Perjalanan Panjang Mengerjakan Mimpi


Go the Distance” adalah salah satu lagu yang sangat saya sukai. Lirik lagu ini mengungkapkan hal-hal tak terungkapkan dalam diri saya, membentangkan mimpi-mimpi saya dengan gamblang dalam sederetan kata penuh makna. Ini liriknya, dan ini kisah saya:

I have often dreamed of a far-off place
Where a hero’s welcome would be waiting for me
Where the crowds will cheer when they see my face
And a voice keeps saying: this is where I’m meant to be

I’ll be there someday, I can go the distance
I will find my way if I can be strong
I know ev’ry mile will be worth my life
When I go the distance, I’ll be right where I belong

Down an unknown road to embrace my fate
Though that road my wander, it will lead me to you
And a thousand years would be worth the wait
It might take a lifetime, but somehow I’ll see it through

And I won’t look back, I can go the distance
And I’ll stay on track; no, I won’t accept defeat
It’s an uphill slope, but I won’t lose hope
Til I go the distance and my journey is complete

But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero’s strength is measured by his heart

Like a shooting star, I will go the distance
I will search the world, I will face its harms
I don’t care how far, I can go the distance
Til I find my hero’s welcome waiting in your arms

I will search the world, I will face its harms
Til I find my hero’s welcome waiting in your arms

Bagian tersulit dalam sebuah perjalanan panjang adalah di tengah perjalanan, bukan? Di awal, semua terasa begitu indah dan meyakinkan. Kita penuh dengan optimisme. Di akhir, kita bisa melihat ke belakang dan bersyukur atas semua yang telah terjadi. Tetapi di tengah? Di tengah adalah masa yang penuh pertanyaan.

Benarkah perjalanan yang saya tempuh ini? Benarkah belokan terakhir yang saya ambil itu, atau jangan-jangan saya seharusnya mengambil belokan yang lain? Akankah saya tiba sebelum malam? Akankah semuanya baik-baik saja?

Keadaan mungkin akan lebih menyenangkan ketika banyak orang mengambil jalur yang sama, tetapi ketika perjalanan itu adalah perjalanan yang tidak populer, maka tekanan dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan berlipat ganda. Kenapa? Karena kita sendirian! Menemukan rekan seperjalanan bukanlah hal yang mudah. Kalau sampai ada satu saja, itu adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

Saya percaya bahwa setiap orang diciptakan unik oleh Tuhan, setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing, setiap orang punya ceruknya sendiri untuk ia kerjakan selama hidupnya dan yang menjadi warisannya bagi umat manusia setelah kematiannya. Tetapi, mengerjakan porsi kita yang unik itu bukanlah mudah bukan? Atau mungkin ada rekan pembaca yang merasa sebaliknya?

Sepanjang hidup saya saya telah mengambil banyak rute yang tidak lazim. Pilihan pendidikan yang tidak lazim. Pilihan pekerjaan dan karier yang tidak lazim. Mengisi agenda saya dengan serangkaian kegiatan yang lebih tidak lazim lagi. “Down an unknown road to embrace my fate,” kalau kata lagu di atas. Tapi, apa benar? Pertanyaan-pertanyaan keraguan di atas tetap menghantui.

Senang rasanya berjumpa dengan teman-teman yang juga mengambil pilihan-pilihan yang tidak populer – bukan karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi kendati mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, gaji yang jauh lebih baik, karier yang jauh lebih baik, tapi toh mereka mengikuti panggilan hidup mereka.

Seperti Herkules dan kisah hidupnya, perjalanan ini mungkin akan memakan waktu seumur hidup. Perjalanan dalam kesendirian itu, pada dirinya sendiri, juga adalah sebuah perjuangan. Karena itu saya bersyukur Tuhan izinkan saya berjumpa dengan orang-orang yang berbagi idealisme saya, walaupun panggilan kami tidak persis sama. Di Ukrida, di SAAT Ministry Center, juga dalam interaksi-interaksi dengan orang-orang lain yang Tuhan izinkan terjadi, ada penguatan-penguatan dalam perjalanan panjang ini.

Saya berharap saya seberuntung Herkules yang bisa menemukan tempat yang menanti dia, tempat “where he belongs” dalam masa hidupnya – dalam usia yang muda pula. Tetapi mungkin itu hanya ada di film. Dalam hidup ini, mungkin lebih penting kita tetap mengerjakan yang terbaik di hari ini untuk memaksimalkan tercapainya satu mimpi yang besar – yang jauh lebih besar daripada hidup saya sendiri. Mungkin itu yang membuat hidup ini jadi bermakna. Bahkan jika mimpi itu baru tercapai setelah hidup ini berakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s