Menjaga Hidup Tetap Sehat di Sekitar Sampah Kehidupan


Hidup kita dikelilingi sampah. Sampah-sampah itu berusaha masuk ke dalam hidup kita, membuat hidup kita menjadi kotor, bau, dan tidak menyenangkan. Bentuk sampah itu banyak: kejadian-kejadian buruk, orang-orang berkepribadian tak menyenangkan, tindakan-tindakan yang disengaja maupun tak disengaja menyebabkan gangguan dalam hidup kita. Tetapi, kenyataan bahwa hidup kita dikelilingi sampah dan bahwa sampah-sampah itu berusaha masuk ke dalam hidup kita tidak berarti kita harus menerima semuanya dengan lapang dada dan kepasrahan. Jauh dari itu.

Tak heran pemikiran di atas menyeruak dalam benak saya pagi ini, karena di awal minggu ini warga Jakarta tentu merasakan betapa drastisnya Jakarta yang sangat menyenangkan ditinggal jutaan penghuninya di masa libur Lebaran dengan Jakarta yang kembali kepada keadaan normalnya: sumpek, sesak, bising; sampah yang dibuang baik pejalan kaki maupun penumpang BMW, makian yang diumpatkan baik di antara penumpang kendaraan umum maupun di antara pengemudinya. Hidup di Jakarta, yang baru seminggu lalu terasa begitu damai dan tenteram, tiba-tiba kini terasa begitu tak menyenangkan.

Mungkin para komuter dari daerah sekitar Jakarta adalah orang-orang yang paling banyak merasakan sisi tak menyenangkan dari Jakarta ini. Bukan saja mereka mengalami kondisi tak menyenangkan ini dalam perjalanan baik pergi maupun pulang, tetapi mereka juga harus terjebak di dalamnya selama jam-jam yang panjang hari demi hari.

Bagaimana kita bisa bertahan?

Banyak orang mengatakan, “Kalau bisa pindah ke luar Jakarta, saya akan pindah.” Memang. Tetapi, selama kita “terjebak” di Jakarta, apa yang bisa kita buat? Lagipula, bukankah Jakarta dengan segala kesemrawutannya tetap menyimpan daya tariknya sendiri? Mungkin benar juga orang yang mengatakan Jakarta adalah “the big durian”, mengacu kepada sebutan New York City sebagai “the big apple”. Tak menyenangkan, tapi toh kita tetap bertahan di Jakarta dan banyak juga orang yang berbondong-bondong datang ke Jakarta.

Saya teringat iklan sebuah sabun mandi untuk anak-anak yang menggambarkan anak-anak yang sudah mandi dengan sabun itu bagaikan dikelilingi lapisan pelindung mengelilingi tubuh mereka seutuhnya sehingga kuman-kuman jahat bertampang mengerikan yang mencoba menginvasi tubuh mereka semuanya bertumbangan dan terkapar. Anak-anak itu hidup di tengah-tengah lingkungan yang mungkin saja kotor, tetapi itu tidak berarti ruang lingkup kehidupan mereka harus terbelenggu dan terbatasi oleh kuman-kuman itu, bukan?

Begitu pula dengan kehidupan kita di tengah-tengah lingkungan yang penuh sampah ini. Salah satu hal yang saya pelajari dari puluhan tahun naik kereta api adalah pengaturan napas sangat penting. Sangat penting bahwa dalam saat-saat paling menegangkan dan paling stres saya secara sadar mengatur napas saya: tarik dan buang napas lambat-lambat dan secara ritmik. Dengan demikian, tidak ada terlalu banyak udara yang terbuang percuma, tetapi juga ritme pernapasan saya teratur dan terkendali. Itu akan membantu saya meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan di sekitar saya dan menjaga emosi tetap stabil.

Ketika kita memegang kendali atas pemikiran kita, tindakan kita (termasuk pernapasan), dan emosi kita, maka lebih mudah mengendalikan kehidupan kita. Orang bisa saja mendorong-dorong kita di kendaraan umum yang padat. Orang bisa saja memaki-maki di sekitar kita, atau bahkan kepada kita. Pengemudi bisa saja saling mengklakson tanpa menghiraukan satu sama lain. Tetapi, kita yang memutuskan: (1) apakah saya akan bereaksi? (2) bagaimana saya akan bereaksi?

Saya menduga, bagi banyak orang, masalahnya adalah mereka merasa reaksi mereka adalah satu fungsi yang otomatis: karena sesuatu terjadi pada diri mereka, maka mereka bereaksi. Macet? Tekan klakson dalam-dalam dan lama-lama. Kesal? Keluarkan cacian dan makian. Atau mungkin kita tidak bereaksi ke luar, tetapi kita tetap menyimpang rasa sebal dan kedongkolan – kita memendamnya dalam diri kita. Tetapi pertanyaannya: ketika kita bereaksi, entah ke luar maupun ke dalam, tidakkah reaksi itu sendiri menyedot sumber daya kita dan malah membuang-buang energi, emosi, dan waktu kita?

Ada banyak kejadian tak menyenangkan di sekitar kita. Seorang raja yang mempunyai kekuasaan mutlak pun rasanya tak bisa membuat lingkungannya steril dari kejadian-kejadian tak menyenangkan. Maka, daripada kita serta-merta bereaksi dan memboroskan sumber daya yang terbatas yang ada pada kita, mengapa kita tidak memfokuskan perhatian dan energi kita pada hal-hal yang bisa kita kendalikan, seraya mengabaikan gangguan-gangguan di sekitar kita? Hidup kita niscaya akan menjadi tenang, terfokus dan efektif.

Jakarta sudah kembali normal, tetapi hidup kita pun harus terus berlanjut. Jangan biarkan keadaan di sekitar kita, orang-orang di sekitar, dan hal-hal yang terjadi pada diri kita untuk menyetir kita. Jadilah tenang. Peganglah kendali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s