Pindah Gereja


Di tengah masa jabatannya, seorang penatua (anggota majelis) menjadi anggota gereja lain. Seorang pengurus berbulan-bulan tidak beribadah di gerejanya sendiri tanpa kabar, sebelum menghilang secara permanen. Kejadian semacam ini terus-menerus terjadi. Korban ketidakpuasan terhadap gereja bergelimpangan di mana-mana. Entah mereka kecewa, terluka, atau harapan mereka tak terpenuhi, ada banyak alasan orang pindah gereja atau malah sekalian berhenti ke gereja. Salah siapa?

Itu pertanyaan paling mudah, bukan? Kita suka sekali menanyakan, “Salah siapa?”, karena dengan menuding satu pihak lantas pertanyaan itu terjawab. Ketika pertanyaan itu terjawab, kita anggap masalahnya selesai. Tapi, benarkah masalah itu selesai?

Ketika seorang karyawan mengundurkan diri, salah satu tahap yang dilakukan oleh Departemen SDM adalah melakukan wawancara pengunduran diri alias exit interview. Setidaknya itu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baik. Seperti orang yang akan diterima diwawancarai dan diselidiki latar belakang dan potensi kontribusinya, begitu pula orang yang akan pergi diwawancarai dan diselidiki kondisi seputar pengunduran dirinya serta potensi kontribusinya di masa mendatang. Kendati ia akan meninggalkan perusahaan itu, tidak berarti hubungan yang ada lantas terputus.

Ketika kita akan bergabung dengan satu gereja, biasanya ada proses yang cukup panjang: katekisasi, atestasi, percakapan gerejawi dengan penatua atau pendeta, hingga akhirnya kita disambut secara publik sebagai anggota jemaat: diumumkan di dalam kebaktian dan di warta jemaat. Ketika kita akan keluar, apakah ada kepedulian yang sama yang ditunjukkan oleh para pejabat gereja? Apakah sistem gereja dirancang untuk itu?

Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang yang akan keluar dari satu gereja diwawancarai oleh penatua dan pendeta, ditanyai sebab-musababnya (di balik alasan-alasan klise yang diutarakan), lalu ditanya umpan baliknya (secara terstruktur!) demi perbaikan pelayanan gereja di masa mendatang. Ini, saya pikir, satu hal yang perlu disayangkan. Bukan soal salah siapa, tetapi apakah kita punya sistem untuk mendeteksi kelemahan dan masalah dalam pelayanan kita serta mengembalikan masukan ini sebagai umpan balik bagi pelayanan kita di gereja yang ditinggalkan.

Dari sisi orang yang meninggalkan gereja, mereka mungkin tidak merasa berkepentingan lagi dan sudah lelah juga merepotkan diri hingga mau memberikan masukan kalau tidak dengan sengaja ditanya. Bahkan mungkin itulah salah satu alasan mereka memutuskan pindah gereja: merasa suaranya tak didengar. Adakah orang-orang ini mendapat perhatian dalam pemikiran sistemik gereja? Atau, mereka yang sudah melangkah ke arah pintu keluar dibiarkan saja karena semua orang sudah punya kesibukannya masing-masing?

Ini memang bukan satu hal yang mudah. Membuat kuesioner (atau daftar pertanyaan wawancara) yang efektif sendiri sudah menjadi tantangan. Apalagi mengintegrasikannya ke dalam sebuah sistem yang generasi demi generasi sudah biasa terobsesi dengan diri sendiri. Dari struktur gereja yang ada, mungkin paling ideal memasukkan fungsi ini ke dalam urusan penggembalaan dan pelawatan. Bagian penggembalaan dan pelawatan perlu mendeteksi siapa saja yang mulai menjauh, lalu memberi perhatian lebih kepada mereka – menjumpai mereka di mana mereka ada.

Untuk keperluan itu, bagian penggembalaan perlu mengembangkan sistem keanggotaan yang cerdas yang bisa mendeteksi masalah-masalah ini secara dini dan pelawatan dilakukan berdasarkan sistem ini, bukan sekedar rotasi rutin. Bukan hal yang mudah. Di tempat saya sendiri, upaya selama 3 tahun memperbarui bagian ini hanya mampu membawa pergeseran beberapa cm saja – gagal total dari rencana semula. Dibutuhkan kombinasi antara hati yang mau melayani jemaat yang Tuhan percayakan, kemampuan intelektual untuk mengelola perubahan yang drastis, kemauan untuk mendobrak dinding-dinding tradisi, serta kesadaran betapa mendesaknya kebutuhan ini.

Selama orang-orang yang pindah gereja bungkam seribu bahasa dan tiba-tiba menghilang dan orang-orang yang ditinggalkan juga cuek-cuek saja, tidak lebih dari melambaikan tangan dan mengangkat bahu, bagaimana pembaruan bisa terjadi? Ada begitu banyak jiwa kesepian dan terhilang di dalam gereja. Siapa yang mau menjangkau mereka?

4 thoughts on “Pindah Gereja

  1. IMHO: bagi saya seseorang pindah gereja (atau pindah kebaktian atau pindah bagian) alasan krusialnya adalah karena mereka merasa tidak bertumbuh. mereka hanya datang, duduk, kemudian pulang. masih sukur pulang mendapatkan sesuatu kalau tidak?

    inilah yang terjadi pada saya. saya pindah ke bagian pemuda, karena pemuda itulah saya bisa bertumbuh. dengan Ikut kebaktian pemuda saya merasa saya bisa mendapatkan sesuatu dalam kebaktian itu. sebelumnya saya ikut di kebaktian 1 di GKK. Entah kenapa, sulit sekali rasanya mengunyah isi kotbah di kebaktian 1, mungkin juga karena kebaktian 1 target marketnya bukan umur pemuda. karena itu, ketimbang saya tidak bertumbuh lebih baik saya pindah ke bagian pemuda.

  2. Hai.. Nice blog, but cliche..

    Pertanyaannya, keberadaan seorang jemaat di suatu gereja, apakah itu titipan Tuhan atau pilihan pribadi?

    Biasanya sih, orang yang udah mau cabut dari gerejanya, males kalo ditanya-tanya.. Yah, emang banyak alasannya sih.. N orang kan macem2.. Cuma kalo g sih, males aja ditanya-tanya, I’ll be irritated. :p

      1. ha8.. g pernah apa yah.. hmmm bisa dibilang diskusi sama salah seorang kenalan yang beragama katolik, dan bicara tentang “mencuri domba”, dan temen g ini, dengan nyablak bilang : “yah, biasa.. uud… apa sih inti dari seorang jemaat harus dipertahankan di suatu gereja kalau bukan masalah duit?”

        g shock sih dengan ke-cablak-an dia itu.. tapi kalimat dia jadi suatu pemikiran di kepala g. pindah gereja, bukan berarti ganti Tuhan. g percaya ada alasan2 yg sangat2 acceptable seperti pindah gereja karena pindah rumah.. meskipun g yakin juga pasti banyak alasan2 lain seperti : ga cocok sama si a, atau ga suka sama pendeta b, dst..

        g tidak memandang pindah gereja itu salah, to be honest, meskipun beberapa orang beranggapan demikian (note : bukannya g bilang loe punya prinsip seperti itu lhoo, karena tidak tercermin seperti itu di blog ini). g cuma punya pemikiran seperti : pindah gereja bukan berarti ganti Tuhan, karena g ga ganti Tuhan, ga ada kepentingan gereja untuk “melarang” atau “tidak setuju” ataupun sekedar basa-basi “kenapa?”

        pertanyaannya, kenapa suatu gereja harus mempertahankan jemaat yang dimilikinya? yah, mungkin bisa dibilang titipan Tuhan. tapi kalo emang titipan Tuhan, pas mo pegi, harusnya didoakan yang baik, be happy for her/him, dan tidak boleh ada kesan seperti orang baru kecolongan. apalagi kalo jemaatnya pindah ke gereja yang beda denominasi.

        buat g, ini sama dengan percaya Tuhan dan bergereja ke gereja a, bukan berarti harus jadi jemaat gereja a. harusnya gereja dengan tangan terbuka menerima jemaat dari gereja mana saja, tidak ada dorongan untuk harus menjadi gereja a.

        Note untuk pembaca : semua hal yang g tulis di sini, bukan berarti ini adalah apa yang gkk terapkan, ini hanya pemikiran dan kejadian yang g liat berdasarkan pengamatan g terhadap sekeliling g selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s