Apa Kabar?


Bertahun-tahun yang lalu, saya berkantor di lantai paling atas dari sebuah gedung berlantai empat. Dengan ruangan pribadi yang dilengkapi pantry dan kamar mandi, saya jarang butuh keluar ruangan dan seringkali menghabiskan hingga 12 jam sehari di ruangan itu. Terkadang terlintas dalam benak saya, kalau terjadi apa-apa pada diri saya, butuh berapa lama ya sebelum ada orang yang curiga ada sesuatu yang salah terjadi pada saya dan mulai mencari saya. Beberapa jam? Rasanya tidak mungkin. Beberapa hari? Atau, beberapa minggu?

Kapan terakhir ada orang yang bertanya “Apa kabar?” dengan tulus? Ketika pertanyaan ini ditanyakan kepada saya, kebanyakan pertanyaan ini jatuh ke dalam salah satu dari dua kriteria. Pertama, pertanyaan basa-basi sekadar sebagai pembuka percakapan. Apa pun jawabannya, tidak akan terlalu mempengaruhi percakapan yang terjadi selanjutnya. Kedua, pertanyaan retoris yang hanya akan dijawab dengan jawaban-jawaban yang lebih superfisial lagi semacam “Luar biasa!” dan “Dahsyat!” Sejujurnya, orang-orang yang menjawab “Apa kabar?” dengan cara kedua ini selalu mengingatkan saya kepada Pecel Lele Lela, sebuah restoran lele inovatif yang pelayannya selalu menyapa setiap pengunjung yang baru datang dengan seruan, “Selamat datang! Selamat pagi di Pecel Lele Lela!”, terlepas dari pukul berapa pun kita datang.

Karena perannya sebagai pembuka percakapan, pertanyaan “Apa kabar?” ini seringkali memang dilematis bagi kita yang ditanya. Seberapa jauh kita akan menjawab dengan jujur? Seberapa jauh sang penanya mengharapkan jawaban yang jujur? Seberapa dalam kita akan menyediakan jawaban yang jujur? Kriteria-kriteria yang terkait adalah seberapa baik hubungan sang penanya dengan yang ditanya dan sebaik apa sang penanya bisa menangani jawaban dari diri yang ditanya.

Maka, sebuah pertanyaan pun terlintas lagi dalam benak saya: berapa kali ya dalam setahun saya berhadapan dengan pertanyaan “Apa kabar?” yang benar-benar tulus dan mendalam? Berapa banyak dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa saya jawab dengan sejujur-jujurnya karena kedua kriteria di atas terpenuhi? Mungkin hanya beberapa kali saja. Sangat jarang. Saya sempat menyimpulkan, walaupun secara fisik saya tidak lagi terlalu terisolasi seperti saat saya berkantor di lantai 4 tadi, tetapi secara sosial kondisinya mungkin tidak terlalu berbeda. Dan, mungkinkah ini memang realita yang dihadapi banyak orang di masa ini. Tentu, ada kondisi-kondisi yang berbeda seperti yang dituliskan @TonySchwartz dalam artikelnya What If You Could Truly Be Yourself at Work? di HBR Blog Network: ada orang-orang yang sangat beruntung mendapatkan komunitas yang otentik sebagai bagian integral dalam kehidupan profesional mereka. Tetapi, seberapa banyak? Jangankan dalam kehidupan profesional, seringkali dalam kehidupan personal dan komunal (!) pun, “komunitas” itu tidak kita alami, bukan?

Saya sangat bersyukur, pada hari ketika saya tengah memikirkan hal ini, saya menemukan bahwa ternyata apa yang saya pikirkan tentang kurangnya pertanyaan “Apa kabar?” yang otentik dalam kehidupan saya sama sekali salah. Hari itu adalah hari yang cukup berat, kering, dan penuh distraksi. Tetapi, hari itu juga diawali dengan kedatangan seorang kolega yang bertanya, “Apa kabar?” Dan ia adalah orang yang bertanya dengan telinga yang terbuka, dengan waktu yang memang ia sediakan untuk menerima respons atas pertanyaan itu jika saya memang ingin meresponinya, dan dengan pemahaman yang relevan tentang apa yang saya hadapi. Tidak hanya sampai di situ, hari itu juga diakhiri dengan seorang kawan yang menelepon sekedar untuk bertanya, “Apa kabar?” Dan kawan ini adalah juga seorang yang memang terbuka, perhatian, bersedia mendengar, dan punya kapasitas personal maupun profesional untuk menerima jawaban dari pertanyaannya, “Apa kabar?”

Sebuah pertanyaan yang sederhana. Bisa jadi ia hanya pemanis bibir, tetapi ia juga bisa jadi sebuah pertanyaan yang kuat yang mempunyai efek katartik yang hebat. Baik sang penanya maupun yang ditanya sama-sama punya kontribusi untuk menentukan akan jadi apa pertanyaan “Apa kabar?” dalam percakapan mereka – dan tentunya, dalam hidup mereka. Saya bersyukur, ada orang-orang yang dengan tulus bertanya, “Apa kabar?” kepada saya. Saya pikir ini adalah satu hal kecil yang membuat hidup saya menjadi indah dan terasa bermakna. Bahwa hidup ini berharga. Ada orang-orang yang peduli. Sungguh peduli.

One thought on “Apa Kabar?

  1. ada kalimat ‘hanya pria yang bisa membuat wanita merasa jadi wanita’ (cmiiw) aku juga juga setuju bahwa manusia harusnya dapat memanusiakan manusia lainnya. penerimaan dan perhatian itu, sungguh dapat membuat perubahan positif dan jadi dorongan utk menikmati hidup jadi lebih hidup..lebih ada kilau dan warnanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s