Tragedi Abba Menjadi Bapa


Apa artinya “abba”? Saya kira ini pertanyaan mudah. Di sekolah minggu kita diajarkan bahwa “abba” adalah sapaan seorang anak kepada ayahnya pada masa Perjanjian Baru; seperti “abah”, “papa”, “daddy” yang kita gunakan sekarang. Para pengkhotbah dan penulis renungan biasanya tak lupa menekankan betapa akrabnya panggilan “abba” ini. Tetapi seringkali mereka lebih suka menjaga jarak daripada mengaplikasikan keakraban yang mereka ajarkan itu.

Dalam tulisan dan editan saya, acapkali saya menambahkan huruf “k” di akhir kata “Bapa” menjadi “Bapak” dalam rujukan kepada Allah. Acapkali pula, saya menemukan keberatan. Orang mengatakan “Bapa” dan “Bapak” beda; kita menggunakan “Bapa” hanya untuk menyapa dan menyebut Allah di surga, tidak sama dengan “Bapak” yang kita gunakan sehari-hari. Keberatan semacam ini datang tak kurang dari orang-orang yang sama yang bisa dengan gamblang dan panjang-lebar mengajarkan bahwa keakraban hubungan ayah dan anak di balik kata “abba” menunjukkan betapa akrabnya Allah yang kita sembah dengan kita sebagai anak-anak-Nya (Roma 8:15, Galatia 4:6).

Dulu dalam bahasa Indonesia memang kita menggunakan kata “bapa”, maka Alkitab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada masa itu menggunakan kata “bapa”; tetapi lantas bahasa Indonesia berkembang dan sebutan “bapa” berubah menjadi “bapak”. Sayangnya terjemahan Alkitab mempertahankan “bapa”, sehingga terjadilah pembedaan yang tidak seharusnya ada. Allah yang disapa dengan begitu akrabnya sebagai abah, bapak, papa, daddy kini menjadi berjarak dengan sebuah sapaan yang diciptakan khusus untuk-Nya.

Menarik untuk dicermati kenapa orang bisa menulis dan mengkhotbahkan uraian panjang-lebar tentang keakraban di balik sapaan “abba” yang sebenarnya asing untuk para pembaca dan pendengar mereka, tetapi malah menolak sama sekali menggunakan sapaan “bapak” yang jelas-jelas kontekstual dan dimengerti oleh para pembaca dan pendengar mereka. Saya kira sikap demikian adalah bukti nyata orang bisa punya pengetahuan tentang suatu topik secara cukup komprehensif, namun steril, tanpa dibarengi kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu di dalam kehidupan nyata.

Daripada menguraikan panjang-lebar tentang betapa akrabnya makna kata “abba” bagi seorang anak Ibrani yang hidup 20 abad lalu, tidakkah lebih masuk akal menggunakan sebuah kata yang mempunyai keakraban yang sama untuk para pembaca dan pendengar kita? Dengan begitu, penjelasan itu tidak akan cuma masuk ke otak mereka dan berhenti di situ, tetapi juga merasuk ke dalam hati mereka dan kehidupan mereka – mengubah cara mereka memahami dan mengalami hubungan mereka dengan Abah, Babeh, Bapak, Daddy mereka yang di surga.

2 thoughts on “Tragedi Abba Menjadi Bapa

  1. fyi, KBBI mengakui adanya kata bapa yang bermakna:
    bapa/ba·pa/ n 1 orang laki-laki yang dipandang sebagai orang tua; 2 bapak; 3 Kat sebutan untuk Allah;
    — Suci sebutan bagi pemimpin tertinggi umat Katolik; Sri Paus di Roma

    1. Ya, Bu Rondang. KBBI memang mempunyai lema “bapa”. Yang saya soroti adalah kata “bapa” dipakai *justru* sebagai pembeda dari “bapak”, untuk membedakan bahwa yang kita panggil “bapa” bukanlah “bapak”….

      Saya kira yang bermakna di sini adalah makna yang hadir di kepala dan batin orang saat menggunakan kata “bapa” & “bapak”; apakah sama atau berbeda?

      Juga, kenapa orang yang mengeksposisi keakraban kata “Abba” untuk menyapa Allah kok malah antipati dengan penggunaan kata “Bapak” dalam konteks yang sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s