Sang Pemberi Makna


Otak kita menyukai keteraturan dan kebermaknaan. Ketika ada peristiwa yang tidak kita ketahui maknanya, ada satu modul dalam otak kita yang mempunyai tugas khusus untuk membuat peristiwa itu menjadi bermakna. Ketika kita hanya mengetahui informasi yang sepotong-sepotong, kita suka menebak apa makna di balik informasi itu. Ini pun tugas dari modul yang sama, modul yang dinamai The Interpreter, “Sang Pemberi Makna”, oleh Dr. Michael S. Gazzaniga dalam bukunya Who’s in Charge?: Free Will and the Science of the Brain.

Fungsi yang mengisi lubang-lubang makna dalam hidup kita sehari-hari ini berjalan dengan otomatis, tanpa disadari kebanyakan manusia. Bahkan, untuk mempunyai kesadaran bahwa kita sudah membuat lompatan penalaran membutuhkan latihan dan pembiasaan yang tidak ringan. Saya pikir ini adalah satu bagian dari proses perjuangan orang menjadi pribadi yang terpelajar: mengenali asumsi-asumsi, membangun argumen, bernalar langkah demi langkah berdasarkan argumen-argumen yang ada, hingga tiba pada kesimpulan. Dibutuhkan keterampilan dan disiplin untuk menyaksikan apa yang kita saksikan tanpa menambal lubang-lubang makna dengan isi yang kita buat-buat sendiri.

Di dunia akademik, hal ini berkait erat dengan metakognisi, yaitu kemampuan untuk memahami pemikiran kita sendiri. Salah satu elemen metakognisi adalah kemampuan memahami batas-batas pengetahuan dan kemampuan sendiri. Inilah sebabnya dalam forum akademik seringkali kita mendengar orang mengatakan, “Sejauh yang saya tahu …” atau “Dari perspektif saya yang terbatas …” atau “Kalau saya coba lihat dari kacamata disiplin saya, maka saya memandang … tetapi mungkin Bapak/Ibu dari disiplin ilmu yang lain memiliki pandangan yang berbeda ….” Hal ini menggambarkan sebuah sikap mental yang biasa disebut sebagai academic humility. Kita menyadari batas-batas kemampuan kita. Semakin kita belajar, semakin kita tahu betapa terbatasnya pengetahuan dan kemampuan kita.

Academic humility tentu bukan satu hal yang lazim dijumpai di luar dunia akademik. Dunia politik, dunia institusi keagamaan, dunia bisnis biasanya tidak berkepentingan dengan sikap mental tersebut. Mungkin malah orang memandang aneh ketika seseorang dipandang cerdas tetapi kok memiliki begitu banyak pertimbangan, ketidakpastian dan keragu-raguan untuk memberikan penilaian yang final dan definit. Saya teringat dalam sebuah peristiwa ketika seorang kenalan ditangkap polisi dan didakwa melakukan satu kejahatan yang serius. Telepon dan SMS yang bertubi-tubi masuk memiliki nada yang sama: tolong doakan orang ini karena dia ditangkap polisi dan didakwa melakukan kejahatan. Reaksi pertama saya nampaknya telah mengejutkan dan membuat terpukul banyak orang. Bagaimana saya bereaksi?

Kira-kira begini reaksi saya. Pertama, saya sodorkan fakta bahwa saya tidak mengenal orang ini secara dekat. Kedua, polisi tentu tidak begitu cepat dan gegabah menangkap orang tanpa didasarkan bukti-bukti tertentu – entah kuat atau tidak. Ketiga, setiap orang yang menelepon dan mengirimkan SMS itu telah membuat sejumlah asumsi atas diri orang tersebut berdasarkan keterlibatannya di dalam organisasi keagamaan dan selalu terlihat baik; faktor yang irelevan dalam penalaran. Saya pikir peristiwa itu telah memberikan saya reputasi sebagai seorang yang dingin dan kejam dalam hari-hari pertama peristiwa tersebut hingga akhirnya polisi membeberkan fakta-fakta tak terbantahkan dan proses hukum terus berlanjut.

Ada banyak hal dalam hidup yang tak kita pahami. Itu wajar. Itu sangat manusiawi. Tidak ada perlunya merasa malu ketika kita tidak punya semua jawaban. Juga dalam banyak kesempatan, sebenarnya tidak ada urgensi apa pun untuk membuat kesimpulan yang eksak ketika kita memang tidak punya basis data yang memadai untuk membuat kesimpulan yang eksak. Hanya saja, otak kita terancang untuk lebih menyukai keteraturan dan kebermaknaan, maka kita berupaya supaya semuanya menjadi teratur dan bermakna.

Maka, dalam interaksi dengan orang lain, salah satu hal yang saya suka amati adalah memetakan pola pikirnya; mengamati bagaimana ia bernalar, membangun argumen demi argumen hingga tiba pada kesimpulan. Isi dari interaksi itu sendiri seringkali tidak terlalu menarik, dalam arti tidak banyak informasi baru yang kita bawa ke dalam percakapan, bukan? Tetapi cara kita masing-masing menyusun informasi demi informasi menjadi pemikiran yang bermakna – itu yang jauh lebih menarik, sebab dalam setiap argumen ada sidik otak kita, ada bentukan-bentukan yang unik yang menunjukkan identitas dan bawaan seseorang, yang seringkali ia sendiri tak sadari.

Dalam membaca tulisan-tulisan orang, memahami pola pikirnya seringkali membantu saya untuk berempati dengan kondisi dan latar belakangnya – hal-hal yang membuat ia menjadi apa adanya dia. Kalau saya berkutat pada isi setiap tulisan, mungkin sekali akan ada banyak argumen dan perdebatan yang timbul; tetapi dengan mencoba memahami cara ia berpikir dan kenapa ia berpikir seperti itu, lebih besar kemungkinan munculnya empati. Dari situ, percakapan bisa berlanjut pada tingkat yang lebih mendalam dan lebih mendasar: pada tingkat paradigma, alih-alih di permukaan. Sebab, bagaimanapun juga, kita ingin melihat bahwa segalanya bermakna, bukan? Kenapa berpuas diri dengan berinteraksi di level permukaan alih-alih sekalian membongkar fondasi pemikirannya dan menjumpainya di level yang lebih bermakna?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s