Janji Jabatan Penatua yang Mustahil Dipenuhi


Setiap 3 tahun semua jemaat anggota Sinode Gereja Kristus (GK) mengganti seluruh jajaran pengelolanya: Majelis Sinode, Majelis Jemaat, hingga para badan pengurus (BP) yang membantu Majelis Jemaat menjalankan tugasnya sehari-hari. Majelis Jemaat yang terdiri dari penatua, penatua khusus, dan pendeta adalah pemimpin di masing-masing lokasi Gereja Kristus (Tata Dasar, Pasal 7 & 8). Inilah sekelompok orang yang memiliki 19 jenis tugas dan wewenang, termasuk namun tidak terbatas pada “[m]emimpin [j]emaat untuk melaksanakan panggilan dan tugas Gereja” (Tata Laksana, Bab 11, Pasal 41, No. 4). Untuk menjalankan tugas dan wewenangnya, Majelis Jemaat berpegang pada Tata Gereja Sinode GK yang terdiri dari Tata Dasar (kata lain dari “Anggaran Dasar” untuk Gereja) dan Tata Laksana (kata lain dari “Anggaran Rumah Tangga” untuk Gereja). Pertanyaannya, bagaimana kalau orang-orang yang diberikan 19 jenis tugas dan wewenang ini tidak mengerti – apalagi mungkin tidak pernah membaca – Tata Dasar dan Tata Laksana yang menjadi aturan main mereka dalam menjalankan tugas mereka?

Hal ini menjadi nyata bagi saya ketika beberapa tahun silam saya mendapat surat dengan kop Sinode GK yang bunyinya kira-kira begini, “Berdasarkan Tata Gereja Sinode Gereja Kristus Bab [x] Pasal [y] Butir [z] tentang [ABC], dengan ini kami mengundang Saudara untuk menghadiri Persidangan Majelis Sinode Gereja Kristus ….” Masalahnya, bab [x] itu memiliki beberapa pasal, tetapi tidak termasuk pasal [y]. Pasal [y] terletak pada bab lain. Lebih parahnya lagi, baik bab [x] maupun pasal [y] sama-sama tidak mengatur tentang hal [ABC] yang disebutkan itu. Tragis, bukan?

Nah, belakangan ini satu pertanyaan yang seringkali menyadarkan saya betapa berurat-akarnya masalah ini: Bolehkah seorang yang bukan anggota GK menjabat dalam BP di sebuah jemaat GK? Aneh sekali, secara umum diyakini seyakin-yakinnya bahwa 100% BP harus anggota GK, kecuali untuk bagian remaja (RGK) yang karena pertimbangan usia, boleh saja sekian persen (biasanya yang disebutkan adalah 50%) BP-nya bukan / belum menjadi anggota GK karena memang usianya belum cukup untuk dibaptis dewasa / disidi. Tetapi, bukan itu yang dinyatakan oleh Tata Laksana.

Tata Laksana Sinode GK Bab 13 Pasal 61 tentang “Badan Pembantu Jemaat” No. 2 Butir b(3) menyatakan, “Yang dapat dipilih dan diangkat sebagai anggota Bagian, Badan, Panitia adalah anggota Jemaat Gereja Kristus atau simpatisan namun komposisinya tidak melebihi 25 % dan yang tidak berada di bawah penggembalaan khusus.” Artinya, kalau satu bagian – entah itu Remaja, Pemuda, Diakonia, Dana Pemakaman, atau Kebaktian Umum sekalipun – memiliki 8 orang BP, maksimum 2 di antaranya boleh bukan anggota GK. Bolehkah 2 orang yang bukan anggota GK ini menduduki jabatan apa saja di BP, atau hanya boleh sebagai anggota BP? Butir b(2) menyatakan, “Yang dapat dipilih sebagai ketua, sekretaris, bendahara adalah anggota Jemaat Gereja Kristus dalam Jemaat yang terkait dan yang tidak berada di bawah penggembalaan khusus.” Jadi, tiga jabatan inilah yang tidak boleh diduduki oleh mereka yang bukan anggota GK, tetapi selebihnya terbuka tanpa batasan.

Tidak dibutuhkan seorang S.H. untuk menafsirkan Tata Gereja edisi 2007 ini yang bahasanya cukup lugas dan sudah lebih sederhana daripada edisi sebelumnya. Tata Dasar dan Penjelasan Tata Dasar edisi kali ini bahkan sama sekali tidak lagi mencantumkan bahwa bentuk Sinode Gereja Kristus adalah sebuah gereja “presbiterial-sinodal” yang mungkin merupakan frasa tersulit yang perlu dijelaskan dalam Tata Gereja edisi sebelumnya. Namun, setiap orang penatua pada saat diteguhkan ke dalam jabatannya telah berjanji di hadapan Allah dan jemaat-Nya untuk setia menjalankan panggilan mereka sebagai penatua dengan antara lain berpegang pada Tata Gereja Sinode GK. Tanpa memahami, bahkan tanpa pernah membaca dokumen sederhana ini, bagaimana mungkin mereka bisa begitu ringan mulut mengucapkan janji kudus itu? Sebegitu ringankah janji jabatan itu terlontar – di hadapan Allah dan jemaat-Nya – bahkan ketika kealpaan mereka membuat janji yang mereka ucapkan itu menjadi mustahil mereka penuhi?

2 thoughts on “Janji Jabatan Penatua yang Mustahil Dipenuhi

  1. Dibutuhkan kerendah hatian dan kesungguhan seorang pejabat gerejawi dalam menjalankan tugas2 gerejawi dan pemahaman yg betul akan Tager. Tak jarang posisi tersebut dijadikan ajang kesombongan diri. Bagaimana mau mempelajari Tager kalau para pejabat disibukkan dgn rapat dan rapat lagi :D.

    1. Terima kasih. Saya setuju soal kerendahan hati dan kesungguhan dalam menjalankan tugas-tugas gerejawi. Namun, untuk urusan rapat, saya pikir itu adalah bagian tak terpisahkan dari kerja-tim dan kepemimpinan-kolegial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s