Komunitas


Komunitas itu penting, kata orang. Tapi saya tidak pernah menyadari betapa pentingnya komunitas bagi saya sampai saya kehilangan komunitas itu. Dalam retrospeksi, saya merasa sangat beruntung dalam hampir setiap fase kehidupan saya dikelilingi orang-orang yang sangat mendukung dan mendorong pertumbuhan saya.

Bertahun-tahun yang lalu, saya berencana studi Ph.D. Persiapan demi persiapan dilakukan, tetapi lalu saya mengurungkan niat saya. Tak kurang dari 3 tahun berbagai persiapan dilakukan, tanpa saya melangkah untuk mendaftarkan diri ke universitas mana pun. Di tengah-tengah semua persiapan itu, saya pindah kantor. Di kantor yang baru, dengan suasana yang baru, saya cepat kehabisan tantangan. Salah satu ekses yang tak terduga adalah kendornya semangat saya untuk melanjutkan studi (dan juga untuk banyak hal lainnya). Sampai kemudian saya pindah ke tempat lain yang begitu kaya dengan stimulus, tantangan, dan peluang untuk terus bertumbuh. Saya terpicu kembali dan dalam hitungan hari (!) berada di tempat baru, semua persiapan kembali saya kebut serta surat-surat aplikasi pun mulai dipersiapkan dan dalam hitungan bulan sudah dikirimkan.

Faktor apa yang menyebabkan kemalasan yang merajalela dalam kehidupan saya di satu periode tertentu dan juga membangkitkan semangat yang menggebu-gebu dalam periode yang lain? Saya menemukan jawabannya ternyata sangat sederhana: komunitas.

Berada di komunitas yang tepat ternyata sangat penting bagi saya dalam menentukan arah dan mengases makna kehidupan. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang tepat, membawa diri kepada komunitas yang tepat, mengondisikan lingkungan dan stimulus yang optimal bagi pertumbuhan pribadi adalah hal-hal yang sangat penting bagi saya.

Walaupun tanpa komunitas yang tepat, orang mungkin melihat diri kita berprestasi. Orang mungkin melihat kita sebagai orang yang multi-talenta dan multi-potensi. Orang mungkin mempercayakan banyak tanggung jawab dan jawaban kepada kita. Tetapi, kita sendiri tahu seberapa besar kapasitas kita dan potensi kita untuk bertumbuh – dan untuk pertumbuhan itu kita membutuhkan komunitas yang tepat. Kita bisa bertanya: Benarkah semua tanggung jawab dan jabatan ini sesuai dengan kapasitas saya? Akan optimalkan saya merealisasikan potensi saya jika saya menerima tawaran ini?

Saat kita berada di tempat yang salah pun, orang mungkin tetap melihat kita berada dalam posisi yang terhormat. Hingar-bingar yang meriah di sekitar kita dan gemerlap lampu sorot mudah membuat diri kita terbuai, terlena, hingga akhirnya tersesat. Kita sendiri bisa melihat ke dalam diri kita dan bertanya: Inikah cara terbaik (dan inikah tempat terbaik) saya mempersembahkan diri saya (dan kemampuan saya, dan potensi saya) kepada Tuhan?

Bagi orang yang hanya melihat sekilas, tentu berada di bawah sorot lampu lebih baik (orang mungkin suka menggunakan kata “lebih berhasil”, “lebih maju”, atau bahkan “lebih menjadi berkat”) daripada berada di tengah keremangan; berada di tengah hingar-bingar tentu lebih baik daripada terkurung kesepian. Tetapi, validkah penilaian sesaat semacam itu?

Saya pikir, ketika kita melihat ke belakang dan menilai kembali perjalanan kita, melihat ke dalam dan merefleksikan potensi kita, melihat ke depan dan menggumulkan panggilan Tuhan bagi hidup kita; maka kita akan mempunyai kekayaan perspektif yang unik terhadap hidup kita sendiri. Jika kita dengan kesungguhan melakukan retrospeksi, introspeksi, dan prospeksi itu, maka kita akan punya keteguhan untuk mengambil langkah-langkah yang unik dan membuat keputusan-keputusan yang tak populer, tetapi dengan pemahaman yang komprehensif tentang satu konteks yang paling penting bagi pengambilan keputusan semacam itu: hidup kita di hadapan Tuhan.

Salah satu langkah yang perlu kita ambil adalah dengan sengaja membawa diri kepada komunitas-komunitas yang tepat, dengan sengaja mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang tepat. Mungkin ini terdengar positif dan menyenangkan. Tetapi, di sisi lain, ini juga berarti dengan sengaja kita perlu membawa diri kita keluar dari komunitas-komunitas yang tidak tepat dan waspada terhadap mereka yang hanya bisa menyedot segala energi dan kemampuan kita tanpa memberikan zat hara dan oksigen bagi pertumbuhan kita.

Perpisahan mungkin menyakitkan dan menyedihkan, tetapi mungkin juga membawa kelegaan dari kesesakan yang sudah lama menghimpit. Seorang kawan berkata, “Tempat ini adalah TK buat kita. Sudah saatnya kita melanjutkan ke SD.” Ada panggilan yang perlu kita penuhi dan seandainya pun komunitas & orang-orang yang di sekitar kita menolak untuk bertumbuh, itu bukan pembenaran bagi kita untuk juga menolak bertumbuh demi kenyamanan kita tetap berada di sekitar mereka yang tak bertumbuh.

Mungkin ada baiknya kita bertanya secara jujur kepada diri sendiri, “Siapa saya?” Dan salah satu jawaban yang paling otentik mungkin berbentuk pertanyaan juga, “Siapa orang-orang di sekitar saya? Di komunitas mana saja saya terlibat?” Sebagai pertanyaan tindak-lanjut, kita bisa bertanya, “Sungguhkah saya ingin dibentuk menjadi seperti orang-orang ini? Sungguhkah saya mengizinkan komunitas ini mencetak saya menurut gambar dan rupanya?”

Itulah yang komunitas lakukan. Itulah alasannya kenapa kita membutuhkan komunitas. Itu jugalah alasannya ada komunitas-komunitas yang perlu kita hindari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s