Gereja Adalah Orangnya …


Sebuah lagu sekolah Minggu yang sederhana: “Aku gereja. Kau pun gereja. Kita sama-sama gereja …. Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya: gereja adalah orangnya.” Dalam kesederhanaannya, lagu ini mengingatkan saya kembali tentang makna bergereja setelah belasan tahun tenggelam dalam berbagai kesibukan administratif dan organisatoris di gereja.

Dalam beberapa bulan terakhir, setiap Minggu pagi saya bangun tidur dengan dihantui oleh satu pertanyaan ini: saya akan beribadah di gereja mana hari ini? Ada gereja yang khotbahnya bagus sekali. Tetapi, kalau cuma untuk khotbahnya, untuk apa saya perlu datang beribadah di tempat itu? Saya bisa beli CD khotbahnya saja lalu saya dengarkan di rumah. Ada gereja yang banyak orangnya dan segala macam seluk-beluknya sudah saya kenal dengan baik. Tetapi, pengenalan saya membuat kehadiran saya terkadang jadi melelahkan karena orang melihat saya dengan berbagai atribut dan kepentingan – sulit, kalau bukan mustahil, untuk memiliki perbincangan pribadi tentang hal-hal yang benar-benar penting bagi saya di tempat ini.

Di tengah-tengah kondisi semacam itu, dua minggu terakhir ini telah menjadi minggu-minggu yang memberikan kesegaran bagi saya. Nampaknya, saya telah menemukan sebuah komunitas yang cukup pas untuk saya. Di dalam ibadah Minggu, untuk pertama kalinya (mungkin dalam belasan tahun terakhir) saya duduk dikelilingi kawan-kawan di kiri maupun kanan saya. Setelah ibadah, kami bisa berbincang-bincang 1-2 jam tentang hal-hal yang sesungguh-sungguhnya menjadi minat kami bersama. Menemukan orang-orang yang seminat saja sudah sulit, apalagi menemukan komunitas di mana saya bisa senyaman ini membicarakan hal-hal yang memang saya minati tanpa harus diencerkan.

Dengan banyaknya pilihan gereja, ada faktor-faktor esensial untuk memilih di mana saya akan berkomunitas: doktrin dan liturgi adalah dua di antaranya. Tetapi, setelah semua faktor esensial itu disortir, pada akhirnya keberadaan teman-teman dan orang-orang yang seminat dan sepanggilan nampaknya adalah faktor penentu yang sangat signifikan. Saya bersyukur atas komunitas yang Tuhan sediakan ini untuk tempat bertumbuh dan mengalami kembali keindahan sebuah komunitas yang otentik, sebuah komunitas di mana saya bisa hadir sebagai saya.

One thought on “Gereja Adalah Orangnya …

  1. Well said, Andrea! Gereja adalah orangnya… it’s all about community. I have been going through a journey of “church seeking”. Ketika orang bertanya “what kind of church do you want?”–it’s always hard to answer. At the end of the day, it is all about the community. I left a church that theologically was a good fit, liturgically (its worship style) was one that I liked, programmatically was very much well done; however I still had to leave because I felt that its community was not welcoming and after more than two years I still was an outsider. Anyways, just wanted to say I dittoed all you articulated here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s