghasilannya sendiri sebagai seorang pengacara terpandang di Trier. Sperber mencatat bahwa dari segi kekayaan mereka, keluarga Heinrich Marx termasuk lima persen keluarga terkaya di kotanya (pp. 21-22, 24). Di tengah situasi inilah Marx tumbuh menjadi remaja di Trier, sebagai anggota dari keluarga terpandang dan berpengaruh, hasil dari keputusan strategis ayahnya setahun sebelum ia dilahirkan.

Heinrich Marx sejak awal menyadari bahwa Karl memiliki kecerdasan yang menonjol, tidak seperti anak-anaknya yang lain. Kesadaran ini membuat Heinrich mempengaruhi bagaimana sang ayah bersikap terhadap anaknya: “with an instinctive delicacy, and never attempted to oppose or bully him on any serious issue” (Berlin, p. 27), walaupun seringkali sang ayah merasa takut anaknya ini bertindak terlalu jauh dan terlibat masalah serius. Hubungan mereka berdua selalu baik dan hangat hingga akhir hayat sang ayah. Ini berbeda dengan hubungan Karl terhadap ibu dan ke-7 saudaranya yang dingin dan kaku.

Masa kecil dan remaja Marx ditandai oleh kebahagiaan karena ia hidup di tengah-tengah dunia yang sesuai dengan seleranya dan memuaskan kebutuhannya dengan sangat baik. Saat masih tinggal di Trier, selain ayahnya sendiri ia juga mempunyai figur pria dewasa lainnya dalam diri Freiherr Ludwig von Westphalen, seorang tetangga yang berasal dari kalangan kelas atas yang terpelajar yang juga memperlakukan Marx dengan serius. Westphalen menjadi mentor yang meninggalkan bekas mendalam pada diri Marx (Berlin, p. 31):

He had been treated by a man much older than himself on terms of equality at a time when he was in particular need of sympathy and encouragement; when one tactless or insulting gesture might have left a lasting mark, he was received with rare courtesy and hospitality.

Kecintaan Marx dan kekritisannya dalam berpikir membaca bak gayung bersambut dengan Westphalen yang bisa menjadi teman diskusinya, juga mendorongnya untuk memperluas bacaannya seraya memberinya pinjaman buku-buku. Masa ini kelak akan terus dikenang oleh Marx hingga masa tuanya sebagai masa-masa paling bahagia dalam hidupnya (Berlin, pp. 30-31). Babak ini dalam hidup Marx berakhir dengan kepergiannya ke Universitas Bonn pada tahun 1835 selama satu tahun. Di Bonn ia menjalani kehidupan yang lebih-kurang serupa dengan kehidupannya di Trier: mereguk kesempatan untuk belajar sebanyak-banyaknya sambil juga bersenang-senang sebagai seorang remaja yang hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Ia bermasalah dengan uang, terutama karena ketidakmampuannya mencatat keuangannya dengan baik dan ini membuat ayahnya marah sehingga akhirnya memanggilnya pulang dan mengirimnya ke Berlin, empat hari perjalanan lebih jauh dari Trier (Sperber, pp. 53-56).

Pada musim gugur 1836 Marx memulai kehidupan di Universitas Berlin dan di sinilah kita akan menjumpai Marx untuk pertama kalinya terkelejat dan terbangun dari kenikmatan hidupnya. Berbeda dengan Trier dan Bonn yang cukup tertutup dan masih menjaga kesinambungan dari era sebelumnya yang lebih tenang dan konvensional, Berlin pada saat itu adalah kota yang sudah lebih dulu berubah menjadi kota modern dengan konsentrasi penduduk yang padat (300.000-an jiwa tercatat sebagai penduduk Berlin pada masa itu), membuat kota itu menjadi pengap dan jelek, sementara pada saat yang bersamaan bunting dengan ambisi dan keseriusan yang memekakkan (Berlin, p. 32; Sperber, p. 39-40). Di sini Marx menemukan dirinya terlempar ke dalam situasi yang sangat menekan, melihat begitu banyak penduduk di Berlin hidup dalam situasi yang begitu mengenaskan tak seperti apa pun yang selama ini ia pernah lihat dan alami sendiri. Tetapi, apa yang bisa ia perbuat? Selamanya seorang pemikir, apa yang dicerapnya memaksa Marx untuk memahami kondisi yang tersodorkan kepadanya ini.

Sesungguhnya kepeduliannya terhadap kehidupan manusia ini bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, ketika ia masih menjadi murid Gymnasium di Trier, pada usia 17 tahun, ia sudah pernah menulis “Refleksi Seorang Muda tentang Pilihan Karier” yang diakhirinya dengan pandangannya bahwa kebahagiaan abadi dalam hidup manusia didapat dari sebuah kehidupan yang didedikasikan bagi umat manusia (Wolff, p. 5; Sperber, p. 31). Jika ini terjadi, maka beban apa pun tak akan terlalu berat untuk ditanggung, mengingat manfaatnya bagi orang banyak. Begitu pula kebahagiaan yang dialami sebagai hasilnya bukan hanya menjadi milik sendiri, melainkan menjadi milik jutaan orang. Dengan demikianlah hidup menjadi bermakna dan berharga.

Sementara itu, studi dalam bidang hukum yang dimulainya di Universitas Bonn kelak akan bermuara pada studi doktor filsafat di Universitas Berlin. Filsuf yang sangat berpengaruh di Jerman pada saat itu adalah Hegel. Sayangnya, Marx tak sempat berjumpa sendiri dengan filsuf besar ini yang terlanjur meninggal karena wabah kolera pada tahun 1831. Tetapi warisan intelektual Hegel tetap dijaga oleh para muridnya di banyak tempat di Jerman. Melalui para pewaris Hegel inilah, khususnya Eduard Gans, seorang profesor sejarah hukum di Universitas Berlin, Marx berkenalan dengan idealisme sejarah Hegel (Sperber, p. 59).

Hegel memandang bahwa sejarah umat manusia merupakan sebuah perjalanan linear yang ditempuh oleh Roh Absolut untuk tiba pada keutuhannya. Dalam konteks itu, akal budi dan pemikiran manusia berkembang dari waktu ke waktu secara beragam antara kebudayaan yang satu dengan yang lain dan dengan berinteraksi dengan dunia. Marx menerima pemikiran Hegel tentang perkembangan historis manusia, tetapi ia tidak puas dengan idealisme Hegel. Bisa dikatakan bahwa Marx adalah seorang “ahli waris [Hegel] yang kritis” (Hardiman, p. 235). Menurut Marx, tidak seyogianya para pemikir puas dengan berhenti pada pemikiran, tetapi pemikiran itu harus mewujud secara konkret. Dari sini ia bekerja keras seumur hidupnya menjabarkan dan mewujudnyatakan apa yang disebutnya sebagai “materialisme historis”.

Marx sendiri tidak pernah memaparkan secara komprehensif tentang pandangan ini sehingga apa yang dipahami saat ini bersumber dari berbagai tulisannya yang tersebar. Berlin (pp. 112-113) menulis:

No full or systematic exposition of historical materialism was ever published by Marx himself. It occurs in a fragmentary form in the early work that he wrote during the years 1843-8, it is briefly expounded in 1849, and it is taken for granted in his later thought. He did not regard it as a new philosophical system so much as a practical method of social and historical analysis, and basis for political strategy ….

The theory matured gradually in his mind. It is possible to trace its growth in Critique of Hegel’s Philosophy of Right: Introduction and On the Jewish Question …. It is further developed in The Holy Family …. It is most fully stated in an untitled volume, over six hundred pages in length, which he composed with Engels in 1845-6, but did not succeed in publishing.

Sejalan dengan itu, Wolff (p. 52) juga mengatakan:

There are several fundamentally different understandings of this theory, and if someone else had written this book you might well be presented with a quite different account. Although frustrating, this divergence in interpretation shouldn’t be a surprise. Marx never spelt out his theory in full. Rather it is implicit throughout many of his writings, and needs reconstructing.

Marx memandang bahwa realisasi diri manusia terjadi ketika ia berinteraksi dengan dunia. Manusia berbeda dari makhluk hidup lainnya yang berinteraksi dengan dunia dengan cara beradaptasi saja. Manusia tidak hanya beradaptasi, tetapi secara fisik mengubah dunia dan lingkungan di mana ia hidup. Dalam prosesnya mengubah dunianya, manusia ternyata juga mengubah dirinya sendiri dalam arti ia memperoleh keterampilan-keterampilan baru yang sebelumnya tak dikuasainya, dalam dirinya juga lantas muncul keinginan-keinginan baru yang sebelumnya tak ada. Ketika manusia itu sendiri berubah, maka pola interaksinya dengan dunianya juga lantas berubah. Di sini siklus ini lantas berulang baru, diawali lagi dengan pola interaksi yang baru yang kembali mengubah manusia itu sendiri dan melahirkan pola interaksi yang baru (Wolff, pp. 27-28).

Dari pemaparan ini kita dapat memahami bahwa Marx memandang pekerjaan bersifat esensial bagi identitas diri manusia. Dalam bekerjalah manusia menemukan kepenuhan jati dirinya, bukan saja secara pribadi (Wolff, p. 28), melainkan juga secara sosial karena produksi dan pembagian kerja di antara sesama manusia berakar dari sebuah kebutuhan bersama dan menciptakan sebuah tujuan bersama (Berlin, p. 127):

Production is a social activity. Any form of co-operative work or division of labour, whatever its origin, creates common purposes and common interests, not analysable as the mere sum of the individual aims or interests of the human beings involved.

Namun, Marx mengamati bahwa telah terjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Ia menyebutkan sebagai “pengasingan”. Manusia telah terasing dari dirinya sendiri. “We do not exercise our most essential features; rather we worship them, in an alien form” (Wolff, p. 29). Keterasingan ini bagi Marx bukan soal perasaan, melainkan adalah kenyataan obyektif. Manusia bisa terasing dari jati dirinya tanpa ia sendiri sadari. Ia pertama-tama memandang keterasingan yang manusia alami adalah keterasingan agama, tetapi lama kelamaan pandangannya berkembang bahwa keterasingan itu juga terjadi pada bidang pekerjaan dan karenanya merupakan satu hal yang sangat penting untuk diatasi.

Bagi Marx, masyarakat kapitalis yang menjadi konteks hidupnya pada masa itu merupakan sebuah masyarakat yang rusak karena membuat manusia hidup dalam keterasingan dengan jati dirinya. Marx percaya bahwa tatanan kehidupan manusia berkembang secara ilmiah: mulai dari perbudakan, feodalisme, hingga pada saat itu menjadi kapitalisme. Perkembangan ini adalah sebuah keniscayaan yang dimotori oleh kebutuhan ekonomis sebagai penggeraknya.

Tatanan perbudakan berubah menjadi feodalisme dan feodalisme pada saat itu dalam waktu yang belum terlalu lama digantikan oleh kapitalisme sebagai tatanan masyarakat yang dominan karena tatanan yang sebelumnya tak lagi cocok dengan perkembangan kebutuhan manusia dan tak bisa bersaing dengan tatanan yang lebih baru yang menggantikannya. Marx percaya berdasarkan hasil pemikiran dan studinya bahwa sebagaimana kapitalisme telah menggusur feodalisme, suatu saat kapitalisme pun suatu saat akan digusur oleh tatanan baru yang disebutnya sebagai komunisme.

Bagaimana dengan faktor-faktor non-ekonomis dalam tatanan masyarakat? Dalam pemikiran Marx, tatanan ekonomi memegang peranan pelik. Tatanan ini disebutnya sebagai “basis” dalam bangunan masyarakat yang utuh. Sebagai basis, tatanan ekonomi menjadi dasar dari sebuah “bangunan atas”, yaitu tatanan politis dan legal dalam masyarakat. Ketika tatanan ekonomi diubah, maka bangunan di atasnya pun akan ikut berubah, karena itu Marx sangat peduli terhadap teori-teori ekonomi dan bagaimana berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat saling berinteraksi dalam kontinum sejarah; ia ingin merumuskan dalam kondisi apa dan bagaimana kapitalisme pada akhirnya akan tersingkir dan digantikan oleh komunisme sebagai tatanan masyarakat yang dominan.

Ketika bicara tentang “sejarah”, kita melihat pengaruh Hegel pada pemikiran Marx dengan sangat jelas, tetapi kata ini memiliki makna yang sama sekali berbeda bagi keduanya. Sementara Hegel memahami sejarah sebagai perwujudan diri Roh Absolut, bagi Marx sejarah berarti perjuangan antar kelas sebagaimana ia tuliskan dalam “Manifesto Komunis”: “The history of all hitherto existing society is the history of class struggle” (Wolff, p. 48). Dalam basis tatanan masyarakat kapitalis, manusia terkelompokkan ke dalam tiga kubu sesuai dengan penguasaan mereka terhadap alat-alat produksi: tuan tanah yang memiliki lahan, kaum borjuis yang memiliki modal, dan pekerja yang menawarkan tenaga mereka (Wolff, pp. 48-51), tetapi Marx sendiri tidak banyak membahas kelompok pertama dan karena penguasaan modalnya bisa disamakan dengan kaum borjuis, maka kedua kelompok pertama bisa disatukan.

Bagi Marx pengelompokan kelas ini bukan sekedar label, melainkan menyangkut dengan identitas diri manusia yang dipaksakan oleh tatanan kapitalisme. Individu-individu manusia tidak bisa begitu saja bertindak sesuka hati mereka, tetapi terkondisikan oleh kelas mereka, entah sebagai kaum borjuis atau sebagai kaum pekerja. Masing-masing kelas mempunyai kepentingannya sendiri-sendiri dan kepentingan itu bersifat deterministik bagi para anggotanya. Dalam hal inilah Marx memandang jahatnya tatanan kapitalis: manusia terasingkan dari jati dirinya sebagai manusia karena mereka tidak lagi bekerja untuk kondisi yang memuaskan mereka.

Dalam tatanan yang ideal manusia bekerja sebagai ekspresi dirinya, sesuai kesukaan hatinya, dan pekerjaan itu akan menyenangkan dirinya. Kenyataannya, Marx mendapati bahwa orang berkeluh kesah dan tidak menikmati pekerjaannya, bahkan hanya di luar jam kerjanyalah manusia menikmati hidupnya. (Di sini kita perlu mengingat bahwa pada masa hidup Marx yang banyak dihabiskannya di London, orang bekerja mulai usia 6 tahun, belasan jam sehari, 6 hari seminggu.) Ini adalah sebuah bukti keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Bukan hanya itu. Manusia juga terasing dari hasil pekerjaannya karena apa yang dikerjakannya lantas diserahkannya kepada orang lain dan bukan sesuatu yang terkait langsung dengan dirinya. Ia juga terasing dari kegiatan produksi yang dilakukannya karena berada di bawah arahan dan kepentingan orang lain (pemilik pabrik, mandor). Terakhir, ia terasing dari sesama manusia karena dalam interaksinya dengan manusia dan dengan barang-barang hasil produksi yang ia konsumsi ia hanya mempunyai pemahaman dan kepentingan yang transaksional: saya bekerja, saya mempunyai kebutuhan, saya membeli barang yang saya butuhkan. Manusia tak lagi memikirkan siapa yang akan menggunakan hasil produksinya dan bagaimana barang-barang yang ia konsumsi bisa tiba pada bentuk yang dikonsumsinya. Keempat keterasingan ini dalam pandangan Marx adalah empat bentuk utama keterasingan kerja manusia, sebuah bentuk kejahatan kapitalisme yang membuat manusia kehilangan jati dirinya (Wolff, pp. 31-37).

Lalu, kalau memang seluruh tatanan kapitalisme ini memang jahat, kenapa tidak ada manusia yang menyadarinya dan memberontak serta membentuk ulang tatanan ini? Menurut Marx, itu terjadi karena semua orang di dalam tatanan ini, bukan hanya yang ditindak, melainkan bahkan yang diuntungkan sekalipun, seringkali tak menyadari peran mereka di dalamnya. Masing-masing individu terdeterminasi untuk hidup sesuai dengan posisi kelasnya dalam masyarakat. Mereka semua terbutakan oleh institusi-institusi sosial yang semula dibentuk manusia tetapi kemudian malah dikagumi begitu rupa hingga disembah sebagai institusi-institusi yang sakral dan tak tersentuh. Dalam konteks inilah Marx menyebut agama, sebagai salah satu dari institusi-institusi itu, sebagai “opium rakyat”. Apa yang dimaksud dengan opium? Wolff (p. 20) menawarkan analisis ini:

… To understand this metaphor we have to understand three features of opium. First, it produces some feeling of euphoria in those that take it. Second, its common use is as a solace or relief from illness, pain, hunger or other forms of distress. Third, its regular use is very destructive; at the least it prevents the user from flourishing or thriving in a normal human way.

Marx meyakini bahwa cepat atau lambat kondisi ini akan berubah, bukan karena rekayasa dan juga tanpa perlu provokasi, tetapi karena tatanan hidup manusia di bawah kapitalisme tak bisa bertahan. Sebagaimana feodalisme tak bisa menahan kelahiran kapitalisme ketika waktunya sudah tiba, begitu pula kapitalisme tak akan bisa menahan kelahiran komunisme jika waktunya sudah tiba. Dengan tatanan komunisme, pada akhirnya tidak lagi diperlukan kelas karena semua orang akan bekerja sesuai dengan kemampuannya dan semua orang akan mendapatkan penghidupan sesuai kebutuhannya. Bekerja akan menjadi hal yang dirindukan dan dinikmati oleh semua orang (Wolff, pp. 92-96).

Tujuan akhir Marx adalah memaparkan sebuah sejarah perkembangan tatanan sosial umat manusia yang memungkinkan manusia kembali hidup sesuai dengan jati dirinya, kembali kepada harkat dan panggilannya untuk bekerja. Dalam seluruh rangkaian pemikirannya, Marx memandang dirinya sebagai seorang ilmuwan sosial yang memberikan deskripsi lebih daripada memberikan resep. “Dengan lain kata, Marx mengklaim bahwa sosialismenya bersifat ilmiah karena sosialisme tersebut berdasarkan pengatahuan tentang hukum-hukum objektif penrkembangan masyarakat” (Magnis-Suseno, p. 138). Pemahaman ini terungkap pula dalam pidato Engels sahabatnya pada penguburan Marx (cetak miring ditambahkan) (Rorty, p. 344):

Just as Darwin discovered the law of development of organic nature, so Marx discovered the law of development of human history …. But that is not all. Marx also discovered the special law of motion governing the present-day capitalist mode of prouction and the bourgeois society that this mode of production has created …. Such was the man of science.

Inilah seorang pemikir yang hidup dari keprihatinan terhadap penderitaan manusia-manusia di sekitarnya dan dalam bidangnya sendiri dan dengan caranya yang unik berjuang semampu yang dia bisa untuk menyodorkan secercah harapan akan kemungkinan adanya masa depan yang lebih baik bagi orang-orang yang tertindas.

Selama masa hidupnya telah ada perbedaan pendapat tentang bagaimana pertentangan kelas dapat diselesaikan dan bagaimana era komunisme bisa diwujudnyatakan, namun pada abad ke-20 terjadi kejutan-kejutan yang mengubah jalannya sejarah secara dahsyat. Perkataan Karl Marx bahwa yang dibutuhkan dari para filsuf adalah bagaimana mengubah dunia menjadi kenyataan dengan cara yang mungkin tak pernah terlintas dalam benak Marx sendiri. Lenin mengadaptasi pemikiran Marx (waktu itu orang belum menemukan tulisan-tulisan Marx muda) dan menjadikannya dasar revolusi Bolshevik. Ia menekankan kediktatoran proletariat dan mengajukan pemikiran-pemikiran revisionis yang mengemukakan bahwa era komunisme bisa dipercepat, kendati pemikiran Marx yang berbeda (Magnis-Suseno, 2013, pp. 31-35). Upaya Lenin untuk mewariskan Uni Soviet kepada Leon Trotsky yang dipandangnya setia kepada Marxisme kemudian disalip oleh Stalin yang membawa Uni Soviet kepada keekstreman yang lebih dahsyat dalam hal kediktatoran dan kekejamannya (Magnis-Suseno, 2013, pp. 54-63).

Kini kita hidup pada masa pasca-Uni Soviet. Pemikiran Marx telah diuji dan didapati memiliki sejumlah kelemahan yang signifikan. Ternyata komunisme hanya akan melahirkan kaum borjuis baru. Ide tentang pemulihan kerja sebagai ekspresi jati diri manusia juga tak berhasil diwujudnyatakan. Sebaliknya, kapitalisme telah beradaptasi dan berhasil mengatasi keberatan-keberatan signifikan yang diutarakan Marx. Selama abad ke-20, kesejahteraan pekerja semakin meningkat, kondisi kerja menjadi jauh lebih manusiawi daripada pada masa hidup Marx, kesempatan mobilitas sosial secara vertikal juga menjadi lebih mungkin. Nampaknya kapitalisme memiliki kelincahan dan adaptabilitas yang tak disadari oleh Marx, sementara komunisme justru memiliki kelemahan-kelemahan yang signifikan yang membuatnya tak bisa bertahan hidup.

Berkaca pada pengalaman kengerian sejarah manusia pada abad ke-20, kiranya manusia sudah eksperimen dengan Marxisme sudah saatnya diakhiri dan perlu diwaspadai agar tak terulang lagi. Namun, di sisi lain, menilik pemikiran Marx kita menjumpai ada keprihatinan yang tulus dan kesungguhan hati, disertai dengan kapasitas mental yang luar biasa, untuk hidup di tengah dunia, di tengah orang-orang yang karena berbagai faktor dalam kehidupan mereka harus hidup dalam kondisi yang kurang beruntung, membuat kontribusi yang nyata bagi perbaikan kehidupan mereka. Marx menyodorkan sebuah pemikiran yang deterministik melalui materialisme historisnya, tetapi di sini bisa pula dibaca adanya peluang untuk bertindak, memberikan kontribusi, dalam membebaskan orang-orang yang terbelenggu di dalam kondisi hidup kelasnya yang kurang beruntung, sehingga dengan mengangkat kondisi hidup orang-orang yang paling tak beruntung di tengah masyarakat, seluruh masyarakat ikut terangkat kepada kondisi yang lebih baik.

Bibliografi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s