City Light Church Jakarta


Saya kira setidaknya sudah setahun berlalu sejak saya pertama kali mendengar tentang @CLC_Jakarta dari @hendragmulia dan @andreoct. Kami tengah bercengkerama di SAAT Ministry Center tentang relevansi kehadiran gereja-gereja injili untuk Indonesia dan sejumlah isu lainnya ketika @hendragmulia menyebutkan nama gereja ini. “Yang diriin tuh anak-anak STTRII,” begitu kira-kira katanya, “tapi gayanya kontemporer. Lu kebayang ga kayak apa? Gua mah kagak. Ke sana gih. Kalau udah, trus ceritain ke kita-kita.”

Setahun berlalu. Rencana tinggal rencana. Tempat yang jauh dari pusat gravitasi aktivitas kami-kami ini merupakan kendala utama. Apalagi kegiatan studi banding saya sudah berakhir dan saya tidak lagi punya keperluan untuk menambah sampel gereja ke dalam studi saya. Lagipula, Cengkareng? Jauh amat ….

Sampai beberapa bulan lalu saya berkenalan dengan @StevenSutantro dan @DeasiSaragih yang beribadah di @CLC_Jakarta. Setidaknya, kalau ada teman, upaya ekstra untuk melangkahkan kaki ke Cengkareng yang nun jauh di sana tak lagi terasa terlalu berat.

Setelah beberapa kali membuat janji untuk menyambangi @CLC_Jakarta akhirnya pagi ini terwujud juga rencana itu. Berikut adalah kesan-kesan saya atas kunjungan perdana ke gereja ini.

Kehadiran di Dunia Maya
Dari keaktifan dan kualitas akun Facebook dan Twitter-nya yang sudah saya sambangi secara berkala sejak 2012, saya mempunyai kesan positif tentang gereja ini. Mereka jelas menyiapkan diri dengan baik untuk ditemukan oleh orang-orang yang menjadi target pelayanan mereka sesuai dengan apa yang mereka klaim: gereja untuk orang-orang yang tertolak oleh gereja.

Sebelum Ibadah Dimulai
Saya hadir sekitar pkl. 10.45. Di depan ruang ibadah ada meja yang ditata apik layaknya menyambut peserta seminar di hotel, menyajikan beberapa buklet dan brosur tentang gereja ini. Ada orang yang berdiri di dekat pintu masuk. Walaupun saya baru pertama kali hadir ke tempat ini, tetapi mereka hanya tersenyum ramah tanpa mencoba berinteraksi secara intrusif – seperti bersalaman atau berbasa-basi. Sungguh pendekatan yang elegan dan sopan.

Memasuki aula tempat ibadah akan dilangsungkan, saya menemukan di ujung sebelah kiri ada panggung. Rupanya itu adalah bagian depannya. Sepanjang ruangan ditata sekitar 10 meja bundar besar (pada akhir ibadah saya menemukan ternyata ada 15 buah meja) yang masing-masing dikelilingi 8 buah kursi, semuanya diatur menghadap ke panggung. Di atas meja tertata pinggan manis dengan 8 potong kue di atasnya, juga 8 gelas air mineral.

Sementara itu, di depan, dinding putih besar di belakang panggung ternyata digunakan sebagai layar proyeksi dengan ukuran proyeksi yang sangat besar. Sejak saya datang, layar itu terus menampilkan berbagai pesan yang dikemas dalam balutan multimedia yang ditata rapi dan profesional.

Sekitar pkl. 10.57, lampu ruangan diredupkan dan layar proyeksi mulai menampilkan video futuristik yang dikompilasi dari berbagai sumber mulai dari beberapa film Hollywood hingga animasi buatan sendiri yang sejalan dengan tema hari ini, “Beyond.” Menurut @StevenSutantro, video ini ditampilkan untuk menyiapkan dan menyinkronkan pikiran jemaat sejalan dengan tema. Video ini dikemas dengan sangat rapi dan profesional.

Ibadah (11.00-12.20)
Ibadah terdiri dari beberapa bagian sederhana:
11.00 Satu-dua patah kata pembuka dan doa pembuka
11.03 Puji-pujian
11.20 Pengumuman dari pendeta
11.22 Persembahan pujian
11.32 Khotbah
12.13 Persembahan pujian
12.18 Doa penutup
12.20 Makan siang

Ada dua bagian yang hendak saya komentari dalam ibadah ini: puji-pujian dan khotbah.

Saya tidak mengerti banyak tentang dunia musik dan lagu, tetapi saya merasa pemimpin pujian benar-benar menyiapkan dirinya dengan baik. Semua elemen puji-pujian terancang dan terpadu dengan sangat baik. Sangat jarang saya merasakan kehadiran pemimpin pujian yang begitu efektif dalam memimpin jemaat memuji Tuhan.

Peran pemimpin pujian didukung dengan baik pula oleh multimedia yang menampilkan setiap teks lagu. Teks berbahasa Indonesia disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris – begitu pula sebaliknya. Saya pikir ini membantu merangkul orang sedapat mungkin terlibat di dalam ibadah, walaupun mungkin mereka tidak mengerti atau tidak bisa menyanyikan lagunya.

Pada awal khotbah, Pdt. Jason Budiprasetya mempersilakan jemaat yang ingin mengambil minuman (kopi, teh, susu, air putih) untuk mengambilnya di meja yang disediakan di dalam ruangan; juga bagi yang ingin mencicipi kue yang tersaji di atas meja dipersilakan. Saya menemukan kesungguhan upaya merobohkan setiap rintangan bagi orang yang tidak suka bergereja untuk menemukan pengalaman bergereja yang bersahabat di komunitas ini.

Khotbah yang disampaikan tematis dan ekspositoris. Khotbah hari ini merupakan bagian terakhir dari tema 4 minggu “Beyond” sedangkan khotbah minggu depan akan mengawali rangkaian 5 minggu berikutnya “Unbelievable.” Jelas seluruh rangkaian telah dipersiapkan dengan baik. Bukan cuma tematis, isi khotbahnya dibawakan dengan ekspositoris: setia kepada pesan Alkitab, setia kepada genre, dibawakan secara kreatif, disampaikan dengan ilustrasi yang tepat dan mengena untuk konteks hidup jemaat urban di Jakarta.

Khotbah berdurasi sekitar 40 menit. Secara keseluruhan, dalam pengaturan waktu, saya terkesan dengan komitmen gereja ini untuk memulai dan mengakhiri ibadah tepat waktu: 11.00-12.20. Delapan puluh menit. Ini satu elemen lain yang seringkali diabaikan oleh gereja: menghargai waktu jemaat.

Seusai Ibadah
Seusai ibadah, disajikan zuppa soup untuk jemaat yang ingin tinggal. Ini sangat membantu menciptakan suasana kebersamaan. Jemaat yang ingin mendapatkan ringkasan khotbah di email mereka dipersilakan meninggalkan alamat email mereka pada pengurus di pintu keluar. Siapa yang terpikir melakukan hal semacam ini? Hal-hal kecil yang sungguh berkesan!

Bagi jemaat yang ingin memberikan persembahan atau mendapatkan informasi lebih lanjut seputar kekristenan, kehidupan sebagai orang Kristen, pelayanan CLC, dan hal-hal lainnya disediakan amplop persembahan dan formulir lainnya untuk mereka isi. Amplop dan formulir ini disediakan untuk setiap orang di masing-masing meja dan dapat dimasukkan ke kotak yang tersedia di pintu keluar.

Penutup
Secara umum, saya menemukan komunitas ini sebagai komunitas yang profesional dan bersahabat. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan sangat apik dan sopan; tidak intrusif, juga tidak berlebihan. Belakangan, antara terkejut dan tidak, saya juga mendapati bahwa ada juga ekstremis-ekstremis Kristen yang mengatakan bahwa gereja ini adalah gereja yang sesat. Bagi saya, saya pikir @CLC_Jakarta adalah jawaban yang dibutuhkan oleh Jakarta kontemporer.

Ini adalah gereja yang hadir dengan pesan Injil yang gamblang dan disajikan “bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk. 5:32). Ini adalah gereja yang tidak menempatkan kekuatan Injil di dalam pasungan tradisi, tidak juga terobsesi untuk menjadi seperti gereja lain dan menyontek kemasan orang tanpa punya esensinya; sebaliknya, inilah gereja yang tahu benar apa panggilannya dan memiliki keberanian untuk menghidupi panggilan itu – walaupun tidak populer. Seperti kata Tuhan Yesus, “Tetapi engkau, ikutlah Aku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s