Gereja dan Urusan LGBTQ


Membela Tuhan bisa terasa menyenangkan. Apalagi kalau itu dilakukan cukup dengan beradu status di media sosial tanpa perlu melakukan studi mendalam dan berpikir serius. Terkadang kita mendapat bantuan pula dari beragam meme dan postingan yang tersedia untuk kita teruskan kepada orang banyak. Seperti halnya yang acapkali terjadi dalam perdebatan soal LGBTQ. Bagaimana orang-orang Kristen seharusnya bersikap soal hal ini?

Waktu orang Kristen ribut-ribut soal LGBTQ, seringkali ribut-ributnya tak jauh dari beradu status dan komentar di Facebook dan isinya pun hanya debat kusir yang materinya itu lagi, itu lagi. Ada yang mengeluarkan segenap energi, emosi, dan amarah menyerang segala sesuatu yang berlabel LGBT; sementara ada juga yang begitu bersemangat menyodorkan beragam pembelaan hingga kebablasan menggunakan argumen-argumen yang konyol dan jangan-jangan tak pernah digunakan oleh para LGBTQ sendiri.

Ribut-ribut soal LGBTQ ini meletup ke permukaan di Indonesia pada tahun 2015, ketika Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis, dan kita pun latah ikut-ikutan ramai mengecam, membela, dan sibuk beradu status di berbagai media – sosial maupun massa. Saya sempat membuktikan sendiri, walaupun topik ini topik latahan, ternyata ia juga sangat emosional: ketika saya memposkan satu status di Facebook yang mengomentari cara orang-orang berpikir tentang LGBTQ, sejumlah komentar yang muncul ternyata sengit dan garang. Bukan cuma di Facebook, bahkan saya mendengar ada orang-orang yang tak senang dengan status saya tersebut dan mempertanyakan kekristenan saya. Masalahnya, kesengitan dan kegarangan tersebut (hampir?) selalu merupakan pengalihan dari isu utamanya: bagaimana seyogianya kita berpikir, kita beriman, dan kita hidup. Kali ini saya akan menggunakan ruang blog yang lebih leluasa ini untuk mengunjungi kembali topik tersebut.

Bagaimana Bersikap dalam Dialog Seputar LGBTQ

Ketika gereja berhadapan dengan isu-isu publik, pedoman pertama yang perlu kita pegang adalah kata-kata Rasul Paulus dalam 1Korintus 5:

12 Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 13 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah.

1Korintus 5 membahas tentang sikap etis anggota gereja. Rasul Paulus menasihati bahwa ada orang-orang yang di dalam gereja yang perlu dihindari karena sikap hidup mereka tidak sejalan dengan pengakuan iman mereka. Namun, Rasul Paulus dengan tegas membedakan sikap terhadap orang-orang di dalam gereja vs. orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus. Atas dasar apa orang Kristen mau menuntut orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus untuk hidup sesuai norma-norma kehidupan Kristen? Ini adalah permintaan yang absurd, bukan? Lagipula, sejak kaum Anabaptis pada masa Reformasi, saya kira kebanyakan gereja telah menolak penyamaan gereja dan negara. Gereja tidak berjuang untuk menegakkan negara Kristen.

Ketika berbicara soal pernikahan sejenis, ini berarti gereja seharusnya tidak memberkati pernikahan sejenis tetapi gereja juga tidak pantas menuntut orang-orang di luar gereja untuk tunduk kepada norma-norma etis Kristen. Ketika orang-orang Kristen di Indonesia menuntut negara untuk mengadopsi standar etis kekristenan sebagai hukum negara yang mengikat setiap warga tanpa peduli apakah dia Kristen atau bukan, tidakkah ini berarti kita telah mengadopsi pula pola pikir sejumlah kaum ekstremis lainnya yang berusaha mengganti dasar negara kita dengan dogma-dogma keagamaan? Sungguhkah ini jalan yang hendak kita tempuh, menanggalkan negara sekuler dan menuju negara agama?

Pedoman kedua yang perlu kita perhatikan adalah Roma 14:

1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.

Dalam hal-hal yang tidak esensial bagi keselamatan, tak terelakkan akan ada perbedaan pendapat di antara sesama orang Kristen. Untuk konteks Roma 14, hal yang tak esensial itu adalah apakah makanan yang sudah disembahyangkan boleh dimakan atau tidak dan apakah hari-hari raya tertentu boleh dirayakan atau tidak; dalam konteks diskusi kita, hal ini adalah sikap terhadap LGBTQ. Kenapa saya katakan demikian? Karena orang percaya dan diselamatkan ketika ia menerima Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamatnya (Roma 10:9-10), bukan ketika ia merangkul atau mengecam LGBTQ. Artinya, sikap terhadap LGBTQ tidak mengubah status keselamatan orang Kristen.

Kita tidak bisa menuntut semua orang berpikir secara seragam dan lantas orang-orang yang tidak sependapat dengan kita kita labeli bukan Kristen. Allah pun tidak menuntut keseragaman. Ada satu hal yang jauh lebih penting daripada keseragaman berpikir, yaitu kemandirian berpikir, sebab di situlah kedigdayaan kita sebagai makhluk yang diciptakan “menurut gambar Allah” (Kej. 1:27), sebagaimana dicontohkan oleh Martin Luther di depan Pengadilan Worms:

Kecuali kalau saya diyakinkan atas dasar kesaksian Kitab Suci atau akal sehat …, akal budi saya tunduk kepada Firman Allah … sebab bertindak berlawanan dengan akal budi tidaklah baik dan tidak bisa dibenarkan.

Allah menciptakan kita dengan akal budi yang memahkotai kedigdayaan kita sebagai manusia, ciptaan-Nya yang luhur, yang segambar dengan Dia sendiri. Ada baiknya (dan juga perlu) kita menggunakan akal budi kita secara bertanggung jawab, tidak reaktif terjun ke dalam berbagai debat kusir tak berujung sehingga kita begitu serunya berdebat dan melupakan identitas kita di dalam Allah dan panggilan-Nya untuk kita. Saya kira yang lebih menjadi masalah adalah orang-orang yang tidak mampu berpikir untuk dirinya sendiri, tidak mampu berpikir secara runut, lalu hanya membeo dan menyebarkan perseteruan.

Hindari hasrat menghakimi. Belajarlah untuk mendengarkan. Setiap orang datang dari latar belakang yang unik, dengan titik tolak yang unik. Saya kira dalam hal ini gereja tidak unik dengan masyarakat luas: banyak orang di dalam gereja suka beropini, tetapi tidak banyak yang terbiasa dengan dialog yang konstruktif; banyak yang lebih nyaman mendengarkan khotbah dan ceramah searah atau debat kusir saja tanpa perlu tiba pada saling-pemahaman dan keterbukaan. Ini perlu kita ubah.

Pedoman ketiga, dalam keterlibatan kita di dunia kita perlu tetap mengingat apa panggilan kita sebagai orang-orang Kristen, misalnya dalam Matius 5:44-48:

44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Orang-orang Kristen dipanggil untuk meneladani Allah, Bapak kita yang di surga, dan menjadi sempurna sama seperti Dia yang adalah sempurna. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama manusia – entah dia seiman atau tidak – dan dengan demikian sesama-sesama kita bisa melihat dan mengalami Allah di dalam kehidupan kita, merasakan kasih dan kebaikan-Nya melalui interaksi mereka dengan kita. Ini seyogianya menjadi pedoman bagaimana kita berinteraksi dengan setiap orang, termasuk juga sesama-sesama kita kaum LGBTQ.

Jadi, untuk merangkum ketiga pedoman yang saya sampaikan di atas kepada orang-orang Kristen dalam menyikapi isu LGBTQ:

  1. Kepada sesama kita di luar gereja: Jangan memaksa orang di luar Kristus untuk hidup sesuai nilai-nilai kristiani. Ini absurd.
  2. Kepada sesama kita di dalam gereja: Terima kenyataan bahwa ada keragaman pendapat; belajarlah untuk saling mendengar dan memahami.
  3. Kepada semua orang, entah ia sama atau tidak: Hiduplah sebagai teladan bagi sesama, tunjukkan kasih Allah kepada mereka. Bangun jembatan dan bukan tembok.

 

LGBTQ: Ajaran Alkitab tentang Tubuh dan Seks

Ada paham-paham yang memandang materi sebagai sesuatu yang buruk, terkutuk, harus disucikan, dan tunduk kepada roh yang superior dibandingkan materi. Karena tubuh adalah materi, maka tubuh adalah buruk, terkutuk, harus disucikan, dan tunduk kepada jiwa yang superior dibandingkan tubuh. Karena alat kelamin (penis, vagina) adalah bagian dari tubuh, maka kehadiran penis dan vagina pada tubuh seseorang bisa dianggap tak relevan dan perlu ditundukkan kepada jiwa orang itu yang mungkin saja memiliki gender berbeda dari alat kelaminnya. Tidak demikian dalam kekristenan.

Di dalam kekristenan tidak dikenal perpecahan antara materi dan roh manusia. Keduanya adalah satu paket yang sama. Materi sama baiknya dengan roh, tubuh tidak lebih terkutuk daripada jiwa, dalam pertobatan baik tubuh maupun jiwa sama-sama perlu disucikan dan diperbarui (Roma 6:13, Efesus 4:23-24), dan baik tubuh maupun jiwa sama pentingnya, yang satu tidak lebih rendah dibanding yang lain. Allah menciptakan manusia terdiri dari materi dan roh dan dalam perpaduan keduanya manusia hadir. Pada akhir zaman manusia bukan hanya memiliki roh tetapi juga tetap memiliki tubuh; baik roh maupun tubuh keduanya akan ada dalam kekekalan. Dengan demikian, ketika tubuh tidak inferior kepada jiwa, alat kelamin tak bisa begitu saja disalahkan dan dicap tidak cocok dengan jiwa yang menempatinya. Sebaliknya, bisa pula dikatakan bahwa kenyataannya tubuh itu memiliki alat kelamin tertentu – entah lelaki atau perempuan – dan itulah yang menjadi penentu gender si manusia. Untuk urusan penentuan gender, “jiwa” (atau apa pun itu yang mengatasnamakan “jiwa”) tidak memiliki hak veto atas tubuh.

Mengenai isu ini, saya kira Andy Crouch telah mengulasnya dengan sangat fasih dan lugas dalam Sex without Bodies. Berikut sepenggal artikel tersebut (cetak miring-tebal ditambahkan):

What unites the LGBTQIA coalition is a conviction that human beings are not created male and female in any essential or important way. What matters is not one’s body but one’s heart—the seat of human will and desire, which only its owner can know.

There is one other consistent position that Christians can hold, though we will hold it at great social cost, at least for the foreseeable future: that bodies matter. Indeed, that both male and female bodies are of ultimate value and dignity—not a small thing given the continuing denigration of women around the world.

Indeed, that matter matters. For behind the dismissal of bodies is ultimately a gnostic distaste for embodiment in general. To uphold a biblical ethic on marriage is to affirm the sweeping scriptural witness—hardly a matter of a few isolated “thou shalt not” verses—that male and female together image God, that the creation of humanity as male and female is “very good,” and that “it is not good that the man should be alone” (Gen. 2:18, NRSV).

Ada orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh bergumul dengan seksualitas mereka sebagai gay. Henri Nouwen – seorang pastor dalam Gereja Katholik Roma, akademisi, dan tokoh spiritual yang dihormati oleh banyak orang Kristen – adalah salah satunya. Lalu ada pula Justin Lee dan Wesley Hill. Kenyataan bahwa ada orang-orang semacam ini, yang sungguh-sungguh menunjukkan kehidupan kristiani yang luar biasa sementara mereka juga bergumul dengan seksualitas mereka membantu saya melihat dan mencoba memahami sisi-sisi lain dari dialog tentang LGBTQ di dalam gereja yang acapkali steril dan lebih dikobarkan oleh semangat perang salib daripada hasrat untuk mengasihi. Buku yang ditulis oleh Justin Lee, Torn: Rescuing the Gospel from the Gays-vs.-Christians Debate, dan buku yang ditulis oleh Wesley Hill, Washed and Waiting: Reflections on Christian Faithfulness and Homosexuality, saya kira merupakan karya-karya yang penting yang perlu dibaca oleh setiap orang Kristen yang ingin berkomentar tentang isu LGBT.

Bagaimana mendamaikan kenyataan bahwa (1) ada orang-orang yang memang hanya tertarik dengan sesama jenis dan tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis dan (2) pemahaman Kristen bahwa tubuh tidak bisa diveto oleh “jiwa” sebagaimana yang saya ulas di atas? Solusi yang ditemui oleh orang-orang Kristen yang bergumul dengan homoseksualitas mereka adalah hidup selibat.

Seks dan pernikahan bukan segalanya dan jelas bukan yang terpenting dalam kehidupan manusia. Bukan hubungan seks dan hidup pernikahan yang mendefinisikan identitas manusia. Ini lagi-lagi bisa dipahami dari ajaran Tuhan Yesus bahwa pada akhir zaman tubuh akan dibangkitkan, tetapi orang tidak kawin (Matius 22:30).

Solusi ini saya kira akan menjadi masalah bagi orang-orang yang memandang kebebasan mengekspresikan diri dalam hubungan seks sebagai hak mendasar dan komponen kunci bagi identitas serta kedigdayaan mereka. Namun saya tidak sedang berbicara kepada orang-orang di luar gereja. Bagi orang-orang yang hidup di dalam Kristus, yaitu orang-orang yang menerima otoritas Alkitab sebagai Firman Allah dalam hidup mereka, pemahaman soal prioritas seks dan pernikahan di dalam kehidupan menjadi penting. Allah memanggil kita untuk menjaga kekudusan hidup (Ibrani 12:14) dan menjadi sempurna, sama seperti Bapak kita yang di surga adalah sempurna (Matius 5:48).

Ketika hubungan seks tidak lagi menduduki takhta sebagai pengalaman maha-penting dan mutlak dalam kehidupan manusia, saya kira sejumlah isu soal hidup sebagai seorang gay dan sebagai seorang Kristen bisa diselesaikan, walau tentu ada pergumulan-pergumulan yang akan terus berlanjut.

Sebagaimana ditulis oleh Andy Crouch, kita manusia hidup dalam dunia yang rusak dan bersama segala makhluk kita menunggu-nunggu saatnya dunia dipulihkan kembali ke dalam tatanannya yang sempurna oleh Allah (Roma 8:18-23). Sementara itu, kita semua – heteroseksual, lesbian, gay, biseksual, transgender – kita hidup dalam pencarian yang masih terus berlanjut:

Along the way, we all will be queer, groaning as we await the redemption of our bodies. To the LGBTQIA alliance, add an H—for this is what it is to be fully, incompletely, expectantly Human.

Dalam pencarian ini, baiklah orang-orang Kristen menunjukkan teladan Allah di dalam kehidupan kita

  1. Terima orang lain apa adanya mereka. Tidak masuk akal jika kita orang-orang Kristen menuntut orang lain berubah menjadi sama dengan kita sebelum kita bersedia menerima mereka di dalam gereja. Jika itu terjadi, untuk apa gereja ada?
  2. Orang-orang Kristen perlu belajar mendengar dan memahami kisah setiap individu. Pada saat yang bersamaan, berhenti terlibat dalam debat-debat kusir dan adu status Facebook yang hanya saling-memanasi dan meninggikan tembok.
  3. Orang-orang Kristen perlu hidup sebagai saksi-saksi Kristus yang fasih menggunakan akal budinya dan pada saat yang bersamaan menunjukkan teladan hidup yang penuh kasih.

Justin Lee menulis:

Sadly, today’s churches are all too often unprepared to help people with these sensitive and complex situations. In their zeal to take a strong moral stand on sexuality, they have said and done things that only alienate the people who most need their support.

Jangan sampai kita begitu bersemangat berdebat dan “membela Tuhan” sampai-sampai kita lupa ada sesama manusia di hadapan kita yang butuh didengar, butuh dipahami, butuh dirangkul, butuh menerima anugerah Tuhan melalui kita. Konyol jika orang Kristen sibuk berdebat sana-sini dan beradu status Facebook sementara kita tengah gagal menjadi saksi Kristus bagi sesama kita manusia.

One thought on “Gereja dan Urusan LGBTQ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s