Berselancar di Atas Kegagalan


Saya tidak membuat resolusi tahunan. Yang saya buat adalah perencanaan & ulasan berkala (periodic planning & review, untuk yang lebih terbiasa dengan istilah Inggrisnya) yang saya lakukan setiap 4 bulan, 1 bulan, 1 minggu dan 1 hari. Dalam perencanaan saya, masa empat bulan pertama di tahun 2012 ini adalah masa penantian jawaban aplikasi beasiswa saya yang seharusnya diumumkan bulan April 2012. Tetapi kenyataannya di awal Januari, saya sudah mendapat email: aplikasi ditolak. Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang?

@Alfin_Tjandra memberikan penilaian yang tajam dan akurat: saya terlalu terbiasa dengan keberhasilan sehingga saya tidak bisa menerima kegagalan dengan baik. Fakta bahwa hanya sekitar 10 orang dari seluruh dunia yang akan diberikan beasiswa tersebut tidak membantu saya. Sejak saya membuat keputusan sendiri, saya selalu membuat satu keputusan dan berhasil: dari SMP ke SMA, SMA ke universitas, lalu ke pekerjaan saya yang pertama, magister yang pertama, magister kedua, pekerjaan kedua, pekerjaan ketiga … semua berjalan dengan lancar dan saya tidak pernah bersusah-susah mengirimkan banyak-banyak lamaran. Sekarang, ketika saya melamar untuk satu beasiswa yang hanya tersedia 10 untuk semua peminat di seluruh dunia dan saya tidak mendapatkannya, hidup langsung terdisorientasi. Apa yang mau saya lakukan dengan hidup ini, dengan waktu ini?

Ketika saya memutuskan bahwa untuk beberapa waktu ke depan saya akan lebih memfokuskan diri membangun kehidupan yang lebih solid di Indonesia (alih-alih hanya berangan-angan tinggal di luar negeri), sekonyong-konyong saya punya waktu yang berlimpah karena pengalihan kegiatan dari persiapan studi di luar negeri itu. Apa yang mau saya lakukan dengan waktu-waktu ini?

Pilihan yang ada di depan mata adalah: beli TV, langganan TV kabel, meningkatkan kecepatan langganan Internet kabel, langganan beberapa majalah (sebagai ganti langganan jurnal) …. Tapi, untuk apa ya? Dan, apakah ini pilihan yang tepat? Semua pilihan yang sekonyong-konyong muncul itu adalah pilihan kegiatan mental yang konsumtif, bukan? Mungkin memang pada saat itu saya sedang kelelahan setelah persiapan panjang yang belum berbuah, tetapi kalau saya mengikuti kata hati rasanya kok hidup makin jadi tersia-siakan ya?

Semenjak saya bersiap-siap untuk pergi saya sudah (dan masih terus) membagi-bagikan buku-buku saya, sehingga dari sekitar 3.000 judul sekarang mungkin tinggal 500-an judul saja. Saya berharap buku-buku itu bisa dinikmati lebih banyak orang, lebih terawat (daripada dibiarkan berdebu di perpustakaan rumah), sementara saya juga punya ruang lagi untuk membeli buku-buku baru dan mengatur ulang komposisi koleksi saya yang tadinya melebar dan sangat luas menjadi lebih spesifik dan mendalam. Sebagian saya berikan kepada GKK CLC, sebagian kepada SAAT Ministry Center, dan sebagian lagi kepada kawan-kawan.

Kondisi-kondisi di atas nampaknya menggambarkan pergeseran minat dan aktivitas mental saya. Yang jelas, berbahaya kalau saya membiarkan aktivitas mental saya menjadi konsumtif saja tanpa produksi yang setidaknya sebanding atau malah lebih besar daripada apa yang dikonsumsi.

Masa transisi ini nampaknya adalah masa yang baik untuk membentuk ulang kebiasaan-kebiasaan dan ritme-ritme hidup, dari yang sibuk berangan-angan dan berfokus pada hal-hal yang jauh di depan kepada isu-isu yang konkret, di depan mata, dan ada di masa kini. Untuk aktivitas mental, saya pun perlu merumuskan ulang prioritas saya sehingga tidak hanya sibuk mengkonsumsi, tetapi kapasitas produksinya juga harus ditingkatkan sehingga tidak hanya sibuk menikmati tulisan orang, tetapi juga bisa memberikan kontribusi.

Setiap fase yang baru dalam hidup membawa tantangannya masing-masing. Perubahan memang tidak nyaman, tapi itu kan caranya kita naik kelas dalam hidup ini? Beradaptasi dengan hidup, belajar bahwa dalam hidup kenyataannya ada banyak hal yang di luar kendali kita dan tidak sesuai dengan keinginan kita; tugas kita adalah menyikapi keadaan itu secara bijaksana untuk menelurkan hasil terbaik dari kondisi yang ada. Kita tidak bisa mengendalikan gelombang laut, tapi kita bisa memilih untuk belajar berselancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s