Hasrat Menikmati Hidup


Pagi ini, saya membaca Lukas 12:13-21. Perikop itu diberi judul “La parabole du riche déraisonnable” (Eng: “The Parable of the Unreasonable Rich”) oleh Alliance Biblique Français (NBS, la Nouvelle Bible Segond). Pemilihan kata déraisonnable mengejutkan saya. Dalam TB-LAI, kita biasa menggunakan kata “bodoh” untuk hardikan Allah pada ayat 20, “Hai engkau orang bodoh!” Tetapi, NBS mengambil pilihan yang tegas dan kontras.

Pemilihan kata “déraisonnable” ini mengontraskan ayat 17, “Il raisonnait …” (Ind: ia bernalar) dengan ayat 20, “Mais Dieu lui dit: Homme déraisonnable …!” (Ind: “Tetapi Allah berkata kepadanya: Hai engkau orang tak bernalar …!”) Kontras, bukan? Ia kira ia tengah bernalar, tetapi Allah bertanya, “Di mana nalarmu? Di mana akal sehatmu?”

Orang kaya ini baru saja membaca laporan kekayaannya dan mendapati kekayaannya itu berlimpah-ruah. Ia merasa ia hanya perlu memperbesar gudang-gudangnya untuk memberi tempat bagi kekayaannya yang terus semakin besar dan menikmati hidupnya, “… Kukatakan kepada diriku sendiri: Engkau beruntung! Segala yang baik sudah kaumiliki dan tidak akan habis selama bertahun-tahun. Istirahatlah sekarang! Makan minumlah dan nikmatilah hidupmu!” (Luk. 12:19, BIMK).

Apa yang penting dalam hidup? Saya mendapati seiring dengan berlalunya waktu, mimpi orang kaya tak berakal itu juga berangsur-angsur menjadi mimpi saya. Lagipula, bukankah itu yang hari ini dijejali kepada kita dan diimpikan banyak orang? Iklan, buku, seminar, berbagai layanan menawarkan kita mengembang-biakkan uang kita sedemikian rupa untuk pensiun muda dan menikmati waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Dolce far niente, kata Elizabeth Gilbert dalam Eat. Pray. Love. Hampir 1 abad yang lalu, John Maynard Keynes, dalam bukunya Economic Possibilities for Our Grandchildren (1930) juga menyodorkan gagasan bahwa pada tahun 2030 manusia hanya butuh bekerja 15 jam per minggu. Richard A. Posner, dalam ulasan terhadap buku How Much Is Enough?: Money and the Good Life karya Robert Skidelsky dan Edward Skidelsky, mengomentari latar belakang pemikiran Keynes demikian:

His essay is very English, because the traditional aspiration of the English upper class was not to work at all. Keynes, middle- rather than upper-class, worked hard all his life, but he was highly cultivated, a member of the Bloomsbury set, a balletomane, an admirer of the ”good life” in a distinctively English sense unrelated to material comfort.

Jadi, rupanya keinginan untuk terus bersenang-senang, tidak perlu bekerja, dan menikmati hidup tanpa perlu melakukan apa-apa adalah satu hasrat yang terjadi lintas-budaya dan lintas-waktu. Tetapi, saya bertanya-tanya, benarkah kita akan mendapatkan kepuasan dengan tidak melakukan apa-apa dan menikmati hidup untuk diri kita sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s