Doktrin Buat Apa?


Tidak ada doktrin yang kekal. Setiap doktrin memiliki permulaan. Ada satu masa ketika doktrin itu belum dilahirkan dan orang tak ambil pusing soal itu. Sejumlah ajaran yang dominan pada satu masa kemudian akan terbukti salah dan lantas tersingkir, sedangkan sejumlah ajaran lainnya disadari memerlukan pembaruan dan lantas direvisi agar tetap relevan sebagai sebuah doktrin.

Apa itu doktrin? Doktrin adalah set-set pengajaran yang terstandar. Dalam kekristenan, doktrin bersumber dari penafsiran Kitab Suci, pengalaman hidup sebagai seorang Kristen, dan interaksi Gereja dengan lingkungannya. Dalam tulisan ini, “doktrin” selalu berarti doktrin Kristen, “Gereja” merujuk kepada komunitas orang-orang Kristen lintas ruang dan waktu, sedangkan “gereja” merujuk kepada komunitas atau institusi yang bersifat lokal.

Doktrin-doktrin utama dalam kekristenan biasa dikelompokkan ke dalam 10 kelompok: doktrin tentang Alkitab, Allah, Kristus, Roh Kudus, manusia, dosa, keselamatan, Gereja, makhluk-makhluk rohani, dan akhir zaman. Dari mana datangnya doktrin-doktrin ini? Banyak di antaranya dilahirkan dari diskusi dan perdebatan publik yang muncul dalam abad-abad awal kekristenan ketika orang-orang Kristen berhadapan dengan beragam penafsiran Kitab Suci dan mereka perlu memutuskan penafsiran yang mana yang bisa diterima dan yang mana yang tidak. Diskusi serupa juga muncul dalam interaksi mereka dengan orang-orang di luar Gereja – bagaimana mereka secara individu sebagai orang-orang Kristen dan secara komunal sebagai Gereja perlu menyikapi isu-isu kontemporer. Dari sini doktrin-doktrin terbentuk secara organik dan berkembang.

Doktrin berkembang bersama dengan sejumlah pengajaran lainnya dan juga pakem-pakem dalam kehidupan bergereja, misalnya bagaimana cara menafsirkan Kitab Suci secara bertanggung jawab, bagaimana para pemimpin dalam Gereja mengemban tanggung jawab mereka terhadap umat yang ada dalam lingkup tanggung jawab mereka, dan bagaimana tata cara yang tepat bagi orang-orang Kristen untuk menjalankan ibadah mereka. Semua ini, sama seperti doktrin, berkembang secara organik akibat interaksi di dalam Gereja dan antara Gereja dengan dunia kontemporer.

Ketika kita mengamati satu gereja kita akan mendapati cara-cara tertentu yang dilakukan orang-orang di dalamnya dalam bergereja, misalnya: ada urutan tertentu yang mereka pakai dalam susunan acara ibadah Minggu (entah mereka menyebutnya sebagai “liturgi” atau tidak), sekolah Minggu (entah untuk jemaat dengan usia tertentu saja atau untuk seluruh jemaat), kelompok kecil, pelawatan (biasanya dengan mengunjungi anggota jemaat di rumah mereka), dsb. Bagi sejumlah orang, semua ini mungkin mendefinisikan apa yang mereka pahami sebagai “gereja”. Tetapi kita perlu ingat, ada saatnya gereja tidak memakai urutan ibadah yang sama; selama 90% usia Gereja, Gereja tidak mengenal apa yang sekarang kita sebut sekolah Minggu dan kelompok kecil; pelawatan ke rumah-rumah adalah hasil kreativitas Gereja yang jemaatnya hidup dalam lingkungan agraris. Semua praktek ini, sama halnya dengan doktrin, tidak ada yang kekal; ada masa ketika Gereja tidak mempraktekkan apa yang sekarang kita praktekkan.

Waktu saya mengatakan doktrin berubah, tidak berarti bahwa doktrin itu rekaan manusia belaka. Sebaliknya, doktrin disebut sebagai doktrin karena Gereja sebagai komunitas orang beriman telah merefleksikan doktrin itu dan membedah elemen-elemennya seraya memberikan kepadanya status yang unik sebagai kepercayaan dasar iman Kristen. Doktrin, kita percayai, bersumber dari kebenaran Kitab Suci, tetapi bukan hanya itu. Doktrin juga merupakan upaya manusia-yang-terbatas untuk memahami Allah-yang-tak-terbatas sehingga dalam keterbatasannya manusia Kristen bisa hidup sesuai tuntunan Allah yang dinyatakan melalui Kitab Suci dengan cara yang relevan terhadap konteks kehidupannya.

Doktrin adalah lensa bifokus yang membantu kita melihat dengan jelas kebenaran yang Allah nyatakan kepada umat-Nya dan memandang dengan jernih kepada konteks kehidupan kita. Sebuah doktrin yang baik memampukan orang untuk menyatakan kebenaran Allah dengan cara yang relevan dan mampu dipahami oleh orang-orang di sekitar kita. Sebuah doktrin yang baik memampukan kita untuk hidup di dunia dan menjadi berkat, bukannya membuat kita menarik diri dari dunia dan menjadi fatalistik.

Kehidupan Kristen akan sangat mudah kalau dunia tetap sama sehingga kesaksian kita juga tetap itu-itu saja, tetapi kenyataannya dunia berubah dan karenanya kesaksian kita pun perlu berubah agar tetap relevan dan dapat dipahami oleh orang-orang yang hidup sezaman dengan kita. Ada bahaya di sini ketika kita mengidolakan doktrin sehingga doktrin dibekukan, dijadikan pengganti Allah, dan dianggap tak mungkin berubah. Pada saat yang sama ketika doktrin menjadi Allah, maka sesama manusia akan menjadi obyek, dan kita menjadi hakim – kalau bukan inkuisitor.

Doktrin terlahir dari upaya manusia memahami kebenaran Allah secara relevan. Walaupun kebenaran Allah tetap sama, tetapi dengan perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, akibatnya konteks hidup kita dan pemahaman kita pun berkembang dan doktrin selalu tentatif. Ketika kita mengklaim bahwa doktrin yang kita percayai sebagai sesuatu yang mutlak, artinya kita mengklaim diri kita sendiri sebagai Allah yang tak mungkin salah. Inilah awal perpecahan di dalam Gereja, juga awal dari sikap menghakimi terhadap sesama.

Seorang yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya perlu memahami doktrin-doktrin Kristen dengan baik. Doktrin membantu manusia mempunyai pilar-pilar kepercayaan yang kokoh di dalam kehidupan barunya sebagai seorang beriman. Di dalam prosesnya kita perlu mengingat dua hal.

  • Pertama, bahwa Allah bekerja di dalam diri setiap orang percaya. Pengalaman menjalani kehidupan bersama dengan Allah secara otentik jangan sampai tergusur oleh penyembahan kepada doktrin-doktrin yang lalu mensterilkan kehidupan rohani kita dan menggantikannya dengan ketaatan membabi-buta kepada apa pun dan siapa pun.
  • Kedua, Allah memberikan anugerah umum untuk semua manusia, bukan hanya untuk orang-orang di luar Kristus. Artinya, kepada orang Kristen pun Allah memberikan akal budi untuk kita gunakan di dalam Gereja, di dalam menjalani kehidupan sebagai orang Kristen. Berulang kali saya menjumpai orang yang pada hari Minggu datang ke gereja dan meninggalkan otaknya di rumah, lalu pada hari-hari lain ke kantor dan meninggalkan imannya di rumah. Allah memanggil kita untuk menjadi umat-Nya dengan apa adanya kita, dengan segenap kemampuan yang Ia berikan kepada kita.

Agustinus mengisahkan seorang anak yang menggali lubang di pantai untuk memindahkan lautan ke dalam lubang kecilnya. Ia lantas berefleksi bahwa upaya konyol anak itu sama seperti upayanya untuk memahami Allah dengan otaknya yang kecil. Terkadang orang menyimpulkan bahwa itu berarti kita perlu mematikan segala kapasitas yang kita miliki dan berubah menjadi makhluk-makhluk yang bodoh dan pasrah. Bukankah justru sebaliknya, kita yang kecil ini perlu mengerahkan segenap daya dan upaya yang kita miliki – yang adalah baik dan datangnya dari Allah juga – untuk mengenali dan mengasihi Allah, sejauh dan sekuat yang kita bisa. Itu tidak bisa akan dicapai kalau kita menonaktifkan otak kita, mengabaikan empati kita, menjalani kehidupan secara otomatis tanpa bertanya, “Bagaimana sekarang Allah bisa berkarya secara efektif melalui saya?”

Doktrin membantu kita memahami kebenaran Allah dan hidup sesuai kehendak-Nya. Doktrin membantu menyangga iman kita sehingga kita bisa menjalani kehidupan yang seru dan menggairahkan bersama Dia. Jangan ubah doktrin itu dari penyangga menjadi pengekang yang membuat kehidupan rohani kita kehilangan kontak dari dunia, membosankan, serta penuh kemarahan dan perpecahan.

Doktrin bisa menjadi mikroskop yang membantu kita menganalisis hal-hal kecil dengan lebih jeli. Doktrin bisa menjadi teleskop yang memampukan kita memahami hal-hal besar dengan lebih baik. Tetapi iman yang sejati tak akan membiarkan doktrin ditempa menjadi kacamata kuda, menjadi alibi bagi orang-orang Kristen untuk tidak lagi peduli dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Doktrin yang membuat penganutnya menjadi tak acuh dengan dunia, tidak peduli dengan sesama, tak mampu berkarya bagi dunia, apalagi sampai menjadi fatalistik, bukanlah kesaksian Kristen yang baik sama sekali. Allah memanggil kita untuk menjadi relevan (Yeremia 29:7, Matius 5:13), bukannya menjadi orang-orang aneh yang tak berguna bagi umat manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s