“Saya Buta Huruf, Bolehkah Saya Percaya Tuhan Yesus?”


Seorang nenek yang baru mendengar Kabar Baik di usianya yang senja bertanya lirih, “Nak, saya mau percaya sama Tuhan Yesus, tapi saya buta huruf … apakah bisa?” Ia khawatir, karena ia melihat kekristenan dan ibadah Kristen begitu identik dengan Alkitab. Jika membaca saja ia tak bisa, lantas bagaimana bisa menjadi seorang Kristen?

Kalau pada hari ini kita mendengar kata “pembinaan” di gereja, hampir bisa dipastikan kita memiliki pemahaman bahwa pembinaan itu adalah sesuatu yang bersifat kognitif. Ada informasi yang disampaikan, ada pemahaman yang ingin dibangun melalui proses atau kegiatan yang disebut pembinaan itu. Tapi, bukankah tidak semua orang bisa dibina dengan cara demikian? Dan juga, bukankah pembinaan yang cuma satu model semacam itu adalah pembinaan yang termiskinkan?

Walaupun banyak orang terbiasa duduk di kelas, ada juga orang-orang yang sulit belajar kalau ia hanya duduk, diam, dan mendengarkan orang lain berbicara. Walaupun ada orang-orang yang dengan mudah mencari buku lalu belajar secara mandiri, bagi kebanyakan orang yang saya kenal hal ini adalah tantangan besar meski mereka berpendidikan relatif tinggi – belum lagi kalau kita memperhitungkan mereka yang buta huruf seperti nenek di atas tadi. Lantas, pertanyaannya: bagaimana gereja menjangkau dan membina mereka ini? Apakah pembinaan dan pertumbuhan yang maksimal hanya bisa digapai melalui proses pembinaan yang kognitif?

Untuk itulah ada kalender gereja.

Apa itu kalender gereja? Kalender gereja bukanlah kalender yang dipakai untuk menjalani kehidupan sehari-hari (mis. musim menuai, hari-hari pasar, dsb.). Kalender gereja tidak memiliki penanggalannya sendiri (mis. 5 atau 7 hari seminggu, 12 atau 13 bulan setahun, dsb.). Singkatnya, kalender gereja tidak dibuat berdasarkan siklus hidup manusia dan ritme kehidupan sosial masyarakat tertentu.

Kalender gereja adalah sebuah siklus tahunan yang dibuat sebagai panduan bagi orang Kristen mengingat dan menghayati momen-momen penting dalam kehidupan Tuhan Yesus – dan juga momen-momen penting bagi kehidupan kita sebagai orang beriman. Dengan demikian, hari-hari dalam kalender gereja hanya terdiri dari hari-hari Minggu tertentu dan beberapa hari raya Kristen yang jatuh di luar hari Minggu seperti Natal, Jumat Agung, dan Hari Kenaikan Tuhan Yesus.

Siklus sebuah kalender gereja dimulai pada hari Minggu Adven I (4 hari Minggu sebelum Natal 25 Desember) dan berakhir pada Minggu Kristus Raja. Pada tahun 2012, karena 2 Desember adalah Minggu Adven I, maka hari ini adalah Minggu Kristus Raja.

Minggu-minggu yang dikhususkan ini adalah saat-saat di mana gereja biasanya menggunakan liturgi yang khusus, khotbah juga ditemakan secara khusus untuk mengingatkan jemaat tentang karya Kristus bagi keselamatan kita dan momen-momen khusus dalam perjalanan iman kita. Dalam sejumlah tradisi, hari-hari Minggu ini dipadankan dengan warna tertentu, misalnya: ungu untuk minggu-minggu adven dan pra-Paskah, putih untuk Hari Natal dan Paskah, merah untuk Jumat Agung, dan sebagainya. Warna-warna ini tercermin dari kain yang digantungkan pada mimbar, kain yang diselempangkan pada salib, jubah / stola yang dikenakan oleh pendeta, dan pada sejumlah aksesoris lainnya.

Kalender gereja ini, beserta warna-warna dan aksesoris yang digunakan, semua itu adalah alat bantu bagi umat untuk belajar dan bertumbuh di dalam iman. Pertumbuhan terjadi bukan hanya di dalam kelas. Ada banyak sarana yang bisa dipakai oleh gereja sehingga pertumbuhan iman bisa dinikmati bukan hanya oleh mereka yang “doyan” belajar dan fasih membaca, tetapi juga oleh nenek buta huruf tadi.

Mulai minggu depan, kita akan mengawali kembali satu siklus kalender gereja, satu periode yang penuh dengan perayaan, penuh dengan simbol, dan penuh dengan makna. Dengan mudah, semua itu bisa berlalu begitu saja seperti air yang dituangkan ke telapak tangan kita dan segera tercurah melalui sela-sela jari kita. Hanya serangkaian peristiwa yang kita lalui secara terburu-buru karena kesibukan kita menyongsong dan mempersiapkan Natal. Lalu, setelah satu-dua hari Natal, kita terburu-buru pula berbenah-benah dan mempersiapkan diri untuk bergegas berlari-lari kepada hari Paskah.

Pernahkah kita sadari bahwa Natal dan Paskah kita – bahkan, seluruh kehidupan kita sebagai orang beriman – akan jauh lebih kaya makna, akan jauh lebih bergizi, jika kita mendekatinya secara perlahan-lahan, penuh dengan penghayatan, sambil mengunyah dengan nikmat setiap menu, mulai dari hidangan pembuka, makanan utama, sampai pencuci mulut.

Bagaikan sebuah jamuan makan, kalender gereja bukanlah hidangan warteg yang dalam sekali pesan semua makanan dituangkan di satu piring untuk dilahap dalam satu porsi besar. Kalender gereja dirancang sebagai sebuah fine dining, sebuah rijstaffel. Bukan hanya untuk mereka yang terbuang, tak berpendidikan, dan buta huruf. Tapi juga untuk Anda. Dan untuk saya. Mari, datang dan nikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s