Perjalanan Menemukan Passion


Untuk waktu yang cukup lama saya mengalami disorientasi hidup. Dua masalah serius yang saya identifikasi dalam hidup saya adalah: berubahnya peran gereja secara de facto dalam hidup saya dan ketiadaan komunitas pendukung bagi saya dalam menghadapi pergumulan-pergumulan hidup yang paling serius. Ketika saya mulai berupaya merumuskan antropologi gereja saya mendapat jawaban atas masalah pertama. Ketika saya berjumpa dengan teman-teman baru di SAAT Ministry Center solusi atas masalah kedua berangsur-angsur tersedia di depan mata. Ketika kedua masalah ini teratasi, saya baru menyadari ada masalah besar ketiga yang selama ini juga saya hadapi, tetapi tidak saya sadari: saya sudah kehilangan passion. Apa itu passion? Kenapa saya bisa kehilangan passion? Bagaimana mengobarkan kembali passion dalam hidup saya? Ini adalah kisah pergumulan saya hingga menemukan kembali apa sebenarnya passion itu.

Tahun 2012 belum juga berumur 10 minggu, tetapi sudah separuh di antaranya saya habiskan tanpa bisa berdoa. Dalam waktu doa saya, saya hanya bisa membawa keletihan dan desahan saya serta bertanya, “Tuhan, apa yang Tuhan mau dalam hidup saya? Saya harus ngapain? Saya kehilangan passion. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dan untuk apa saya harus terus berjuang.” Dengan beberapa kejutan yang terjadi dalam hidup saya, saya merasa banyak – kalau bukan semua – hal yang saya lakukan seakan tak bermakna lagi. Hidup mengalir begitu saja, mengikuti ritme pagi-siang-malam, Senin-Minggu …. Hingga satu ketika saya menyadari sudah berapa lama saya berada dalam lingkaran setan ini, terus-menerus berputar-putar pada pemikiran yang sama: hari demi hari, hingga minggu berganti minggu. Saya harus menerobos keluar dari kungkungan pemikiran yang melumpuhkan ini. Di sinilah metakognisi berperan besar.

Saya menantang pemikiran saya sendiri, “Atas dasar apa saya katakan ‘saya kehilangan passion’? Apa maksudnya ‘kehilangan passion’? Apa itu ‘passion’?” Pergumulan inilah yang kemudian membawa saya kepada definisi passion yang saya tweet-kan di akhir dari perenungan itu.

kegigihan yang terfokus …
Elemen yang pasti ada dalam sebuah passion adalah kegigihan. Ketika kita katakan “saya passionate tentang x”, maka pasti ada kegigihan dalam diri kita untuk mengejar dan mencapai x itu. Dalam sebuah sesi diskusi, peserta diminta saling menggambarkan diri masing-masing ke orang-orang di kiri-kanan kami dalam 1 label yang singkat yang bisa membuat orang punya gambaran umum mengenai diri tetangganya. Saya katakan, “Saya seorang curriculum designer.” Ibu di sebelah saya mengatakan, “Saya seorang yang passionate.”

Dalam hati, saya berpikir, “passionate”? Itu adalah sebuah ajektif kan? Passionate membutuhkan obyek: passionate tentang apa? Tentang segala-galanya? Apa iya, dia seorang yang passionate dalam pekerjaannya (mengelola pabrik)? Lantas, dia juga passionate saat nyetir? Dia passionate saat menulis email? Dia passionate saat memotong steak untuk dimakan? Anda bisa bayangkan orang yang melakukan segala hal terkecil dalam hidup dengan passion? Bayangkan orang yang menyikat gigi dengan passionate dan memakai lipstik dengan passionate. Aneh bukan?

Yang namanya passion, walaupun gigih, membutuhkan fokus. Kenyataannya, ada banyak hal dalam hidup yang tidak perlu passion: hal-hal rutin dalam hidup kita sudah menjadi otomatis kita lakukan dan tidak perlu kita pikir-pikirkan lagi, seperti makan, mandi, berpakaian, menyikat gigi, dsb. Maka, passion bukan sekedar kegigihan, melainkan kegigihan yang terfokus.

… yang menghasilkan keuletan yang awet, …
Kegigihan yang terfokus itu memampukan kita untuk tetap ulet mengerjakan hal yang membuat kita passionate, berjuang untuk mewujudnyatakannya, bukan hanya untuk jangka pendek, tetapi juga untuk jangka panjang. Passion, saya pikir, berguna untuk hal-hal yang besar dalam hidup: mewujudkan cita-cita, mengembangkan karier dan usaha, membangun hubungan dan keluarga. Passion adalah satu hal yang kita alokasikan untuk hal-hal besar dalam hidup kita. Karena itu, sangat penting bahwa keuletan yang dibawa oleh passion tidak cepat pudar – itu adalah tanda bahwa keuletan itu dipicu oleh kondisi belaka dan bukan ekspresi dari passion. Keuletan yang dipicu oleh passion akan awet, bertahan dalam jangka panjang. Dalam bahasa “7 Habits“-nya Steven Covey, keuletan ini berada di kuadran 2.

… memampukan pemiliknya untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam rencana yang telah digariskannya.
Passion tidak lantas membuat semuanya lancar. Passion mengubah diri kita, tetapi tidak lantas mengubah keadaan kita. Namun, passion memberikan kekuatan kepada kita untuk menanggung berbagai kesulitan hidup sehingga kita bisa terus berjuang mewujudnyatakan mimpi kita. Passion juga memberikan kita daya juang untuk menerobos dan mendobrak berbagai hambatan yang menghalangi derap langkah kita. Bahkan ketika perjalanan hidup membawa kita melalui belokan-belokan dan medan yang tak terduga, passion memampukan kita untuk menghadapi apa yang ada di depan mata demi terwujudkannya passion itu.

Passion yang Hilang?
Ada banyak hal yang dulu membuat saya passionate – buku, gereja, pendidikan – jadi terasa redup. Memang masih ada sisa2nya, tapi tidak cukup banyak untuk membuat ledakan, cuma adem-ayem. Passion yang ada malah 1 hal yang dulu rasanya tidak pernah ada: passion buat makan enak tiap hari (hehe, ini masalah serius lho …). Apa yang terjadi?

Waktu saya memikirkan ulang kondisi saya dan definisi yang saya rumuskan tadi, saya temukan masalahnya sudah ada sejak di kata pertama: saya tidak punya fokus lagi. Ada banyak kegiatan yang saya lakukan, tetapi saya sendiri tidak tahu apa yang ingin saya capai dan bagaimana saya akan berjuang untuk mencapainya.

Menemukan kembali passion yang hilang rupanya bukan sesuatu yang abstrak dan jauh; melainkan sesuatu yang sederhana, walaupun tidak mudah: menemukan kembali fokus hidup. Memiliki banyak energi, tapi tersebar ke mana-mana membuat saya merasa seperti Bilbo Baggins:

“I feel thin, sort of stretched, like butter … scraped over too much bread.”

One thought on “Perjalanan Menemukan Passion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s