Makna Hidup


Mungkin manusia memang membutuhkan cinta untuk bertahan hidup. Mungkin manusia butuh melihat dirinya berdampak secara langsung kepada orang-orang di sekitarnya dan bukan cuma secara abstrak kepada jutaan orang yang tak dikenalnya. Sebab, pada akhirnya, bukankah hidup manusia seperti asap yang sekarang ada lalu lenyap dalam sekejap?

Sepuluh tahun yang lalu, saya memiliki banyak idealisme yang rasanya hanya milik saya seorang. Ada begitu banyak masalah yang terlihat, tetapi kok sepertinya tidak ada orang yang menangani masalah-masalah itu? Saya merasakan panggilan-panggilan yang unik untuk berbuat ini dan itu, untuk berjuang seraya mengambil pilihan-pilhan yang tidak populer dan membuat perubahan-perubahan signifikan dalam hidup. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mendapati bahwa ternyata keprihatinan dan panggilan saya jauh dari unik. Ada juga banyak orang yang memiliki keprihatinan serupa, panggilan serupa … dan mereka bekerja dengan caranya masing-masing.

Tetapi, jerih lelah membuat perubahan nampaknya tak akan ada akhirnya. Sungguhkah apa yang saya perbuat ini akan bertahan dan membuat perubahan yang bermakna? Sungguhkah saya dibutuhkan untuk membuat perubahan itu, atau jangan-jangan tanpa saya pun sudah ada banyak orang lain yang mengerjakan hal ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini semakin lama semakin mengganggu. Pada intinya, saya bertanya: kontribusi unik apa yang membuat hidup yang satu ini dapat dibenarkan?

Dalam pencarian saya, saya terpikir untuk mencoba menelaah hal ini secara terbalik. Maka, saya bertanya kepada Google: catatan bunuh diri macam apa yang ditinggalkan oleh orang-orang yang sukses / terkenal? Ternyata ini adalah upaya yang efektif. Dari semua jawaban yang saya dapatkan, ada satu yang sangat singkat dan padat, yang nampaknya bisa mewakili kebanyakan jawaban lainnya. Itulah jawaban dari George Eastman (12 Juli 1854 – 14 Maret 1932), inventor film 35 mm dan pendiri Eastman Kodak Company: “To my friends: My work is done. Why wait?”

Beberapa waktu berselang, saya mendapati komentar serupa dari Einstein. Ia tidak bunuh diri, tetapi David E. Duncan dalam artikelnya di New York Times, yang disarikan dari TED Book yang ditulisnya, When I’m 164, menceritakan, “As [Einstein] lay dying of an abdominal aortic aneurysm in 1955, he refused surgery, saying: “It is tasteless to prolong life artificially. I have done my share, it is time to go. I will do it elegantly.”

Pada titik mana saya bisa mengatakan, “My work is done” atau “I have done my share”? Apa yang menjadi bidang kontribusi saya dalam hidup ini?

One thought on “Makna Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s