Menjadi Agnostik


Bus Kopaja yang saya tumpangi terhenti oleh lampu merah di perempatan Tomang. Dari jendela di sisi kiri saya, saya bisa mendengar dengan jelas seorang anak jalanan yang berumur sekitar 10 tahun tengah mencecar adiknya dengan sejumlah pertanyaan perkalian, “6 kali 2 berapa?”, tanyanya dengan nada antara membanggakan diri dengan pengetahuannya dan menghardik.

Si adik nampak tak berminat sama sekali meladeni tingkah polah kakaknya, namun itu tak menghentikan si kakak untuk terus memaksa si adik menjawab. Setelah beberapa saat mendapat respon asal-asalan, si kakak pun akhirnya memberikan jawabannya. Seperti seorang pesulap yang bersiap mengeluarkan kelinci dari topi tingginya, ia mengumandangkan, “6 kali 2 ituuu … empat belas!”

Saya kira tak ada seorang pun yang menyaksikan adegan itu akan meragukan si kakak sungguh-sungguh percaya dengan segenap akal budinya bahwa 6×2 = 14. Pada saat yang sama, saya juga bertanya apakah “pengetahuan” yang ia miliki itu ada gunanya dalam hidupnya. Jangan-jangan, sikap tak acuh si adik lebih sehat dan lebih berguna.

Anda tentu setuju bahwa banyak hal dalam hidup ini memang rumit. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Tetapi kita tidak puas waktu kita tidak tahu. Kita ingin tahu. Setidaknya, kita ingin merasa bahwa kita tahu. Waktu kita merasa tahu, muncul rasa puas dan bangga dalam diri kita. Semakin rumit subyek yang kita rasa kita ketahui, semakin besar rasa puas dan bangga itu.

Mulai dari urusan politik, berbagai bencana, isu-isu sains, hingga urusan agama … orang ingin punya opini. Entah kenapa, bagi banyak orang, merangkai tiga kata “saya tidak tahu” rasanya seperti melakukan harakiri. Sebuah aib besar. Tetapi terkadang memulai sebuah eksplorasi untuk memahami kebenaran juga bukan hal yang mudah. Kita membutuhkan sejumlah informasi yang penting yang tak bisa didapat pada laman pertama hasil pencarian Google. Kita membutuhkan kemampuan membedakan kualitas dan keandalan setiap informasi. Kita butuh waktu dan keseriusan untuk mencerna informasi itu, menganalisisnya, dan menarik kesimpulan yang baik. Investasi yang tidak sedikit – sekedar untuk merasa tahu.

Masalah lainnya terkadang muncul. Seberapa pun kita berupaya, kita tidak punya cukup informasi; atau ada banyak “data”, tetapi kita tidak bisa menentukan apakah “data” itu bisa diandalkan atau sampah. Ada kalanya, seberapa banyak pun investasi energi dan waktu yang perlu kita curahkan tak akan menghasilkan perbedaan apa-apa. Lalu, apa yang kita lakukan?

Jika kita punya keberanian untuk rendah hati tahu diri, kita bisa mengatakan, “Saya tidak tahu.” Masalahnya, bagaimana kalau itu dirasakan seperti melakukan harakiri? Maka muncullah berbagai pengetahuan asal-asalan yang kalau diseriusi lantas bisa terus berkembang menjadi doktrin spekulatif atau teori konspirasi.

Orang ingin tiba pada kesimpulan yang menghibur diri tanpa perlu melakukan studi yang serius, mengolah banyak data, & meluangkan waktu untuk mencernanya secara disiplin & bertanggung jawab. Apa yang bisa ia lakukan? Solusi yang mudah adalah berbelanja di supermarket ide bernama “Internet” di mana ide-ide dijajakan secara grosiran kepada siapa pun yang mau sekedar menyicipinya. Yang penting, ide itu terasa enak dan pas – tanpa perlu dicerna secara disiplin & bertanggung jawab.

Pertanyaannya, bagaimana kalau ternyata ada data baru yang tidak bisa dijelaskan oleh doktrin dan teori yang sudah dipegang? Sikap yang tepat adalah menguji kembali doktrin dan teori itu dan mengolahnya menjadi lebih komprehensif – atau sekadar mengatakan “Ternyata, saya tidak tahu seperti yang saya kira.” Tetapi bisa jadi orang telah mengidentifikasikan diri mereka begitu rupa dengan doktrin dan teori itu, mereka mendapatkan rasa aman dari “pengetahuan” dan “penjelasan” yang disediakan oleh doktrin dan teori itu, sehingga mereka merasa terancam kalau doktrin dan teori itu ternyata harus diperbarui. Dari sini bisa lahir sikap defensif yang tidak pada tempatnya.

Kita perlu mengingat bahwa doktrin dan teori tak lebih dari upaya menjelaskan sesuatu di luar dirinya. Doktrin dan teori tidak pernah bergantung pada dirinya sendiri. Karenanya, tidak tepat kalau kita memegang doktrin dan teori sebegitu eratnya hingga mengidentifikasikan diri dan identitas kita dengannya – dan dalam prosesnya mematikan akal budi dan indera kita terhadap pemikiran dan pengalaman yang baru yang seharusnya bisa memperkaya kita.

Salah satu sikap mental yang berbahaya adalah ketidakmampuan berdialog. Orang-orang yang dalam dialog mereka dengan orang lain hanya menuntut jawaban bottom line dan password yang tepat pada akhirnya bisa jadi tak lagi mampu berinteraksi dengan orang lain secara tulus dan berdialog secara otentik dari pribadi ke pribadi. Dalam dialog mereka, mereka hanya mencari kata kunci yang tepat dan mereka hanya peduli dengan bottom line: apakah kita sama atau berbeda; apakah kamu bagian dari kami atau mereka.

Doktrin spekulatif dan teori konspirasi pada akhirnya menjadi berbahaya karena ia berfungsi sebagai pemisah – antara “kami” yang tahu (atau setidaknya merasa tahu) dan “kalian” yang tidak tahu, antara golongan yang terpilih dan mendapatkan pencerahan dan orang-orang lain yang hidup dalam kebodohan dan kegelapan.

Kenyataannya, hidup ini rumit. Ada hal-hal yang kita ketahui; tetapi pengetahuan kita pun mungkin terbatas dan orang lain bisa jadi mempunyai perspektif yang memperkaya pengetahuan kita. Ada hal-hal yang memang tidak kita ketahui dan mungkin tidak bisa kita ketahui. Ada kalanya kita perlu mengatakan “saya tidak tahu” alih-alih membangun dinding pemisah.

Di dalam hidup bergereja juga ada banyak hal yang sulit kita ketahui dan bahkan mustahil kita ketahui. Tetapi masalahnya, kita penasaran, dan kita ingin punya opini – entah apa pun alasan di balik keinginan itu. Saya kira tidak ada salahnya mempunyai opini, selama dua prasyarat ini terpenuhi, yaitu bahwa:

  1. Opini itu terlahir dari proses berpikir yang disiplin & bertanggung jawab, bukan hanya karena terasa enak dan pas.
  2. Ada kesadaran bahwa opini itu adalah opini belaka yang bisa salah dan ada orang-orang lain yang juga cerdas dan tahu tentang subyek ini, tetapi nyatanya tiba pada kesimpulan yang berbeda.

Saya kira beropini dengan sikap demikian adalah cara yang sehat. Sikap lainnya yang bisa kita ambil saat pertimbangan kita mengatakan bahwa tidak ada cukup dasar atau kebutuhan untuk beropini adalah mengatakan: “Saya tidak memiliki cukup dasar untuk mengambil posisi.” Dengan kata lain, memilih menjadi agnostik.

Salah satu contoh di mana hal ini bisa diterapkan di dalam kekristenan, saya kira, adalah tentang akhir zaman, atau kerennya, eskatologi. Setidaknya ada tiga pandangan berbeda tentang akhir zaman dalam kekristenan, tetapi saya kira saya tidak punya cukup sumber daya untuk menyeriusi dan mendalami perdebatan ini. Menjadi agnostik dalam hal eskatologi, bagi saya, merupakan posisi yang paling bertanggung jawab. Ada hal-hal yang lebih penting untuk dikerjakan dalam kehidupan ini dan tidak ada salahnya mengatakan dengan tulus, “Saya tidak tahu.”

Pada akhirnya, mungkin yang terpenting bagi kedua anak tadi bukan memperdebatkan apakah 6×2 = 14 atau 27, tetapi menyadari bahwa lampu merah tengah menyala dan ada satu bus penuh penumpang yang seharusnya bisa menjadi sumber penghasilan mereka sore itu – kalau saja mereka sempat memperdengarkan suara mereka.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s