Valuta Gereja


“Sudah berapa M bulan ini?” “Maria sudah dapat 15 M, lho.” “Saya rasa bulan ini saya hanya bisa 12 M.” Kalimat-kalimat ini mewarnai 1 hari saya ketika saya mengambil cuti di tengah minggu dan mengunjungi kantor seorang kawan. Setiap kali pintu lift menutup, satu kata yang terus-menerus terulang dari begitu banyak orang adalah, “M”. Itulah currency mereka. Saya bertanya-tanya, “Apa ya currency di kantor saya?” Ketika saya kembali, saya menyadari ternyata currency kami adalah orang. Ketika pintu lift menutup, kami akan berdiskusi, “Bagaimana perkembangan Johan? Bagaimana kelas 6B?” Bagaimana dengan gereja? Apa currency (valuta) gereja kita?

Ketika saya tanyakan hal ini kepada seorang kawan lain, ia mengatakan, “Coba lihat apa yang terjadi di rumah duka. Apa yang kita bicarakan di sana? Kebanyakan pembicaraan kita artifisial. Sekedar basa-basi berputar-putar. Padahal, kita bisa bicara soal kehidupan dan kematian. Kita seharusnya merenungkan, ‘Bagaimana kalau nanti giliran saya yang di peti itu? Bagaimana kalau nanti giliran Anda yang di peti itu? Sudah siapkah kita?’ Itu saat yang sangat baik untuk bicara soal kehidupan dan kematian – tetapi bahkan pada saat itu pun kita tidak berani bicara selain berbasa-basi.” Saya pikir ada benarnya. Perusahaan tempat kawan saya tadi bekerja berorientasi pada target penjualan, maka bisa diharapkan memang semua orang bicara soal pencapaian target, maka currency mereka adalah “M”. Saya bekerja di sekolah, maka currency kami adalah orang. Gereja? Saya pikir seharusnya currency gereja adalah spiritualitas. Tetapi, seberapa sering kita membicarakan – atau bahkan memikirkan – soal spiritualitas di gereja?

Masa-masa ini di semua Gereja Kristus adalah masa pergantian pengurus. Mulai dari pengurus bagian, majelis, hingga pengurus sinode tengah diganti dalam periode beberapa bulan. Tak pelak, banyak orang pasti tengah memikirkan pelayanan mereka berikutnya, dalam periode 2012-15. Dalam tulisan singkat ini saya hendak merefleksikan serangkaian kegagalan dan kesalahan yang saya buat. Semoga ini bisa berguna bagi banyak orang agar tidak perlu membuat kesalahan yang sama dan terhindar dari kegagalan yang sama.

Di awal periode 2009-12 ini, secara sadar saya mengarahkan BP untuk tidak membangun ke atas. Kami tidak menargetkan penambahan jumlah jemaat, tidak menargetkan penambahan aktivitas. Fokus kami adalah membongkar fondasi yang ada dan membangun fondasi yang baru, karena selama 40 tahun lebih model pelayanan pemuda masih begitu-begitu saja, sementara pemuda di tahun 2009 tentu berbeda jauh karakteristik dan tantangan hidupnya dari pemuda tahun 1960-an. Membongkar fondasi tidak bisa dilakukan berbarengan dengan pembangunan ke atas, karena itu fokus tiga tahun ini ditetapkan hanya untuk memperbarui model pelayanan.

Buku-buku saya pelajari, berbagai teori dikombinasikan, studi banding dilakukan, pendekatan ini dan itu dicoba secara terstruktur. Tetapi, ada dua hal yang rupanya bermasalah: Pertama, tim formatur memutuskan bahwa jumlah lebih penting daripada kualitas. Ketika ada struktur yang belum terisi, sementara semua calon pengurus yang ada sudah tidak ada lagi yang bersedia, maka dicari-cari supaya ada orang yang mengisi posisi itu. Ini ternyata kesalahan fatal. Lebih baik bekerja dengan orang yang sedikit tetapi sehati-sepikir, daripada memaksakan diri mengikuti struktur tetapi akhirnya memasukkan duri ke dalam daging. Kedua, ada perdebatan apakah Bagian Pemuda harus bertumbuh semaksimal mungkin tanpa menghiraukan GKK secara keseluruhan, atau kita perlu memperhatikan kondisi bersama?

Dalam hal ini pendirian saya tak tergoyahkan: kita harus bertumbuh bersama. Dalam banyak hal yang kami lakukan, kami terus berupaya untuk berkolaborasi dengan majelis dan berbagai bagian – walaupun ini terbukti sama sekali tidak mudah karena nampaknya semangat dan kebutuhan berkolaborasi nyaris tak dapat dijumpai di sini. Hal itu berbeda dengan semangat bernostalgia: dulu Bagian Pemuda pernah berbuat ini, pernah berbuat itu … maka, sekarang pun harus injak gas sampai penuh, tak perlulah mempedulikan bagian-bagian lain. Argumen mereka: kalau bagian kita yang satu ini bisa bertumbuh, bertumbuhlah secara maksimal; tak perlu ngotot harus bertumbuh bersama. Tetapi, bukankah itu definisi kanker? Kalau yang namanya pertumbuhan, tentunya seluruh tubuh sama-sama bertumbuh bersama. Kedua hal ini ternyata terlalu ulet untuk diselesaikan dan berbelok begitu rupa sehingga cukup mewarnai masa tiga tahun ini.

Secara keseluruhan, periode 3 tahun terakhir dibandingkan dengan keseluruhan masa saya menjadi pengurus di sana-sini selama 15 tahun terakhir terasa sangat politis. Tantangan dari orang-orang yang tak sejalan, omongan-omongan di belakang yang perlu diselesaikan, obrolan (juga email dan SMS) pribadi yang kemudian bisa tersebar luas ke publik dengan konteks yang dikaburkan atau bahkan diganti, notulen rapat yang bisa berubah … semua ini memberi warna yang unik kepada masa ini.

Ketika BP 2012-15 bertanya kepada saya, apa yang harus dipersiapkan dan bagaimana menghadapi masa kepengurusan yang akan datang, maka saya katakan ada tiga hal mahapenting yang harus diperhatikan:

  1. Spiritualitas pribadi.
  2. Spiritualitas tim BP.
  3. Spiritualitas jemaat.

Dalam urutan itu.

Pertama-tama, masing-masing pribadi perlu memiliki hubungan yang sehat dengan Tuhan. Kedua, semua anggota tim BP Pemuda perlu memiliki hubungan yang sehat dengan Tuhan agar bisa saling mengimbangi, menopang, dan menguatkan dalam pelayanan bersama. Baru setelah itu jemaat bisa dilayani secara maksimal. Tanpa dilandasi oleh spiritualitas yang baik, bagaimana kita bisa melayani jemaat dengan baik?

Ketika kita melayani dengan spiritualitas yang tidak prima, mungkin kita memaksakan diri untuk tetap melayani karena kita pikir kita melakukan pelayanan ini untuk Tuhan. Walaupun berat, tetap harus saya jalani. Tetapi, benarkah pelayanan kita ini untuk Tuhan? Tidak! Tuhan tidak butuh pelayanan kita. Benarkah Tuhan butuh semangat dan jerih-lelah kita untuk menumbuhkan pelayanan ini? Tidak! Sama sekali tidak. Tuhan tidak butuh kita.

Ada orang-orang yang melayani Tuhan dengan jerih-lelah yang begitu gila-gilaan, membuat metode pelayanan yang begitu canggih, banting tulang begitu rupa demi apa yang mereka sebut “pertumbuhan”, sampai-sampai, kata Mark Yaconelli, kalau orang melihat mereka melakukan pelayanan, orang mungkin akan mengira Tuhan yang mereka layani entah adalah mandor yang kejam atau manajer yang sama sekali tidak kompeten sehingga anak buah mereka harus memeras keringat seperti itu. Dalam istilah Parker Palmer, orang-orang ini adalah ateis fungsional. Dalam sikap mereka terhadap pelayanan, nampak bahwa mereka sesungguhnya percaya bahwa Tuhan begitu inkompetennya sehingga mereka harus mengimbangi inkompetensi Tuhan dengan kompetensi mereka.

Mark Yaconelli mengatakan,

Once we admit that we are powerless … we can recognize that ministry is a series of small acts of trust. It’s more about yielding to what is already present and available than it is about creating or building. If we can see we’re not in control, maybe we can hear the truth that Mother Teresa once articulated – that in ministry we’re “not seeking to be successful but merely faithful.”

Kalau kita katakan, “Tapi saya punya semangat menggebu-gebu untuk menjangkau anak-anak muda! Saya punya gairah yang begitu besar untuk mengadakan kebangkitan di antara anak-anak muda ini!” Yaconelli menyadarkan kita bahwa

When we allow ourselves to be open and receptive to God’s love and presence, we begin to notice that God is alive and available. We begin to perceive that the Holy Spirit is present and working beneath the worry and activity of our ministries. It may even occur to us that God has been present to our young people long before they met us – before they were even born. When we stop to receive God’s life and love, we begin to understand that the Holy Spirit has been seeking our young people with greater passion and desire than we could ever work up. That’s when it becomes clear that our ministry is really not about us. We notice a sense of relief that we’re not the center of our ministry. We discover newfound energy as it dawns on us that our role in youth ministry is not to “make something happen!” Our task is to simply rest in wonder at what God is doing, and then to lend a hand as we’re needed.

Maka, pelayanan yang paling penting yang bisa kita berikan adalah sebuah ministry of presence, bukan – sama sekali bukan – ministry of actions, apalagi cuma ministry of busyness.

Kehadiran kita lebih bermakna dibanding apa pun juga yang bisa kita berikan. Kehadiran di mana? Pertama-tama tentu kehadiran di hadapan Tuhan. Kita, menikmati kehadiran-Nya, dan Ia, menikmati kehadiran kita. Dalam persekutuan yang intim pengenalan kita pun bertumbuh. Di sinilah spiritualitas dipupuk dan bertumbuh. Berikutnya, kehadiran di tengah jemaat yang kita layani. Hadir untuk mereka, menerima mereka dan mengizinkan Roh Kudus menggunakan kehadiran kita untuk melayani mereka sebagaimana Tuhan telah hadir dan melayani kita.

Tuhan tidak butuh pelayanan kesibukan kita. Yang Tuhan inginkan adalah melayani bersama kita. Maka, pelayanan terbaik yang bisa kita berikan bukanlah pelayanan untuk Tuhan, melainkan pelayanan bersama Tuhan. Spiritualitas adalah kunci dan prasyarat mutlak. Itulah satu-satunya currency, valuta yang digunakan di gereja sejati. Dari situlah pelayanan dan pergumulan untuk melayani terlahir.

One thought on “Valuta Gereja

  1. thank you dre, berharap GK makin maju.. setuju bahwa orang skrang lbh mementingkan kuantitaas daripada kualitas. ini yang harus kita terus ajarkan, bahwa kita tak mau mengikuti zaman, tapi kita harus menjadi batu penjuru di dunia ini didalam kebenaran alkitab.. aminn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s