Mengantri


Mengantri dan menyetir adalah dua hal yang saya benci. Bagi saya yang tergila-gila dengan efisiensi, keduanya adalah gangguan besar dalam hidup. Hari ini, setelah sekian lama terbebas dari keduanya, saya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa saya harus mengantri.

Setelah dua hari tidak ke kantor, pagi ini meja kerja saya dipenuhi dengan sejumlah surat dan undangan. Salah satunya adalah surat panggilan dari kantor pos berisi pemberitahuan bahwa ada paket yang harus diambil. Bagaikan puzzle yang harus dipecahkan, surat itu sendiri mengandung banyak teka-teki. Di mana harus diambilnya? Tidak ada satu bagian pun dari surat itu yang menyebutkan di mana paket itu harus diambil. Informasi yang tertera dengan gamblang hanyalah saya harus membayarkan biaya Rp201.000 untuk menebus paket itu. Setelah membolak-balik lembaran isi surat, akhirnya saya menemukan satu stempel di amplop panggilan tadi: ada alamat Kantor Pos Daan Mogot di situ. Ke situkah harus diambilnya paket ini? Tak ada instruksi yang jelas, tapi itu satu-satunya alamat yang ada. Maka ke sana saya melangkah.

Setiba di kantor pos, saya bertanya kepada satpam dan diarahkan ke gedung di pojok belakang dari kompleks kantor pos itu. Ada dua meja, tapi hanya satu yang ada petugasnya. “Pak, saya mau ambil paket,” saya katakan. “Oh, di meja sebelah, Pak.” Melihat saya bengong, dia mengatakan, “Orangnya sedang keluar, Pak. Ditunggu saja.” Beberapa menit kemudian, orang kedua datang. Ada berkas yang harus diisi. Lalu dia meminta fotokopi KTP. Karena tak siap dengan fotokopi KTP (dan memang di surat tadi tak disebutkan harus menyerahkan fotokopi KTP sebagai syarat pengambilan paket), maka saya harus keluar gedung, mencari-cari tempat fotokopi KTP. Setelah kembali, ada formulir lain yang harus diisi. Kali ini, harus dilengkapi dengan NPWP. Kenapa juga mengambil paket saja harus pakai NPWP? Untungnya saya membawa iPad dan bisa mengakses file NPWP di Dropbox saya.

“Sudah semua berkasnya? Saya bayar di sini?” “Oh, bukan Pak. Ini Bapak bawa berkas ini ke gedung depan, bayar di loket 7 atau 8.” Maka saya ke depan lagi, menuju loket 7 dan 8 di gedung utama. Rupanya itu loket antrian pembayaran pajak. Ada orang-orang yang sedang mengomel, sudah setengah jam belum juga dipanggil. Ada lagi yang sudah satu jam lebih, juga belum dipanggil. Saya pun gelisah. Melihat begitu banyaknya orang mengantri untuk berbagai keperluan. Terlintas di pikiran saya, beginikah hidup yang harus dilalui banyak orang? Saya bersyukur hanya sekali ini harus mengantri seperti ini. Bagaimana dengan orang-orang ini, yang hidupnya begitu banyak terbuang untuk mengantri seperti ini? Seperti apa kualitas hidup mereka?

Saya bertanya ke petugas informasi apakah benar prosedurnya seperti ini dan diinformasikan benar; seorang petugas yang biasanya melayani pembayaran pajak sedang sakit, dan petugas penggantinya memang lelet, maka antrian semakin panjang. Untungnya, seorang petugas lain menggantikan dan setelah kira-kira setengah jam berlalu antrian dengan cepat bergerak lagi. Saya pun dipanggil dan melakukan pembayaran.

Pengalaman pembayaran di loket sebenarnya baik. Petugasnya cekatan dan ramah. Hanya saja, pengaturan sistem antrian dan tata letak ruangannya yang membuat gelisah. Mau membaca berita pagi ini di iPad, saya tak yakin lingkungannya cukup aman. Jadi ya terpaksa lah mengamati lingkungan sekitar. Antara kesal karena harus mengantri seperti ini, mengasihani orang-orang yang harus menjalani antrian ini sebagai bagian dari rutinitas mereka, dan bersyukur bahwa saya tidak harus menjalani kehidupan seperti mereka.

Proses pembayaran berlangsung cepat. Ternyata pajak yang perlu dibayarkan adalah Rp194.000. Kepada saya diserahkan slip pembayaran pajak PPh. pasal 22 yang harus saya bawa kembali ke gedung belakang untuk ditukarkan dengan paket saya. Di belakang, saya harus kembali membayar Rp7.000 untuk biaya pemrosesan paket ini. Jadi totalnya Rp201.000.

Biaya Rp201.000 dan 1 jam mengantri demi sebuah paket belaka! Hidup seharusnya bisa jauh lebih efisien daripada ini. Setidaknya, pengalaman 1 jam itu menyadarkan saya tentang realita tak terelakkan yang masih harus dihadapi banyak orang, hari demi hari, dipaksa membuang waktu karena sistem yang tertata dengan baik.

Dalam retrospeksi, bagi saya pengalaman pagi ini masih lumayan baik karena dalam sekali datang semua langsung selesai. Seorang Bapak yang juga mau mengambil paket sudah datang untuk kedua kalinya dan belum berhasil juga; ia pulang untuk kembali esok hari ketiga kalinya karena fotokopi surat-surat yang tak lengkap. Tak ada informasi bahwa saya harus menyediakan fotokopi KTP dan juga NPWP; untungnya saya siap dengan keduanya. Masih banyak masalah sistemik yang perlu diperbaiki di sekitar kita. Sementara itu, tak ada salahnya kita mensubstitusikan kekurangan ini dengan berlatih berpikir sistemik dan mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul akibat defisit pemikiran sistemik tersebut di sekitar kita.

Di dunia yang tak sempurna ini, setidaknya kombinasi keduanya akan meminimalkan penderitaan yang tak perlu kita alami dalam hidup ini, betapa pun pemicunya mungkin tak terelakkan harus kita hadapi.

One thought on “Mengantri

  1. Woah, sebegitu rumitnya untuk mengambil satu paket! Masalah sistemik seperti ini memang menjengkelkan dan tentunya membuat kita bertanya, apakah waktu kita yang terbatas dan tak dapat terulang musti digunakan (dibuang) untuk hal2 seperti ini (i.e. mengantri)… satu hal yang “baik” dari keadaan seperti ini, bisa belajar sabar :)
    The society where I live would not put up with this, for a different reason (I think): lack of patience and self-entitlement. Either ways, not good. I enjoyed your reflection on this.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s