Tuhan Akan Menyediakan: Kisah di Balik M.Div. dan M.Pd.


Melihat deretan gelar akademik di belakang nama saya, banyak orang berdecak kagum. Melalui tulisan ini, saya berharap bisa mengubah decak kagum itu menjadi sebuah pengakuan betapa dahsyatnya Tuhan: jika Dia yang berkehendak, maka Dia juga yang akan menyediakan semua kebutuhan kita, sesuai dengan kerangka waktu-Nya.

Dalam waktu 11 tahun saya mendapatkan 4 gelar akademik: S.T. dalam Teknik Industri, S.Kom. dalam Sistem Informasi, M.Div. dalam Teologi, dan M.Pd. dalam Ilmu Pendidikan. Dua program sarjana saya tempuh bersamaan dalam program jurusan ganda di Binus selama 5 tahun. Di Indonesia kita biasanya memilih program sarjana masih dengan bimbingan guru BK, arahan dari orang tua, juga dengan biaya orang tua; maka, saya tidak akan menggunakan banyak ruang untuk mendiskusikan masa studi sarjana saya. Saya akan memfokuskan perhatian pada masa-masa studi magister saya dengan harapan tulisan ini juga bisa membantu pembaca yang tengah bergumul dengan panggilan untuk melanjutkan studi ke program magister untuk menggumulkan panggilan dan penyertaan Tuhan di dalam studinya.

Studi terus-menerus selama 11 tahun membutuhkan dana yang besar. Ini tentu satu faktor dominan yang menggelayuti pikiran banyak orang ketika hendak melanjutkan studi ke program magister. Anda pun mungkin mengira saya punya banyak uang sehingga bisa studi terus-menerus selama 11 tahun. Kenyataannya justru sebaliknya.

Saat saya lulus dengan gelar ganda S.T. dan S.Kom., jumlah uang yang saya miliki sekitar Rp300.000. Itu di tahun 2003 dan jumlah itu mencakup semua uang yang saya miliki, dari yang di rekening bank hingga uang receh kembalian supir mikrolet. Dengan jumlah uang sebanyak itu, saya mempunyai dua pilihan pekerjaan: yang satu menawarkan gaji di atas Rp5.000.000 per bulan sementara yang lainnya Rp918.000 per bulan. Yang mana yang saya ambil? Yang kedua, dengan gaji yang lebih kecil. Komitmen pelayanan yang saya miliki di gereja berbentrokan dengan tuntutan tawaran pekerjaan yang pertama, sehingga jika saya menerima tawaran itu, otomatis saya harus meninggalkan semua komitmen saya di gereja, termasuk menjadi Ketua Bagian Literatur dan pembimbing KTB. Jadi saya mengambil tawaran kedua.

M.Div.
Salah satu cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi pendeta. Kelak di SMP cita-cita ini saya tanggalkan karena saya mendapati diri saya selalu grogi di depan umum dan saya tidak bisa mengartikulasikan kata-kata saya dengan cukup jelas. Namun, keinginan untuk belajar Teologi tetap ada. Di sisi lain, saya pikir dengan keterlibatan saya sebagai guru di sebuah sekolah Kristen, saya membutuhkan landasan ilmu yang sesuai. Dalam bulan Juli 2003, saat saya mulai mengajar, STT Cipanas milik Gereja Kristus Ketapang membuka kelas di Jakarta yang bertempat di Ketapang. Saya pikir ini kesempatan yang baik sekali yang Tuhan bukakan. Maka saya pun mendaftar. Dengan uang Rp300.000, saya mendaftar untuk satu program yang akan membutuhkan biaya Rp15.000.000 selama 3 tahun ke depan. Pdt. Paulus Kurnia menawarkan agar honorarium saya sebagai editor dan penata letak Katekismus Sinode Gereja Kristus digunakan untuk membayar sebagian dari uang pangkal yang dibutuhkan, sekaligus akan ditambah dana dari donatur yang akan beliau carikan. Saya menyetujui rencana beliau.

Langkah masuk ke STT Cipanas itu sebagian adalah langkah iman, tetapi sebagian juga didasarkan atas perhitungan yang realistis. Saya tidak berharap Rp300.000 itu entah bagaimana akan bertumbuh berkali lipat untuk mencukupi Rp15.000.000, tetapi saya menghitung cashflow saya dengan Rp918.000 per bulan itu agar mencukupi biaya hidup saya, biaya untuk orang tua, sekaligus juga biaya kuliah per semester. Dengan gaji pertama saya, saya membayarkan biaya kuliah semester pertama yang tertera di brosur M.Div., sedangkan pembayaran uang pangkal seluruhnya ditangani Pdt. Paulus Kurnia. Pada akhir semester 1, saya mendapat surat tagihan yang menyatakan saya baru melunasi 1/3 biaya semester 1. Terkejut, saya bertanya: “Bukankah sudah saya lunasi semua biaya ini di awal perkuliahan? Kenapa biaya yang dituliskan di tagihan ini (per semester!) sekarang jadi membengkak 3x lipat?” Dengan enteng sang admin mengatakan, “Oh, brosurnya salah cetak.” Gubrak! Karena brosur salah cetak, maka biaya kuliah membengkak 3x lipat. Semua perhitungan cashflow saya jadi berantakan dan praktis tidak relevan lagi. Tapi entah bagaimana, bulan demi bulan, Tuhan selalu mencukupkan hingga 3 tahun saya selesai studi. Ada saja penghasilan tambahan yang Tuhan sediakan setiap bulannya. Akhirnya di bulan Mei 2006 saya lulus program M.Div. itu, tanpa masalah keuangan apa pun.

Selama 3 tahun masa studi M.Div., saya tidak pernah mendapatkan sejumlah besar uang secara tiba-tiba; juga saya tidak pernah sampai mempunyai pekerjaan kedua (dan gaji kedua). Mungkin ini cara Tuhan membentuk saya untuk belajar beriman: bukan dengan disediakan sejumlah besar dana untuk bertahan 3 tahun, tetapi dengan dicukupkan hari demi hari, bulan demi bulan. Inilah masa dalam hidup saya yang kalau dihitung-hitung, gaji tidak akan cukup untuk menghidupi diri sendiri plus membayar biaya kuliah; tetapi toh kenyataannya semua selalu tercukupi.

M.Pd. – Awal
Menjelang akhir masa studi M.Div., saya ingin melanjutkan ke M.Th. Sejumlah persiapan yang cukup serius sempat saya buat untuk mengambil M.Th. Dalam pergumulan selanjutnya, akhirnya saya temukan bukan itu yang Tuhan inginkan dari hidup saya. Toh hingga saat ini tidak ada panggilan untuk menjadi rohaniwan gereja – betapa pun menggiurkannya kehidupan rohaniwan gereja dibandingkan guru di sekolah Kristen. Nihil panggilan, akhirnya saya temukan bahwa yang tepat bagi saya adalah mengambil M.Pd.

Setelah 3 tahun hidup dengan gaji seadanya dan pengeluaran gila-gilaan karena beban studi (bukan saja uang kuliah, tetapi juga biaya riset dan buku-buku untuk penulisan tesis), pada saat saya lulus M.Div. saya memiliki sekitar Rp2.000.000. Biaya M.Pd.? Rp34.000.000 untuk masa studi 2 tahun. Untuk masuk saja, pembayaran pertama akan ditagihkan sebesar Rp11.000.000. Benarkah Tuhan ingin saya mengambil M.Pd.?

Setelah mengadakan survei singkat, saya menemukan yang tepat bagi saya adalah program M.Pd. di UPH. Saat itu pertengahan Juni 2006. Tes seleksi masuk terakhir akan diadakan dalam 1 minggu dan kuliah akan dimulai dalam 1,5 bulan. Dalam waktu yang singkat, saya datang ke UPH, saya membeli formulir, mengajukan permohonan beasiswa ke kantor. Proses yang singkat dan cukup gila. Tapi toh semua berjalan lancar. Saya lulus seleksi dengan nilai baik dan permohonan beasiswa disetujui tanpa macam-macam pertanyaan. Saya ingat tenggat waktu pembayaran Rp11.000.000 dari UPH sudah tinggal beberapa hari lagi sehingga kantor mengatakan bahwa saya harus meminta dispensasi rentang waktu pembayaran dari UPH karena proses yang begitu mendadak ini. Akhirnya pada akhir Juli 2006 semua urusan administrasi beres dan saya mulai kuliah.

Ada catatan: beasiswa yang saya terima dari kantor tidak 100%; seingat saya plafon total yang akan diberikan selama masa studi adalah Rp25.000.000 dari Rp34.000.000. Bagaimana saya akan mencukupi kekurangan itu? Entahlah. Saya tidak tahu. Di kemudian hari, saat riset tesis saya membutuhkan dana yang besar sehingga total biaya M.Pd. saya menembus Rp40.000.000 (pada akhirnya angkanya ada di kisaran Rp50.000.000), saya sempat meminta plafon ini dinaikkan satu kali dan saya diberikan kucuran dana kedua senilai beberapa juta rupiah (saya lupa jumlahnya). Itu pun adalah perjalanan iman yang luar biasa bagi saya. Dengan uang Rp2.000.000, memulai studi bernilai Rp50.000.000? Wow! Entah lebih tepat disebut beriman atau gila.

M.Pd. – Akhir
Di awal tahun 2008 ada sejumlah pergumulan dalam pekerjaan yang saya alami, baik personal maupun profesional. Setelah berulang kali pergumulan ini saya sharingkan dengan gamblang kepada pihak kantor dan tidak ada tanggapan, saya memutuskan sudah saatnya untuk pergi: demi kebaikan saya, juga demi kebaikan keluarga saya. Bagaimana dengan studi M.Pd. saya yang belum selesai? Setidaknya ada dua faktor yang memang harus dipertimbangkan: (1) M.Pd. ini dimulai dengan beasiswa dari kantor sehingga tentu mereka ingin menyicipi juga hasilnya dan karena itu ada ikatan dinas, (2) jika saya keluar saya harus membayar ganti rugi atas beasiswa dan ikatan dinas.

Untuk poin pertama, saya menemukan bahwa ternyata M.Pd. saya tidak berguna di lembaga tersebut. Inovasi dan perbaikan dibiarkan dalam vakum; perubahan struktural yang dijanjikan juga tak kunjung tiba. Artinya, mereka memang tidak mau memetik buah dari pohon yang telah mereka tanam. Salah satu buktinya adalah ketiadaan reaksi atas sharing pergumulan profesional saya. Pekerjaan yang diberikan pada akhirnya tidak selaras dengan nama jabatannya dan juga dengan pendidikan saya.

Untuk poin kedua, lagi-lagi saya melihat campur tangan Tuhan yang luar biasa. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana saya akan membayar denda beasiswa yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah tersebut. Tetapi satu hal yang saya yakini sekali saat itu: saya perlu mencari pekerjaan baru. Saya tidak mencari pekerjaan dengan diam-diam. Setelah sharing saya sekian bulan didiamkan, saya katakan: “Saya akan mencari pekerjaan baru,” dan untuk setiap wawancara dan presentasi pun saya meminta izin. Jadi, saya sangat tansparan dalam seluruh proses ini. Hanya saja, satu yang tidak saya tahu: bagaimana saya akan membayar denda beasiswa ini?

Setelah beberapa kali izin untuk wawancara, presentasi, dan negosiasi gaji, akhirnya saya menandatangani kontrak dengan tempat kerja berikutnya. Lantas saya pun memasukkan surat pengunduran diri saya. Tetap tanpa saya tahu bagaimana saya akan membayar denda beasiswa ini. Baru saat inilah orang-orang di kantor kebakaran jenggot: semua sharing yang telah terjadi sekian bulan itu seakan-akan baru sekarang menjadi nyata bagi mereka. Tapi toh saya sudah tanda tangan kontrak – dan juga setiap langkah dari proses perpindahan itu saya lakukan dengan transparan di hadapan mereka. Di sini saya sudah bersikap setulus-tulusnya dalam proses perpindahan kerja.

Ajaibnya, pada hari yang ketiga setelah saya memasukkan surat pengunduran diri, ada orang yang menghubungi saya, menanyakan, “Saya dengar kamu mau pindah kerja? Bukankah ada ikatan dinas dan beasiswa yang harus kamu bayarkan kembali kalau pindah? Apakah ada dananya?” Dia mendukung saya dan menjanjikan sejumlah dana untuk ditransfer ke rekening saya. Orang kedua menelepon. Lalu orang ketiga. Dan seterusnya. Dalam waktu kurang dari 1 minggu, saya sudah dijanjikan dana berkali-kali lipat dari yang saya butuhkan, sampai saya harus menolak-nolak tawaran orang-orang untuk mentransfer dana agar saya bisa pindah dengan baik-baik dari kantor ini.

Sebulan sesudah itu, saya keluar dari kantor lama dan masuk ke kantor baru. Saat itu Oktober 2008. Saya melanjutkan riset tesis saya dan pada tahun 2009 pun saya lulus dengan M.Pd. saya dari UPH. Setiap kebutuhan dana tercukupi pada waktunya secara luar biasa. Saya tidak pernah sampai harus berutang atau menunggak kepada UPH.

Di Saat Segalanya Terlihat Mustahil …
Dengan Rp300.000, saya memulai studi senilai Rp15.000.000; dengan Rp2.000.000, saya memulai studi senilai Rp50.000.000; dan keduanya saya selesaikan dengan baik, juga tanpa pernah kekurangan apa pun. Dari mana semua ini bisa didapatkan? Bagaimana menghitung cashflow-nya? Saya tidak tahu. Tapi ini yang saya tahu: Tuhan ingin mengerjakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang besar; di dalam kita, melalui kita; ketika Ia berkehendak, siapa kita sehingga mau menghalangi rencana-Nya? Ia akan menyediakan, pada waktu-Nya. Apa yang Ia kehendaki dari kita? Keberanian untuk melangkah. Di saat segalanya terlihat mustahil, di situlah kebesaran-Nya dan penyertaan-Nya menjadi nyata. Ketika kita hanya berani mengambil langkah-langkah kecil, bagaimana kebesaran Tuhan mau dinyatakan dalam hidup kita?

5 thoughts on “Tuhan Akan Menyediakan: Kisah di Balik M.Div. dan M.Pd.

  1. Hallo Pak Andrea,

    Saya baru tahu kalau Pak Andrea punya Blog yang sangat baik dan inspiratif. Saya suka sekali membaca tulisan ini, mengingatkan saya tentang iman dan percaya atas kuasa-Nya. :D

    i’ll be visiting this page more often for sure., :)

  2. Your testimonial just inspired me a lot more than all worldly achievement, Bro! I am really thankful to know Godly man like you. You have indeed under The Grand Weaver’s beautiful plan and I am very excited to see another surprise that God’ve already provided for you! Keep inspiring everyone with this story bro! Today, I learn all worldly achievement is nothing compared to the journey from glory to glory to the Promised Future we have in Christ!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s