Berjumpa Kembali dengan Diri Sendiri


Di tengah ketidakpastian masa depan, apa yang harus dilakukan? Pertanyaan ini terdengar klise? Tidak bagi saya. Masa depan memang bisa dihubungkan dengan banyak hal, tapi sebelum ini saya tidak pernah menghubungkannya dengan ketidakpastian. Masa depan, perjalanan hidup saya, berada dalam satu set rencana jangka panjang yang dengan ketat saya persiapkan dan kendalikan. Jadi, ketika satu hari dengan tenang dan santai saya tengah mengayuh di sebuah jalan yang kosong, lengang dan lurus, lalu sekonyong-konyong sebuah truk gandeng bernama “ketidakpastian masa depan” menikung dan menghantam saya, apa yang harus saya lakukan?

Semua ritual dan rutinitas menjadi seperti tak bermakna. Seperti titik-titik koordinat dalam sebuah koordinat kartesius, ketika titik O terpelanting, maka kacau-balaulah alamat-alamat koordinat yang sebelumnya ada. Setiap elemen kehidupan perlu dimaknai ulang, setiap rencana perlu dikalibrasi ulang.

Fondasi berjejak di tanah yang telah bergeser. Titik patok merujuk ke satu sumbu yang tak ada lagi. Bagaimana menjejakkan kembali fondasi itu? Padatkan tanahnya dan bangun kembali fondasinya, sebuah fondasi baru yang adaptif terhadap tanah yang berguncang. Bagaimana mengatur kembali titik-titik patok itu? Stabilkan sumbunya dan buat titik-titik patok itu sebagai fungsi dari sumbu, bukan sebagai konstanta.

Di saat ini, hal-hal seperti hobi pun perlu ditemukan kembali. Dalam kondisi yang berbeda, tanpa kepentingan macam-macam, apa yang sebenarnya ingin saya lakukan? Tanpa tekanan mimpi maupun jabatan, bagaimana saya akan menghabiskan waktu luang saya?

Jawaban-jawaban yang saya temukan terkadang mencengangkan diri sendiri. Jawaban-jawaban yang mungkin sekali membuat tidak nyaman orang-orang yang selama ini ada di sekitar saya. Di sini pertanyaannya berubah menjadi: seberapa serius saya ingin menggali dan menemukan diri saya sendiri? Seberapa sungguh saya ingin membangun dan meninggalkan kehidupan yang otentik? Salah satu modal awal yang sangat penting adalah keberanian menggali ke dalam – membangun fondasi yang kuat sebelum membangun ke atas, sebab kekuatan struktural sebuah bangunan adalah fungsi dari kekokohan fondasinya.

Perjumpaan yang otentik dengan diri sendiri dalam berbagai fase kehidupan tidak terasa alami. Tetapi, meneruskan kehidupan “apa adanya” dari fase sebelumnya bukan pilihan yang baik. Erik H. Erikson mengatakan ada 8 krisis utama dalam hidup manusia. Kita semua tahu krisis masa remaja, tapi tahukah kita bahwa itu hanya 1 dari 8 krisis besar dalam perjalanan hidup kita? Dalam setiap krisis ada PR yang harus kita selesaikan. Tanpa PR itu diselesaikan, ia takkan terselesaikan dengan sendirinya; ia hanya akan menumpuk terus dan membusuk, menjadi “unfinished business” dan meradang, sebelum bertambah parah menjadi tumor.

Identitas diri kita, sepanjang jalan kehidupan, adalah satu kontinum yang berevolusi. Untuk mengenal diri kita dan realistis terhadap diri kita sendiri, kita harus berani menghadapi PR-PR kehidupan: meninggalkan zona nyaman; meratakan gunung, mengeruk lembah.

Dalam sebuah adegan Le Comte de Monte-Cristo (versi Inggris: The Count of Monte Cristo), Alexandre Dumas menceritakan bagaimana sang Count (sebuah gelar kebangsawanan Eropa) mempunyai permata yang sangat besar yang bahkan membuat seorang paling kaya dan paling berpengaruh di Prancis sampai terbelalak dan mengucurkan air liurnya. Tapi, apa yang diperbuatnya dengan permata itu? Ia serahkan kepada seorang ahli permata untuk dipotong supaya menjadi indah (satu hal yang biasa), lalu … dibelah! Tidak hanya itu: setelah dibelah menjadi dua, lalu bagian tengah kedua belah permata itu dikorek seperti kita mengorek daging buah kelapa, lalu kedua belahan ini disambungkan lagi menjadi wadah kecil untuk diisi dengan obat tidur.

Waktu orang-orang terbelalak mengetahui pertama yang besar itu dibelah dan dijadikan kotak obat, Sang Count dengan enteng mengatakan, “Dengan kegiatan dan kesibukan saya yang luar biasa, saya ingin bisa tidur kapan saja dan di mana saja saya mau. Bagi saya itu jauh lebih berharga daripada permata ini, maka saya dengan senang hati mengorbankan keindahan permata ini demi satu hal yang jauh lebih berharga.” Mudahkah itu? Tidak. Butuh keberanian untuk mengorbankan satu hal yang dianggap sangat berharga oleh banyak orang untuk memperoleh hal lain yang jauh lebih berharga dalam hidup kita – walaupun sulit diamini orang. Demikian pula dalam hidup, ketakutan untuk melangkah menyeberangi garis batas zona nyaman yang membelah nilai-nilai pribadi kita dan nilai-nilai populer yang dianut publik juga bukan tanpa risiko.

Krisis ke-5 dalam teori Erik H. Erikson adalah “identitas vs. peranan” yang dialami remaja. Mereka yang berhasil keluar dengan baik akan mempunyai identitas yang jelas, sementara yang gagal akan terus bergumul dengan identitas dirinya. Krisis ke-8, yaitu yang terakhir, dalam teori Erik H. Erikson adalah “kebijaksanaan”, yaitu integritas diri vs. keputusaasaan, terjadi sekitar usia 65 tahun. Ini adalah titik nirbalik, ‘point of no return‘. Kalau pada krisis ke-5 orang melihat ke depan dan merenungkan peranannya di masa mendatang, pada krisis ke-8 ini orang melihat ke belakang dan mengevaluasi seluruh jalan hidupnya. Ada dua kemungkinan hasilnya: rasa puas atas apa yang telah dicapai dalam hidup atau penyesalan hingga maut menjemput. Beranikah Anda mengambil risiko untuk tiba pada penyesalan? Bagi saya, lebih baik ditabrak truk gandeng itu lebih awal, selagi masih ada kesempatan untuk berubah, daripada belakangan, ketika penyadaran itu tak lain dari sekedar penyesalan tak berguna.

Pengenalan diri adalah satu perjalanan panjang sepanjang hayat. Jangan memandang diri sendiri dengan pandangan yang taken for granted. Ujilah diri kita, uji perjalanan kita, uji arah hidup kita. Beranilah untuk terus-menerus berjumpa kembali dan berkenalan kembali dengan dirimu. Jangan pernah berpuas diri dalam pengenalan terhadap masa lalumu. Ia mungkin sudah tiada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s