Antropologi Gereja


Siapa kita? Gereja kita ini gereja semacam apa? Dengan sukarela, banyak orang akan berbondong-bondong memberi jawaban mereka. Jawaban-jawaban yang subyektif dan – seringkali – tak berguna. Komunitas-komunitas gereja dengan mudah mendefinisikan diri mereka sendiri dalam ketidakpedulian dengan komunitas lain di sekitarnya, entah karena puas diri atau gengsi. Seberapa sering kita mencoba mengevaluasi diri kita dalam konteks hidup-bersama dengan komunitas-komunitas gereja lain? Ini adalah satu hal yang bisa ditawarkan oleh Antropologi Gereja.

Antropologi adalah sebuah disiplin ilmu sosial yang mencoba memahami sebuah konteks hidup manusia dalam perbandingan dengan konteks lainnya. Dr. Conrad Phillip Kottak dalam bukunya Anthropology: Appreciating Human Diversity mengatakan:

Anthropology is a uniquely comparative and holistic science. Holism refers to the study of the whole of the human condition: past, present, future; biology, society, language, and culture.

Antropologi dapat membantu kita memahami konteks kita dalam perbandingannya dengan komunitas-komunitas gereja lain di sekitar kita.

Gereja dipanggil untuk menjadi garam dan terang bagi lingkungannya. Bagaimana kita melakukannya? Ada banyak cara. Di tengah konteks Jakarta sendiri yang memiliki beragam kelompok masyarakat, etnik, dan strata sosial gereja dapat memahami konteks sosialnya dalam tiga lapis: (1) lapis yang pertama adalah gereja di tengah masyarakat Jakarta yang sama yang menjadi konteks pelayanan bagi ribuan komunitas gereja lainnya, (2) demografi masyarakat yang dipilih (entah dengan sadar maupun tidak, dengan sukarela maupun tidak) oleh gereja tersebut untuk dijangkau dan dilayani, dan (3) komunitas gereja itu sendiri sebagai sebuah konteks dan sistem sosial.

Lapisan pertama adalah entitas sosial yang sama untuk siapa pun yang mengklaim “Jakarta” sebagai ladang pelayanannya, tetapi tentu kita paham tidak ada satu gereja pun yang bisa menggembalakan seluruh Jakarta sendirian. Kita perlu memilih ladang pelayanan kita secara spesifik, maka lahirlah lapisan kedua. Ada gereja-gereja suku yang hadir di Jakarta, tentu mereka hanya melayani umat dari suku tertentu. Ada gereja-gereja yang hadir di tengah permukiman tertentu, tentu mereka memfokuskan diri untuk melayani umat yang tinggal di sekitar daerah itu. Konteks lapis kedua ini akan sangat beraneka ragam. Mereka hadir sebagai sebuah sistem sosial yang memiliki identitasnya sendiri sekaligus merupakan fungsi dari lapis pertama, sebagai bagian dari Jakarta. Lapis kedua ini selanjutnya akan disebut sebagai “konteks sosial” bagi masing-masing gereja. Pertanyaannya, seberapa baik setiap gereja memahami konteks sosialnya masing-masing? Bagaimana kita meningkatkan pemahaman kita terhadap konteks sosial kita? Ketika kita mengenal konteks sosial kita, tak pelak pemahaman ini akan membantu kita melayani mereka dengan lebih baik, menyalurkan kasih Kristus kepada mereka sesuai kebutuhan mereka.

Lantas, ada lapisan ketiga yang melihat ke dalam, kepada masing-masing komunitas gereja sebagai sebuah sistem sosial juga. Dalam panggilan kita untuk menjadi saluran kasih Tuhan kepada dunia, maka ada dua faktor yang seharusnya mendefinisikan kita: (1) kasih Tuhan yang menjadi sumber dan isi yang hendak disalurkan, serta (2) konteks sosial yang menjadi sasaran penyaluran kasih tersebut. Dengan kata lain, keberadaan kita, bentuk kita, struktur organisasi kita, ada sebagai akibat dan fungsi dari pemahaman kita tentang dua hal tersebut. Ini selanjutnya akan disebut sebagai “sistem sosial” gereja. Ketika ada komunitas lain yang melayani jemaat dalam konteks sosial yang serupa dengan cara yang berbeda, ada banyak hal yang bisa dipelajari oleh kedua belah pihak; mereka dapat sama-sama mengevaluasi diri dan melihat kelebihan serta kekurangan masing-masing sehingga keduanya dapat meningkatkan efektivitas sebagai penyalur kasih Tuhan.

Bagaimana dengan gereja-gereja yang tidak melayani konteks sosial yang sama? Dalam konteks Jakarta, setidaknya kita masih memiliki konteks lapis pertama yang sama, yaitu Jakarta. Masih ada hal yang bisa kita pelajari. Bahkan, dengan mempertimbangkan doktrin-doktrin manusia, dosa, dan keselamatan, kita bisa mengatakan bahwa ada kesamaan yang mendasar di antara sesama umat manusia dan ada universalitas keberlakuan Firman Tuhan yang membuat kita bisa dengan agak lebih leluasa belajar dari keberhasilan maupun kegagalan komunitas gereja lain dalam melayani konteks sosialnya masing-masing tanpa harus terkungkung oleh ruang lingkup gereja-gereja dengan konteks sosial yang sama. Dengan demikian, dari sesama komunitas orang percaya di mana pun kita dapat belajar hal-hal prinsip tentang melayani sesama dan menjadi saluran saksi Kristus, sementara dari komunitas-komunitas gereja yang melayani konteks sosial yang serupa dengan kita, kita dapat belajar hal-hal yang lebih praktis dalam mengkonkretkan kasih Kristus itu.

Bagaimana melakukannya? Semua orang bisa berefleksi. Tetapi, sekadar berefleksi saja tidak cukup. Refleksi yang disiplin dan teratur – dengan kata lain, refleksi yang ilmiah – akan sangat membantu kita untuk menyamakan persepsi dan definisi, membangun kerangka pemikiran yang mudah dipahami bersama, serta memfasilitasi komunikasi dan saling-pengertian di antara sesama umat yang memiliki pergumulan yang serupa. Di sinilah Antropologi sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang memiliki seperangkat alat menjelajah berbagai aspek sistem sosial manusia secara komparatif dapat memberikan kontribusinya secara efektif. Paradigma dan metode Antropologi dapat diterapkan kepada sistem sosial gereja (lapisan ketiga di atas) dan konteks sosial gereja (lapisan kedua di atas).

Membedah dan membanding-bandingkan sistem sosial satu komunitas gereja dengan komunitas lainnya mengandung risikonya sendiri. Beberapa di antaranya misalnya: menimbulkan kegerahan dan kegelisahan pada komunitas yang mengetahui dirinya sedang ditelaah, menimbulkan penolakan dari pimpinan gereja yang merasa dirinya sedang dinilai (atau bahkan dihakimi), belum lagi ketakutan bahwa pada akhirnya gereja mereka akan dicap jelek sehingga berkurang pamornya. Di sisi lain, para anggota jemaat juga bisa ikut menjadi defensif terhadap komunitas yang mereka rasa sudah menjadi bagian dari diri dan identitas mereka sehingga setiap sikap kritis dipandang sebagai serangan pribadi. Hal-hal di atas bisa membuat satu komunitas, alih-alih maju, malah semakin tertutup dan mundur, menjadi seperti sebuah jargon yang lazim kita gunakan “hanya untuk kalangan sendiri”. Dalam sebuah penelitian sosial, praktis tak terhindarkan bahwa kehadiran sang peneliti dan kegiatan penilitiannya akan mempengaruhi subyek penelitian tersebut. Namun, saya pikir risiko ini adalah risiko yang patut dihadapi dengan kepala tegak.

Konteks sosial di sekitar kita terus berubah. Seberapa siap kita melayani kebutuhan mereka dan membawa kasih Kristus kepada mereka? Sistem sosial di dalam gereja pun terus berubah seiring dengan perkembangan zaman. Beranikah kita bercermin dan melihat kondisi kita yang sesungguhnya? Dr. Peter Enns mengingatkan kita dalam bukunya The Evolution of Adam: What the Bible Does and Doesn’t Say about Human Origins,

“… as much attention as we might give to preserving the past, it is equally important to give adequate thought to preparing the church for the future. I feel that if we do not engage Scripture with future believers in mind, we will unwittingly erect unnecessary and tragic obstacles to belief.”

Mengacu kepada peringatan Dr. Karl Barth,

“The Pastor and the Faithful should not deceive themselves into thinking that they are a religious society, which has to do with certain themes; they live in the world. We still need – according to my old formulation – the Bible and the Newspaper,”

kita dapat juga mengatakan bahwa kita perlu dengan sungguh-sungguh menggumulkan, “Siapakah orang-orang ini yang kita layani?” sehingga jangan sampai kita merasa diri tengah berjerih lelah dalam sebuah pelayanan, tetapi pelayanan kita sebenarnya tengah menegakkan tembok-tembok yang menghalangi orang-orang di luar gereja untuk bergabung dan menjadi percaya, atau bahkan secara tak sengaja mengusir orang-orang muda di dalam gereja karena hal-hal yang kita lakukan secara tidak langsung mengatakan, “Maaf, bukan di sini tempatmu.”

Pertanyaannya: bersediakah gereja menerima uluran tangan dari ilmu-ilmu sosial? Jika ‘ya’, nampaknya ini saat yang tepat untuk memulai sebuah disiplin ilmu Antropologi Gereja.

One thought on “Antropologi Gereja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s