Melewati Masa Spiritualitas yang Tumpul


Ibu Casthelia Kartika adalah satu dari sedikit orang yang bisa saya ajak bicara tentang spiritualitas. Ia adalah satu figur yang kentara sekali hidupnya terbenam di dalam spiritualitas, alam pikirannya dibingkai oleh pola pikir spiritualitas. Satu pengalaman bersama beliau meninggalkan kesan yang membekas kuat pada diri saya.

Hari itu hari Minggu siang, ibadah @RGK_KeTapaNg baru selesai. Jemaat keluar dari ruang ibadah dan bersalaman dengan pengkhotbah. Sebagai rohaniwannya, ia juga keluar dari ruang ibadah dan terlihat berbincang dengan jemaat di koridor di depan Aula Yakobus. Saya tidak beribadah di @RGK_KeTapaNg, tetapi karena saya membimbing satu KTB remaja, saya ada di depan aula itu, di antara jemaat remaja, menunggu para anggota KTB yang saya pimpin.

“Apa kabar, An?” begitu sapanya ramah.

“Hmm …. Ga jelas, Ci. Saya merasa tumpul nih …,” jawab saya sekenanya.

Belum sempat saya menyelesaikan kalimat saya, beliau sudah menarik lengan saya dan mengajak saya menyingkir dari kerumunan, mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari gangguan orang banyak. Saya masih ingat bagaimana beliau menatap saya dengan satu tatapan yang prihatin dan tulus ingin menawarkan bantuan, seraya bertanya, “Apa maksudmu?”

DUAR! Pertanyaan yang sederhana itu terasa seperti selusin petir yang tiba sambar-menyambar, disertai hujan badai yang sekonyong-konyong tumpah ruah di tengah teriknya sinar matahari dan kering kerontangnya Jakarta yang panas ini. Wow! …. Waktu serasa terhenti.

“…,” saya tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tadi. Saya tidak ingat ada orang yang pernah begitu seriusnya memperhatikan perasaan dan kebutuhan saya. Walaupun saya sering ditanya “Apa kabar?” dan sering juga saya memberikan jawaban yang cukup transparan atas kondisi saya, saya tidak ingat ada orang yang benar-benar menanggapi jawaban saya dengan serius. Apalagi seserius ini, sampai saya langsung ditarik keluar dari kerumunan orang dan diajak bicara lebih mendalam.

Saya tidak ingat bagaimana diskusi kami bergulir sesudah kekeluan lidah saya itu. Rasanya kami bicara cukup lama. Tapi satu hal yang jelas, satu hal yang saya dapatkan dari pembicaraan itu adalah kesadaran bahwa “Oh, ternyata saya tidak sendirian di dalam pelayanan ini. Ada Ci Lia yang peduli dengan kesulitan dan pergumulan saya.”

Masa itu adalah masa yang cukup berat bagi saya karena saya ditarik untuk keluar dari zona-zona nyaman saya di dalam pelayanan, tetapi puji Tuhan segala sesuatu berjalan dengan baik. Dalam retrospeksi, saya melihat faktor penting dalam keberhasilan saya melalui masa itu dengan adalah adanya komunitas yang mendukung – dengan Ci Lia yang memainkan peranan kunci baik secara tidak langsung di dalam komunitas itu, maupun secara langsung melalui dukungan pribadinya kepada saya.

Menilik kehidupan saya saat ini, saya pikir faktor dukungan komunitas ini adalah satu faktor yang sangat saya butuhkan sekarang dan di masa mendatang. Sesehat apa pun spiritualitas pribadi kita, tanpa dukungan lingkungan yang efektif, sulit sekali bertahan tetap sehat. Beberapa tahun sesudah peristiwa di atas, Tim Formatur dan saya membuat beberapa kesalahan fatal yang kemudian harus saya bayar dengan harga yang sangat mahal. Dengan harga yang mahal itu, supaya jangan rugi, harus ada pelajaran yang sangat berharga yang bisa dipetik.

Salah satu adagium saya adalah, “Keselamatan memang urusan pribadi, tetapi pertumbuhan selamanya adalah urusan komunal.” Dalam konteks yang lebih luas, Jim Collins, dalam bukunya Good to Great, menuliskan poin kedua dari karakteristik “great companies” adalah “First Who, Then What”. Sangat penting menimbang dengan siapa kita akan membangun sebuah tim, siapa orang-orang yang ada di sekitar kita dalam perjalanan hidup ini. Ini berlaku baik dalam konteks profesional, personal, juga spiritual.

Saya pikir jarang sekali ada orang yang benar-benar peduli dengan diri dan kepentingan kita. Banyak orang yang dalam “kepedulian” dan “kebaikan hati” mereka ternyata punya kepentingan dan agenda politis. Jika dalam hidup kita Tuhan memimpin kita berjumpa dengan orang-orang yang sungguh-sungguh peduli, itu suatu anugerah yang perlu kita syukuri, jaga, dan pupuk. Kehidupan spiritual kita akan sulit sekali berkembang tanpa kehadiran orang-orang semacam ini – orang-orang spiritual yang takut akan Tuhan, sesama peziarah dalam perjalanan dan pertumbuhan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s