Kadaluarsa dalam 20 Detik


Herkules akhirnya tiba juga di Gunung Olimpus. Ia menyadari siapa dirinya, apa takdirnya. Ia, yang setengah manusia dan setengah dewa, sudah menjadi dewa dan boleh tinggal di Gunung Olimpus untuk sisa hidupnya yang abadi. Selesai sudah penderitaan sebagai manusia di bumi. Dongeng Yunani itu tidak berakhir di situ. Herkules memutuskan kembali ke dunia dan hidup sebagai manusia. Bukan itu akhir cerita yang saya inginkan.

Jika saya Herkules, saya akan memilih tinggal di Gunung Olimpus sebagai dewa daripada terus bersusah-susah sebagai manusia. Semasa kecil, saya acapkali membayangkan orang-orang yang muncul di TV sebagai orang yang terus hidup di puncak dunia: para artis yang terus hidup dalam glamor dan keterkenalan, para pemenang Nobel yang terus berada di bawah lampu sorot, para pemenang medali emas olimpiade yang terus berada di podium kemenangan mereka. Tapi kita tahu itu semua tidak benar, bukan?

Malcolm Gladwell, dalam bukunya The Outliers, mengemukakan aturan 10.000 jam: orang yang ingin hebat dalam bidang apa pun memerlukan latihan sekurang-kurangnya 10.000 jam. Contoh yang ia berikan sangat beragam, dari The Beatles hingga Bill Gates.

Artinya, setiap artis pun perlu waktu untuk berlatih serius; mengembangkan bakat dan membentuk tubuh mereka agar sesuai dengan peran yang mereka mainkan. Mereka tidak selalu berada di bawah sorot kamera; ada momen-momen mereka kesepian juga. Para pemenang Nobel tidak secara instan memenangkan hadiah itu; mereka membutuhkan puluhan tahun untuk mengembangkan karya mereka hingga pada akhirnya mereka mendapatkan hadiah Nobel. Saya yakin dalam jam-jam yang panjang yang mereka lalui di laboratorium dan di balik meja kerja mereka, mereka juga tidak memusatkan perhatian mereka pada upaya mendapatkan Nobel dan hadiah itu dianggap sebagai bonus saja atas prestasi yang telah mereka capai.

Para pemenang medali emas olimpiade pun menghabiskan banyak jam setiap harinya, hari demi hari, selama bertahun-tahun, untuk melatih dan meningkatkan kemampuan mereka sehingga akhirnya mereka lolos tahapan demi tahapan seleksi dan masuk ke Olimpiade. Bahkan di tahap itu pun mereka masih berlatih dengan keras hingga akhirnya medali emas di tangan mereka.

Tahun demi tahun. Ribuan jam. Begitu banyak waktu, tenaga, emosi, pikiran, uang dicurahkan ke satu tujuan: memenangkan medali emas, tiba di Gunung Olimpus. Berapa lama kesenangan itu bertahan? Menurut seorang pemenang medali emas Olimpiade: 20 detik. Ya, 20 detik saja! Jadi Herkules tidak tinggal selama-lamanya di puncak Gunung Olimpus, sebab puncak kesenangan dan kepuasan itu memang tidak bertahan lama, hanya 20 detik.

Apa yang kita kejar dalam hidup ini? Puncak-puncak kehidupan itu ya … hanya itu: puncak. Dan puncak hanyalah satu titik kecil dari bentangan ribuan kilometer perjalanan panjang. Bukan puncak itu yang membentuk kita. Bukan puncak itu yang membuat kita menjadi apa adanya kita, melainkan perjalanan yang kita tempuh itulah yang membentuk kita menjadi apa adanya kita.

Perjalanan menjadi dewasa antara lain berarti belajar untuk melepaskan obsesi pada hal-hal yang sementara – lampu sorot, panggung, podium, ketenaran – dan belajar untuk bekerja keras menghadapi kerasnya tantangan hidup dan berjuang membuat kontribusi yang nyata kendati kerasnya tantangan hidup. Sepotong lirik “Go the Distance” mengatakan:

But to look beyond the glory is the hardest part
For a hero’s strength is measured by his heart.

“And they live happily ever after” hanya ada dalam dongeng. Hidup adalah kisah tentang perjuangan, kisah tentang petualangan. Petualangan menemukan diri kita sendiri, petualangan menemukan misi hidup kita; hidup adalah sebuah perjuangan untuk memberikan kontribusi yang bermakna kepada dunia yang kelak akan kita tinggalkan.

“Look beyond the glory,” kata lirik di atas, karena puncak itu hanya satu titik yang tak bermakna dibanding ribuan kilometer yang terbentang sebelum dan sesudahnya. Ada banyak kesempatan untuk membuat perubahan di dunia, di hidup kita, di sekeliling kita. Kalau kita memusatkan perhatian kita hanya pada ketenaran sekejap mata, pada satu titik di puncak gunung, jangan-jangan kita jadi rabun dekat, tidak bisa melihat begitu banyak kesempatan untuk membuat perubahan besar dan penting di sekeliling kita.

One thought on “Kadaluarsa dalam 20 Detik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s