Otak Jangan Di-outsource


“Apa tidak boleh saya mengikuti pendapat seseorang karena saya menghormati dia?” seorang kawan di kelas MBA saya mati-matian menyanggah saya untuk membela dosen kami. Saat itu kami tengah berdebat apakah groupthink adalah sesuatu yang baik atau buruk. Sejumlah orang di kelas itu, termasuk dosen kami, memandang positif groupthink.

Groupthink adalah sebuah fenomena sosial-psikologis yang terjadi ketika orang(-orang) tidak mengutarakan pendapat pribadinya dan begitu saja mengiyakan apa kata orang lain (keterangan lebih lanjut a.l. bisa dibaca di Wikipedia dan Psychology Today). Bisa jadi orang(-orang) ini memang tidak berpikir atau memilih untuk tidak mengutarakan pemikirannya sendiri. Akibatnya, sebuah urun-rembuk mungkin dihadiri 5 orang atau 500 orang, tetapi yang berpendapat mungkin hanya 1-2 orang sementara orang-orang lainnya hanya nimbrung tanpa berkontribusi apa pun selain menyewakan anggukan dan hak suara mereka.

Si kawan ini berargumen, “Bagaimana kalau ada orang yang saya hormati – entah dia dosen atau pemimpin saya atau pendeta saya – dan karena rasa hormat saya, saya mengiyakan apa yang dia katakan?” Bagi saya, betapa besar pun rasa hormat saya, setiap pendapat yang diutarakan perlu saya cerna dulu dan ketika saya sudah mencernanya baru saya akan memutuskan apakah saya mendukung atau tidak mendukung pendapat itu. Ketika saya secara buta memberikan persetujuan saya kepada pendapat orang lain – betapa pun dia pantas dihargai – artinya saya sudah menonaktifkan otak saya dan meng-outsource proses berpikir saya kepada dia; saya menyerahkan kedigdayaan saya sebagai manusia kepada orang itu dan menjadi tak lebih dari corong yang tak perlu berotak.

Dalam hidup Anda, siapa yang berpikir untuk Anda?

Setiap orang bisa punya opini. Preman pasar yang tak bisa berhitung 3×6 pun bisa punya opini yang kuat tentang 1.001 hal mulai dari urusan harga BBM sampai krisis di Timur Tengah, tetapi kita jangan-jangan opininya tak lebih dari hasil membeo siaran radio yang diikutinya hari demi hari atau hasil mendengarkan celotehan Pak RW di pos hansip setiap pagi. Terlebih penting daripada mempunyai opini adalah kemampuan berdialog – membuka diri dalam pertukaran ide yang produktif hingga memperkaya khazanah pemahaman masing-masing pihak yang terlibat. Ini jelas berbeda dari si preman pasar yang mempunyai pemahaman yang kaku bahwa Pak RW dan siaran radio yang didengarnyan saban hari adalah sumber berita terpercaya sehingga apa pun yang didengarnya dari kedua sumber ini dengan mudah ia percayai dan siapa pun yang berpendapat berbeda tentu salah.

Kita, orang-orang yang terdidik, mungkin tidak mendapat pengetahuan kita dari celotehan Pak RW di pos hansip atau dari satu siaran radio; tetapi bisa jadi kita membentuk pemahaman kita tentang dunia tak lebih dari satu-dua situs yang rajin kita sambangi, plus khotbah yang kita dengar saban minggu. Kita begitu mempercayai situs-situs berita dan mimbar itu sehingga tanpa sadar kita menonaktifkan kekritisan berpikir kita dan menerima mentah-mentah apa pun yang disampaikan melalui situs-situs tersebut dan melalui mimbar tersebut. Jika ini sampai terjadi, saya kira ini berbahaya. Kita mengizinkan diri kita menjadi tak lebih dari alat propaganda yang tak lagi berpikir untuk dirinya sendiri.

Ketika itu terjadi, kita akan berpuas diri di dalam kotak berlabel yang disediakan untuk kita dan jangan-jangan kita pun ingin cari gampang, memasukkan semua orang dan opini yang kita jumpai ke dalam kotak-kotak dengan berbagai label yang sudah diproduksi dan dipasok untuk kita oleh situs-situs dan mimbar yang kita hormati tadi. Akibatnya? Dialog tak terjadi karena kita sibuk membubuhkan cap pada semua yang kita jumpai dan mengotak-ngotakkan semuanya.

Dalam satu tahun terakhir saya berulang kali merasa miris menjumpai orang-orang yang nyata-nyata sangat terdidik, tetapi sayangnya tak mampu juga berdialog secara produktif serta berpikir di luar kotak-kotak simplistik yang diproduksi dan dipasok kepada mereka oleh orang-orang dan situs-situs yang mereka hormati. Setelah beberapa waktu memikirkan hal ini, saya memberanikan diri untuk memulai satu kolom di blog saya yang saya namai “Arkhe”; di sini, dalam beberapa waktu ke depan, saya akan mencoba untuk memaparkan posisi saya tentang berbagai hal yang kontroversial, tetapi di sini saya akan mencoba mendemonstrasikan cara berpikir yang menurut saya lebih bertanggung jawab.

Tulisan-tulisan yang mengulas topik-topik yang kontroversial tentu tak terlepas dari bias-bias latar belakang saya dan perspektif saya sebagai seorang Kristen; karenanya saya kira di sini saya akan mencoba mendemonstrasikan bukan saja cara berpikir, tetapi juga cara beriman yang menurut saya relevan untuk masa ini. Saya berharap tulisan-tulisan ini bisa menjadi kontribusi yang sedikit-banyak menggugah para pembacanya untuk memberanikan diri berpikir secara lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s