Menulis Buku


Anda ingin melihat nama Anda terpampang sebagai pengarang di sampul sebuah buku? Terlepas dari Anda suka membaca buku atau tidak, terlepas Anda suka menulis atau tidak, saya pikir mungkin sekali banyak di antara kita akan menjawab “ya”.

Menulis buku adalah obsesi banyak orang. Kenapa? Salah satu alasan yang jelas adalah meninggalkan jejak di belakang kita. Orang-orang yang selama puluhan tahun dalam hidupnya memiliki pekerjaan yang tak pernah terkait dengan menulis buku, saat pensiun, tiba-tiba menerbitkan buku. Mulai pensiunan jenderal sampai pensiunan pendeta, ramai-ramai orang menulis buku. Walaupun cuma satu buku, setidaknya ada sebuah buku yang mereka tinggalkan dengan nama mereka dicetak di sampulnya.

Tetapi, itu bukan cuma fenomena di antara para mantan ini-itu dan para pensiunan. Belakangan kita juga menjumpai artis-artis muda yang baru naik daun, di usia 20-an juga sudah gandrung menulis buku. Entah apa isinya.

Bagaimana kalau orang tidak punya waktu untuk menulis? Gampang. Ada penulis-bayangan yang bisa dibayar untuk menuliskan kata-kata indah nan luwes atas nama Anda, tanpa keberatan mereka akan menukarkan semangkuk hak intelektualnya dengan segepok uang. Gampang, bukan?

Tak berhenti di situ. Lebih jauh lagi, dalam bulan-bulan belakangan ini saya menjumpai anak-anak kecil, yang masih duduk di bangku SD, pun menuliskan buku. Awalnya saya penasaran: buku apa yang mereka tulis? Sejenius apa mereka? Ternyata saya mendapati karya tulis mereka tak lain dari tugas mengarang yang saya yakin memang menjadi bagian dari tugas kita waktu kita duduk di bangku SD. Dikombinasikan dengan gambar-gambar hasil orat-oret mereka. Dikombinasikan dengan orang tua yang punya banyak uang dan ego yang besar. Jadilah tugas sekolah mereka dikombinasikan, dicarikan desainer grafis dan percetakan, lalu diterbitkan. Tada! Sebuah buku.

Itulah realita dunia perbukuan di depan mata kita. Apa makna sebuah buku? Apa makna menjadi pengarang buku?

Saya suka membaca. Saya suka menulis. Tapi sejauh ini tak pernah terbersit dalam diri saya untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku. Belum saatnya? Entahlah. Mungkin suatu saat keinginan itu akan terbersit juga. Yang jelas, pada saat ini saya pikir saya belum punya satu hal yang cukup bermakna dan penting untuk diterbitkan dalam sebuah buku. Jika saya memiliki ide-ide untuk dibagikan, toh ada berbagai media sosial yang berfungsi untuk membagikan ide-ide saya dengan lebih cepat untuk menjangkau banyak orang.

Pada masanya, kertas adalah buah teknologi progresif. Pada masanya, buku adalah inovasi yang luar biasa. Tetapi, kertas dan buku adalah kenang-kenangan dari masa lalu. Bentuk dan media komunikasi telah berkembang demikian jauh. Pada saat ini, saya pikir menemukan nama kita di sampul sebuah buku tak lagi terlalu penting sebagaimana halnya 3 abad atau bahkan 3 dasawarsa yang lalu, ketika buku merupakan media ultimat untuk melakukan penyebaran ide kepada publik secara luas.

Internet, Web 2.0, dan serangkaian teknologi lainnya (termasuk blog ini) telah mengubah tatanan dan metode pertukaran ide, informasi, dan data di antara kita umat manusia. Buku yang dulu begitu penting kita mau tak mau telah terdegradasi menjadi komoditas yang bisa digunakan oleh siapa pun untuk kepentingan apa pun sebagaimana telah kita lihat di atas. Menulis sebuah buku yang diterbitkan bukan lagi sebuah prestasi yang sangat luar biasa. Bisa jadi, itu hanyalah satu memento atas fase yang baru kita lalui dalam hidup – memasuki masa pensiun, memulai kehidupan sebagai artis yang sedang naik daun, menjadi alat orang tua untuk mempromosikan status mereka di kelas sosio-ekonomi baru melalui anaknya yang tugas sekolahnya bisa mereka bukukan.

Buku semakin mudah dijadikan alat pemenuhan ego semata tanpa terlalu banyak kegunaannya bagi pembacanya. Saya pikir, seyogianya menulis buku adalah kulminasi dari sebuah pemikiran, serumpun gagasan yang telah terkristalkan sedemikian rupa sehingga dapat disodorkan sebagai satu set menu yang utuh – walaupun masih bisa terus berkembang – kepada pembacanya. Bagaimanapun, zaman sudah berubah. Seringkali di Internet dengan mudah dan gratis kita bisa mendapatkan sumber-sumber pengetahuan yang jauh lebih berkualitas daripada di toko-toko buku. Asalkan kita bijaksana dan selektif dalam memilah berbagai sumber informasi dan pengetahuan ini, kita bisa memanfaatkan yang terbaik dari berbagai dunia tanpa harus terpaku pada buku.

Jika Anda memiliki obsesi untuk menemukan nama Anda di sampul sebuah buku, saya menyarankan Anda untuk menanyakan satu hal: kontribusi apa dan kemajuan apa yang bisa saya sumbangkan melalui kehadiran buku saya ini? Sokrates dan Yesus tidak pernah menulis buku. Kita mengenal keduanya melalui tulisan-tulisan para murid mereka. Tetapi toh kita tahu benar bahwa keduanya adalah pribadi yang telah berperan begitu besar dalam mempengaruhi dan membelokkan sejarah dunia. Menulis buku bukanlah segalanya; pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana Anda menyuling ide Anda, memberikan kontribusi ide yang maksimal kepada dunia. Buku hanyalah salah satu media yang dapat Anda gunakan.

Jadi, jika Anda menulis buku, apa kontribusi buku Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s