Membuat Anak Suka Membaca (1)


“Dre, bagaimana ya supaya anak saya ini suka membaca?” tanya banyak orang tua yang anaknya semakin besar tetapi tak kunjung suka membaca. Hmmm …. Saya juga bingung bagaimana menjawabnya. Sekedar klarifikasi, para orang tua itu bertanya kepada saya bukan karena saya ahli dalam bidang itu, tetapi semata-mata karena saya suka membaca dan bagi banyak orang yang saya kenal, “Andrea” identik dengan “buku”.

Setelah berulang kali dan dengan berbagai cara orang-orang menanyakan hal itu kepada saya, saya pikir sudah saatnya saya meluangkan sedikit waktu untuk merenungkan bagaimana saya bisa jadi suka membaca dan pengalaman dari masa kecil saya yang bisa saya bagikan kepada para orang tua yang ingin anaknya suka membaca.

Tidak pernah ada orang yang menyuruh saya membaca. Setidaknya, sejauh yang saya ingat, saya tak pernah disuruh membaca. Di rumah, kami sekeluarga ada 6 orang: Opa dan Oma dari pihak Papa; Papa dan Mama; lalu saya dan adik saya. Kalau ada seseorang yang menyuruh orang lain membaca, biasanya itu adalah saya. Ketika saya ditanya satu dan lain hal yang saya tahu jawabannya ada di buku, saya akan ambilkan buku itu lalu menyodorkannya kepada mereka. Misalnya, satu ketika Mama bertanya apa itu pohon baobab. Saya tahu kami punya buku yang membahas pohon baobab; maka saya ambilkan buku itu dan berikan kepadanya. Tak jarang, itu membuat orang yang bertanya kepada saya kesal juga karena mereka mengharapkan jawaban dalam satu-dua kalimat alih-alih diberikan buku yang berisi beberapa bab jawaban yang terperinci. Lalu, kalau begitu, pertanyaannya tetap sama: dari mana saya bisa sangat suka membaca?

Saya pikir jawabannya ada pada dua pengondisian yang saya alami sejak masa kecil. Pertama, ketersediaan sumber bacaan dalam jumlah luar biasa banyak. Kedua, lingkungan yang memberikan contoh ada kenikmatan di dalam membaca.

Dalam retrospeksi, saya pikir keduanya saling mendukung. Jika hanya ada faktor pertama tanpa faktor kedua, maka kami hanya akan membuang-buang uang untuk onggokan kertas dalam jumlah besar yang menjadi hiasan dinding yang dikagumi orang tetapi tak mengubah kehidupan. Jika hanya ada faktor kedua tanpa faktor pertama, maka entah saya hanya akan terpesona tanpa bisa meniru kebiasaan keluarga saya membaca atau saya bisa meniru kebiasaan mereka tetapi segera minat saya akan kekurangan bahan bakar sehingga tersendat-sendat dan berhenti di pertengahan jalan, tidak membuat saya menjadi apa adanya saya sekarang. Bagaimana konkretnya?

Pada saat saya dilahirkan di tahun 1980, PC dan Internet masih beberapa dasawarsa jauhnya dari penggunaan rumah tangga. Para pendiri Google dan Wikipedia pun belum dilahirkan. Ini adalah masa pra-digital. Dalam kondisi yang demikian, rumah masa kecil saya adalah rumah yang dipenuhi dengan setidaknya 3 set ensiklopedia lengkap dari A-Z, plus indeks, plus suplemen tahunannya. (Ya, saya mengerti, jika Anda dilahirkan di era digital, semua ini pasti barang aneh bagi Anda. Silakan dilupakan. Ini hanya informasi yang kurang penting dari masa lampau yang tak relevan lagi.) Selain itu, kami juga memiliki buku-buku referensi seperti “Seri Peradaban Manusia”, “Seri Peradaban Purba”, “Seri Pemikiran-Pemikiran Besar Manusia”, “Abad Besar Manusia”, “Hari-Hari Libur Dunia”, dan sejenisnya. Masing-masing seri terdiri dari belasan buku yang besar, dicetak sepenuhnya di art paper, full-color. Sangat indah dan menawan. Anda mungkin mengingat buku-buku ini dari perpustakaan sekolah Anda. Sejauh yang saya ingat, saya nyaris tak pernah menemukan perpustakaan sekolah yang lebih lengkap daripada perpustakaan rumah saya untuk urusan buku referensi.

Sesungguhnya, bahkan dalam rangkaian studi formal saya menempuh dua pendidikan sarjana dan dua pendidikan magister, hingga tesis magister saya yang terakhir sekalipun, buku-buku yang telah tersedia di rumah saya sejak awal tahun 1980-an itu masih sangat berguna.

Yang ingin saya soroti dan tekankan adalah: keluarga kami bukan keluarga yang kaya-raya dan buku-buku referensi yang saya sebutkan di atas bukanlah buku warisan. Kami adalah keluarga kelas menengah. Rumah yang saya sebutkan di atas kami tempati sejak saya berumur dua tahun. Lantas, bagaimana kami mempunyai sedemikian banyak buku referensi sehingga mengalahkan koleksi perpustakaan banyak sekolah?

Beberapa minggu sebelum saya dilahirkan, orang tua saya mulai membeli buku-buku itu, satu demi satu. Di masa itu, seri buku-buku referensi dijual bukan per set, melainkan per jilid; bukan dalam sekali penjualan, tetapi dengan cara kontrak. Dengan demikian, setiap bulan sang tenaga penjual akan datang satu-dua kali sebulan membawakan satu eksemplar buku lalu dibayar di tempat. Dalam beberapa belas kunjungan, lengkaplah satu set koleksi.

Satu buku demi satu buku setiap 2-4 minggu. Anda bisa bayangkan berapa banyak buku referensi yang ada di rumah saya ketika saya mulai belajar membaca?

Bukan cuma buku referensi. Perpustakaan rumah saya juga dipenuhi dengan buku-buku dongeng, buku-buku referensi versi anak kecil, dan materi bacaan lainnya untuk setiap masa perkembangan saya. Maka, sejak kecil saya sudah mengenal kisah-kisah Eropa klasik mulai dari Hippomenes hingga Don Quixote; dongeng-dongeng Hans Christian Andersen; fabel dan segala jenis cerita imajinasi baik dari kebudayaan-kebudayaan Barat, Timur, juga kebudayaan-kebudayaan lokal. Bukan dengan diceritakan dan dininabobokan, tetapi dengan disediakan segudang buku dalam berbagai rupa, ukuran, dan format. Termasuk di antaranya buku-buku berusia puluhan tahun dari masa kecil orang tua saya, masih dalam ejaan lama, dengan kertas stensil hitam-putih dan sampul karton yang sudah usang. Bertumbuh dikelilingi sedemikian banyak buku, bagaimana mungkin saya tidak bertumbuh mencintai semua itu?

Saat usia saya bertambah, materi bacaan yang tersedia pun semakin beraneka ragam. Di saat saya SMA, misalnya, kami berlangganan majalah Newsweek, lalu Far Eastern Economic Review, lalu Time. Untuk siapa? Tidak ada orang lain di rumah saya yang begitu fasih membaca bahasa Inggris sehingga perlu membaca majalah semacam itu. Tetapi toh majalah-majalah itu disediakan, tak lain tentunya untuk saya baca. Tak ada yang menyuruh saya membaca majalah-majalah itu. Majalah-majalah itu semata-mata disediakan.

Jadi, itulah faktor pertama yang, dalam retrospeksi, saya pikir membuat saya suka sekali membaca: ketersediaan sumber bacaan dalam jumlah luar biasa banyak. Di bagian berikutnya saya akan membahas faktor kedua, yaitu lingkungan yang memberikan contoh ada kenikmatan di dalam membaca.

One thought on “Membuat Anak Suka Membaca (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s