Perspektif Wanita dan Perspektif Pria


Seusai menonton The Iron Lady, saya berdiskusi dengan seorang kawan wanita, @pink_margaretha. Ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang film itu?” Kami sama-sama terkesan dengan film itu, sama-sama mengatakan bahwa itu film yang sangat bagus. Kami berdua menyukai film itu dan sama-sama mengatakan bahwa kami mendapatkan inspirasi-inspirasi dari film itu. Sampai di situ kesamaan kami. Selanjutnya kami mendiskusikan, “Kenapa film itu bagus, menarik, inspiratif? Apa yang membuat kami masing-masing mengatakan film itu sebagai film yang bagus, menarik, inspiratif?” Ternyata, kami mempunyai penjelasan yang sangat berbeda tentang berbagai hal di dalam film itu yang membuatnya menjadi bagus, menarik, dan inspiratif bagi kami.

Saya teringat pengalaman yang serupa dengan @RondangS, sewaktu kami sama-sama mengambil program M.Div. di STT Cipanas. Dalam sebuah kelas eksegesis, dosen membukakan topik tentang penafsiran teks-teks Kitab Suci yang cenderung bias jender serta insensitivitas banyak orang tentang penafsiran teks-teks yang melulu dieksegesis dari sudut pandang pria. Ternyata memang menarik sekali membaca naskah-naskah yang sama yang sudah puluhan tahun saya baca, tetapi ditinjau dari sudut pandang teman-teman wanita. Ada banyak hal yang buat saya dengan mudah taken for granted, tetapi ternyata menimbulkan banyak pertanyaan bagi para wanita.

Waktu saya membaca dan berpikir, saya cenderung asyik dengan pikiran saya sendiri. Dari pangkal hingga ujung saya bisa membangun satu kerangka pemikiran tanpa saya konsultasikan sedikit pun kepada orang lain, kecuali mungkin kesimpulannya. Bercermin dari dua peristiwa di atas, saya semakin menyadari betapa berbahayanya berpikir seorang diri tanpa pemikiran itu diasah dalam interaksi dengan orang lain. Dengan adanya bias-bias pribadi yang tak terelakkan dan mungkin juga tak tersadari ada dalam diri saya, pemikiran saya akan condong ke satu sisi tanpa ada penyeimbang. Nampaknya itulah salah satu alasan pentingnya orang berkomunitas, untuk berjumpa dengan orang-orang yang sehati-sepikir, tetapi juga untuk diperlengkapi dan diasah oleh orang-orang yang memiliki perspektif yang berbeda.

Ketika kita bisa melihat satu isu dari berbagai perspektif, tidakkah itu akan memperkaya diri kita juga? Saya mempunyai momen-momen diskusi yang seru dan perdebatan yang dahsyat dengan teman-teman pria yang sesama pemikir, tetapi ada elemen-elemen dan perspektif-perspektif yang bagaimanapun absen dari diskusi dan perdebatan itu, yang hanya bisa hadir dalam interaksi intelektual dengan teman-teman wanita sesama pemikir seperti @pink_margaretha dan @RondangS.

Dalam hidup kita, ada berbagai lingkaran pergaulan yang kita miliki: keluarga, tetangga, teman sekolah, kolega, dsb. Bagi orang-orang tipe pemikir, salah satu lingkaran yang ia butuhkan dalam hidupnya adalah lingkaran diskusi. Alangkah baiknya jika lingkaran yang satu ini dengan sengaja diisi oleh orang-orang dari latar belakang dan perspektif pemikiran yang beragam, sehingga pemikiran kita – dunia kita – diperkaya dan buah pemikiran kita pun lebih bergizi dan lebih sedap dinikmati orang.

One thought on “Perspektif Wanita dan Perspektif Pria

  1. Saya ingat ada satu orang trainer yang saya hormati, berkata pada saya, “Fleksibilitas adalah salah satu kualitas untuk sukses dalam hidup ini”.

    Saya pikir, termasuk di dalamnya juga fleksibilitas untuk perspektif yang kita pilih dalam memandang setiap situasi yang kita alami. Jika kita memilih menggunakan skema yang kaku, maka realita yang mampu kita lihat pun cenderung terbatas. Sebaliknya, jika kita bersedia melenturkan skema kita, maka terbuka peluang untuk kita melihat realita yang beragam. Keragaman, menurut saya adalah salah satu ekspresi dari keagungan Sang Pencipta, yang dapat kita nikmati dari semua ciptaanNya. Artinya, keragaman merupakan warisan berharga dalam kehidupan umat manusia, yang semestinya kita rayakan dalam kehidupan ini.

    Pertanyaannya, mengapa ‘takut’ pada keragaman? mengapa resisten pada keragaman?

    Ini pendapat saya, kesadaran kita akan ‘diri’ kita sendiri yang begitu kuat, tampaknya membuat kemampuan kita untuk “sadar” akan orang lain yang berbeda dari kita menjadi semakin kuat pula, dan mengancam eksistensi kita. Jika saja kita bersedia melihat ‘diri’ kita sebagai bagian dari suatu entitas yang lebih besar, bagian dari ‘humanity’, maka akan lebih mudah bagi kita untuk merasa aman dengan perbedaan dengan orang lain, karena menyadari bahwa diatas perbedaan itu, terdapat benang merah yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s