Alkitab sebagai Mitos


“Permulaan hikmat adalah definisi istilah-istilah secara tepat,” begitu bunyi tulisan yang saya temui – entah kapan dan di mana, saya sudah lupa. Penulisnya mengatributkan kalimat tersebut kepada Sokrates (kemungkinan besar secara hagiografis). Ini nasihat yang maha-penting untuk dicamkan.

Apa pentingnya mencamkan nasihat itu? Karena acap kali kita berdiskusi, berdebat, ribut-ribut, tanpa mendefinisikan dengan seksama apa sebenarnya subyek yang tengah kita seriusi. Jangan-jangan cuma nama dan istilahnya yang sama, tetapi masing-masing pihak yang terlibat mempunyai pemahaman yang berbeda tentang nama dan istilah itu di benak masing-masing.

Saat menulis skripsi, kita dilatih untuk mengawali tulisan dengan mendefinisikan istilah-istilah yang akan digunakan, lalu menarik garis batas topik dan masalah yang akan ditelaah, menjabarkan metode yang akan digunakan serta alasan di balik pemilihan metode itu. Sesudahnya, baru kita benar-benar terjun ke dalam pembahasan topik dan masalah yang kita janjikan, biasanya pada bab ketiga skripsi. Dua bab pertama penting untuk menyamakan persepsi antara semua pihak terkait dan menghindarkan terjadinya debat kusir serta diskusi omong kosong yang melompat ke sana-sini tak ada juntrungannya. Cara berpikir yang disiplin semacam ini berlaku tidak hanya untuk menulis skripsi, tetapi sangat berguna juga dalam kehidupan sehari-hari.

Bicara soal isu-isu yang “seru” di dalam Alkitab, saya mendapati ada saja orang-orang yang beraninya cuma melemparkan pertanyaan-pertanyaan berat tetapi tidak dibarengi dengan keberanian untuk menggali jawaban yang sama beratnya. Maunya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berat, tetapi hanya mau mendapatkan jawaban-jawaban yang klise; tidak mau menelusuri berbagai sumber yang selevel dan seklasemen dengan pertanyaannya, bahkan tidak bersedia menelusuri ulang alur penalarannya secara runut dan disiplin.

Satu kali saya bahkan membaca seorang Kristen mengklaim “Hati-hati dengan pikiran yang terlalu terbuka, bisa-bisa otakmu tumpah keluar.” Saya kira sikap ini hanya bisa muncul dari orang yang sesungguhnya tidak percaya bahwa Allah sungguh-sungguh adalah pencipta yang berdaulat atas alam semesta dan atas segala ilmu; dan bahwa akal budi manusia – dengan segala keunggulan dan kehebatannya – adalah ciptaan Allah yang Dia ciptakan sesuai gambar dan rupa-Nya. Jika kita mengimani bahwa Allah menciptakan manusia dan seisi dunia dan bahwa Allah memandang seluruh ciptaan-Nya “baik” dan manusia “sungguh amat baik”, maka implikasinya, otak manusia adalah cerminan citra diri Allah juga, bukan hasil karya Iblis. Kemampuan manusia berpikir dan bernalar sesungguhnya adalah hasil karya Allah dan karenanya bernalar adalah sesuatu yang baik dan merupakan hadiah yang Allah berikan kepada manusia sebagai mahkota ciptaan-Nya.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa menggunakan otak kita untuk bernalar dengan disiplin dan bertanggung jawab merupakan sebuah ekspresi iman dan penghargaan kepada Allah atas sebuah karya agung yang Dia karuniakan kepada manusia. Dalam hal ini wejangan “permulaan hikmat adalah definisi istilah-istilah secara tepat” saya kira patut diaminkan oleh setiap orang Kristen yang cukup terpelajar untuk memahaminya.

Bicara soal isu-isu “seru” di dalam Alkitab dan definisi yang tepat, satu istilah yang acap kali muncul dalam isu-isu “seru” adalah “mitos”. Bagi beberapa orang, konsep mitos tak terhindarkan ketika mereka berpikir tentang bagian-bagian Alkitab seperti Kejadian 1-11; ketika berbicara soal Adam, Nuh, air bah, Raja Daud; dan sejumlah topik lainnya. Namun, mengutarakan kata “mitos” dalam sebuah dialog dengan sesama orang Kristen bisa jadi terasa seperti melemparkan bom molotov di tengah kerumunan massa – dalam sekejap mengubah sekelompok orang alim menjadi segerombolan massa yang emosinya tersulut secara membabi buta tanpa bisa diajak berdialog lagi.

Apa itu mitos? Denis O. Lamoureux mengutarakan dengan tepat bahwa waktu mendengar kata “mitos”, orang seringkali memahaminya sebagai sesuatu yang fiktif, imajiner, tidak pernah terjadi. Mitos juga acapkali disamakan dengan dongeng-dongeng tradisional yang berisi makhluk gaib, dewa-dewi, dan peristiwa-peristiwa supranatural. Tetapi di sini saya ingin mengingatkan sekali lagi, waktu kita berbicara serius tentang literatur dan kita berani menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berat, maka kita juga perlu konsekuen dengan implikasinya bahwa untuk menjawab pertanyaan yang berat dibutuhkan pula keseriusan untuk mengolah data dan jawaban yang sepadan dengan kualitas pertanyaannya. Artinya, sekurang-kurangnya, kita perlu memahami kosakata yang digunakan oleh para ahli dalam bidang terkait.

Saya akan memparafrasekan Lamoureux di sini. Begini ia menulis tentang mitos: Mitos adalah kategori literatur yang digunakan secara profesional untuk mengacu kepada kisah yang menyimpan kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai sebuah komunitas. Dengan definisi demikian, mitos utama kekristenan adalah bahwa Allah menjadi manusia dalam diri Yesus yang mati di salib untuk dosa-dosa kita. Mitos tidak semata-mata berarti dongeng ahistoris; mitos bisa saja melibatkan tokoh historis dan kejadian nyata.

Mitos adalah cara manusia pada zaman kuno untuk memahami realita dunia, memaknai dunia yang mereka tinggali, dan meneruskan kearifan hidup dari generasi ke generasi. Kita perlu mengingat bahwa pada zaman kuno kemampuan baca-tulis sangat jarang dimiliki orang. Kebanyakan peristiwa diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, merentang jumlah tahun yang tak terbilang. Satu hal yang biasa jika sebuah peristiwa yang diabadikan secara lisan baru didokumentasikan ke dalam tulisan ratusan tahun kemudian.

Dalam hal mendokumentasikan peristiwa dan pemikiran, kita perlu mengingat bahwa orang-orang pada zaman kuno memiliki prioritas dan perhatian yang berbeda dengan kita. Nama pengarang bukan sesuatu yang penting untuk diingat. Seorang pengarang lebih baik mencantumkan nama seorang berpengaruh pada tulisannya sebagai pengarang agar tulisan itu menjadi populer daripada mencantumkan namanya sendiri tetapi berakibat pada terbatasnya sirkulasi tulisan itu. Hak cipta juga tidak menjadi masalah sampai baru-baru ini. Begitu pula metode ilmiah. Kebanyakan metode ilmiah yang sekarang lazim buat kita karena sudah kita pelajari sejak SMP adalah inovasi yang relatif masih muda dibandingkan peradaban manusia. Berbagai metode ilmu sosial bahkan tidak berkembang hingga paruh kedua abad ke-20. Sungguh aneh dan tidak masuk akal jika kita mengira bahwa orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu menggunakan metode ilmiah yang baru ada selama beberapa puluh tahun terakhir dalam tulisan mereka – bahkan walaupun tulisan itu adalah Alkitab.

Mitos adalah “metode ilmiah” versi manusia zaman kuno, sebuah cara berpikir dan cara berkomunikasi yang dipahami oleh orang-orang. Kita perlu mengingat cara kerja Allah:

  • Dia menjemput kita di mana kita berada; Dia tidak mengharapkan kita menjadi sempurna dulu baru menyelamatkan kita (Roma 5:8).
  • Allah berinkarnasi untuk menyelamatkan kita.
  • Tuhan Yesus, selama hidup-Nya di dunia, menggunakan berbagai perumpamaan yang sesuai dengan konteks hidup para pendengar-Nya agar mereka mudah mengerti pesan yang Ia sampaikan.
  • Alkitab Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani pasaran yang dipahami orang banyak alih-alih bahasa Yunani klasik atau Latin yang hanya dimengerti kaum terpelajar yang terbatas.

Maka, aneh sekali kalau sekarang sekelompok pengikut Kristus yang dididik dengan model pendidikan Barat modern yang positivistik tiba-tiba memaksakan pola pikir Barat modern yang positivistik itu kepada semua orang di segala tempat dan segala zaman, bahkan kepada orang-orang yang hidup ribuan tahun lalu, seolah-olah segala bentuk tradisi dan pemikiran yang tidak cocok dengan pola pikir Barat modern yang positivistik adalah sesat dan – lebih parah lagi – Allah, yang dalam pengakuan resmi mereka adalah sang pencipta, secara tidak langsung mereka klaim hanya bisa dan hanya boleh berkomunikasi dengan manusia ciptaan-Nya menggunakan pola pikir Barat modern yang positivistik. Ini adalah sebuah bentuk kecongkakan yang luar biasa dan sebuah cara pikir yang sama sekali bertolak belakang dengan apa yang Tuhan Yesus teladankan.

Allah menciptakan kita sesuai gambar dan rupa-Nya; ini berarti segala kapasitas kita, termasuk kemampuan intelektual kita, adalah cerminan citra Allah. Penggunaan kemampuan intelektual secara disiplin dan bertanggung jawab merupakan sebuah bentuk ekspresi iman dan kesaksian hidup di tengah-tengah dunia ciptaan Allah. Baiklah kemampuan itu digunakan dengan kerendahan hati, meneladani sikap hidup yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus melalui inkarnasi-Nya: kita bernalar untuk memahami, bernalar untuk membawa terang, bernalar untuk mengeksplorasi kebenaran Tuhan di mana pun kebenaran itu ditemukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s