3 + 5 Sistem Manajemen Gereja


Kenapa gereja saya seperti ini? Kenapa gereja itu seperti itu? Kenapa gereja saya tidak bisa menjadi seperti itu? Setiap gereja mempunyai kepribadian yang unik. Seperti manusia, kepribadian dibentuk oleh beraneka ragam faktor. Seperti manusia yang tidak bisa mengubah kepribadiannya sesuka hatinya, demikian pula sebuah gereja tidak bisa lantas berubah-ubah sesuka hati.

Faktor-faktor apa saja yang membentuk kepribadian sebuah gereja? Secara sederhana, ada empat faktor: aliran, doktrin, manajemen, dan demografi. Kali ini kita akan membahas mengenai manajemen gereja.

Manajemen gereja biasa disebut juga sebagai tata pemerintahan gereja. Jenis manajemen sebuah gereja menunjukkan bagaimana gereja dikelola sehari-hari. Hal ini tercantum secara gamblang pada tata gereja (sama dengan “anggaran dasar”) dan tata laksana (sama dengan “anggaran rumah tangga”) masing-masing gereja.

Ada tiga jenis manajemen gereja: episkopal, presbiterian, dan kongregasional.

Gereja episkopal adalah gereja yang dikelola secara hierarkis. Gereja Katholik Roma, Gereja Anglikan, dan Gereja Methodist adalah contoh gereja-gereja yang menggunakan sistem manajemen episkopal. Pendeta yang menjadi pemimpin sebuah gereja dalam sistem episkopal disebut sebagai rektor. Ciri khas gereja episkopal adalah adanya jabatan uskup (dalam bahasa Yunani = “episkopos”) yang mengepalai semua rektor (dan, dengan demikian, semua gereja) di satu wilayah keuskupan. Struktur di atas uskup berbeda dari gereja ke gereja, walaupun pada umumnya untuk mengepalai beberapa orang uskup, ada seorang uskup agung. Pada Gereja Katholik Roma, pada puncak struktur ada seorang paus.

Gereja presbiterian adalah gereja yang dikelola secara demokratis. Masing-masing gereja dipandang sebagai sebuah entitas yang utuh dan tak tergantung kepada lembaga yang lebih besar. Anggota jemaat memilih sekelompok orang untuk mewakili mereka untuk menjalankan manajemen gereja. Orang-orang yang terpilih ini disebut “penatua” (dalam bahasa Yunani = “presbiter”). Secara bersama-sama, tim penatua ini disebut sebagai majelis jemaat. Kekuasaan tertinggi pada sebuah gereja ada pada rapat paripurna majelis jemaat. Jadi, bukan di tangan individu tertentu.

Gereja-gereja presbiterian dapat memutuskan untuk membentuk aliansi di antara mereka. Aliansi ini disebut sebagai sinode. Jika sinode itu besar, misalnya mencakup satu negara atau bahkan lebih, maka untuk kepraktisan koordinasi di dalam sinode, gereja-gereja di satu wilayah dikelompokkan lagi ke kelompok-kelompok yang lebih kecil yang disebut klasis. Pengelompokan gereja ke dalam klasis dan sinode adalah salah satu ciri gereja presbiterian. Namun demikian, tidak semua gereja presbiterian mengikatkan diri ke dalam sinode tertentu. Juga, tidak semua sinode memiliki klasis. Sinode yang tidak terlalu besar mungkin saja tidak perlu membentuk klasis.

Gereja kongregasional secara sederhana, sebagaimana tercermin dari namanya, adalah gereja-gereja yang dikelola secara independen. Sementara pada gereja episkopal ada uskup yang menjadi kepala para rektor, pada gereja-gereja kongregasional, hierarki berhenti pada jabatan rektor (yang tentu, tidak disebut rektor, tetapi hal ini akan kita bahas lebih lanjut di bawah). Gereja-gereja kongregasional juga ada yang bersinode seperti gereja presbiterian, tetapi sementara majelis sinode pada gereja presbiterian memiliki wewenang hierarkis atas majelis jemaat, sinode pada gereja kongregasional fungsinya lebih koordinatif dan bukan hierarkis.

Posisi apa yang setara dengan rektornya gereja episkopal pada sebuah gereja kongregasional? Hal ini menjadi menarik karena pada posisi inilah kekuasaan bertumpu dan fleksibilitas serta keleluasaan bergerak yang diciptakan oleh sistem ini nampaknya yang membuat sistem kongregasional banyak sekali digunakan oleh gereja-gereja kontemporer. Wayne Grudem, dalam bukunya Systematic Theology, membagi sistem kongregasional ke dalam 5 jenis sistem.

Pertama, ada kongregasional penatua-tunggal atau pendeta-tunggal. Pada sistem ini ada sang pendeta dipandang sebagai penatua tunggal yang memimpin gereja. Di bawahnya ada sekelompok diaken yang membentuk semacam majelis jemaat untuk membantu sang pendeta menjalankan manajemen gereja.

Kedua, kongregasional penatua-majemuk. Pada sistem ini sang pendeta melayani sebagai salah satu penatua dari sejumlah penatua lainnya yang dipilih oleh jemaat.

Ketiga, kongregasional dewan komisaris. Sistem ini mirip dengan manajemen perusahaan karena jemaat memilih majelis jemaat yang secara hierarkis berada di atas pendeta, seperti dewan komisaris yang membawahi seorang direktur. Pendeta bertanggung jawab kepada majelis jemaat.

Keempat, kongregasional demokrasi murni. Dalam sistem ini, semua keputusan harus dibahas dalam rapat jemaat, seperti Swis yang menjalankan pemerintahan dengan sistem referendum.

Kelima, kongregasional tanpa pemerintahan. Ini seperti sistem-tanpa-sistem yang biasanya digunakan oleh komunitas-komunitas yang dalam tahap sangat dini dengan kecenderungan mistis atau pietis yang ekstrem.

Dengan mengetahui 3 + 5 macam sistem manajemen gereja ini, semoga Anda kini dapat memahami dengan lebih baik kenapa sebuah gereja menjadi seperti apa adanya gereja itu, dengan kepribadiannya yang unik.

3 thoughts on “3 + 5 Sistem Manajemen Gereja

  1. Bagaimana dengan sistem management Gereja gereja di Indonesia, dengan tujuan untuk lebih mengerti tentang sistem yang berlaku di Gereja dalam negeri, sebagai contoh Gereja Kristen Indonesia, Gereja Baptis dan Gereja Bethel Indonesia ; Terima kasih utk tanggapannya karena hal ini penting buat saya, GBU

  2. saya pernah belajar manajemen gereja dr seorang dosen teologi..katanya manajemen gereja ada 4 yaitu linier, episkopal, presbiterian, dan kongregasional…katanya justru Roma Katolik itu menganut manajemen gereja yang linier….mana yang benar…saya jadi bingung . ..

    1. Terima kasih atas tanggapan Anda. Saya belum pernah membaca maupun mendengar tentang sistem manajemen gereja yang disebut “linier”. Mungkin Anda bisa coba tanyakan kepada dosen itu teolog / buku teks mana yang menjelaskan tentang sistem “linier” tersebut dan jika sudah menemukannya, mungkin Anda juga bisa berbagi informasi baru ini? Semoga ini membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s