Di Ujung Bumi


Bertahun-tahun yang lalu ayah dari seorang kenalan saya pensiun dari posisinya sebagai manajer di sebuah perusahaan besar. Di atas manajer, masih ada beberapa lapis jabatan lainnya hingga direktur dan presiden direktur. Waktu kenalan ini menceritakan hal pensiunnya si ayah, saya terpikir, “Orang ini pensiun dari posisi manajer dalam usia 55 tahun. Kapan ya dalam hidupnya ia menyadari, ‘Cukuplah sampai di sini. Saya tidak akan naik jabatan lagi.’ Seperti apa ya rasanya tiba pada saat seperti itu dalam hidup?”

Pengalaman hidup saya sejauh ini cukup berbeda. Sepanjang pengalaman kehidupan profesional saya, setiap tahun pasti ada perubahan posisi dan penambahan tantangan. Saya belum pernah mengalami dua tahun berturut-turut tanpa adanya tantangan baru. Tapi saya juga menyadari dalam lembaga-lembaga tradisional, yang namanya jabatan dan jenjang karier terbatas. Kalau kita mengasumsikan masa produktif kita sesingkat-singkatnya 30 tahun – dari lulus S1, anggaplah umur 25 tahun, hingga pensiun umur 55 tahun – tentu akan ada masa-masa di mana tidak ada promosi maupun rotasi. Ini bicara sistem yang tradisional, untuk orang-orang yang hanya mengandalkan satu pekerjaan dan menggantungkan harapannya pada sistem karier di perusahaan. Kapan kita menyadari bahwa “Cukuplah karier saya sampai di sini. Saya tidak akan naik jabatan lagi”? Apa yang terjadi pada diri kita ketika itu?

Di dunia pendidikan, jenjang karier tidak banyak. Saya sangat bersyukur dalam 9 tahun perjalanan kehidupan profesional saya, saya bisa cukup sering diberikan posisi dan kepercayaan yang baru – praktis setahun sekali sekurang-kurangnya. Tetapi beberapa waktu yang lalu saya mencapai satu periode yang membawa saya kepada kondisi yang saya gambarkan dalam pertanyaan-pertanyaan saya di atas.

Periode ini berawal ketika saya bersiap-siap mengambil Ph.D., kira-kira dua-tiga tahun lalu. Dalam proses persiapannya saya menemukan ada begitu sedikit orang di sekitar saya yang punya mimpi seperti saya. Yang Ph.D. saja sudah sedikit, apalagi yang Ph.D.-nya dari Amerika Serikat atau Eropa Barat. Saya menemukan banyak juga orang yang mengambil pendidikan doktoral semata-mata demi jenjang karier, demi penghasilan yang lebih baik. Banyak di antara orang yang studi ke luar negeri pertama-tama mencari beasiswa, lalu di mana ada beasiswa ke situlah ia melangkahkan studinya. Waktu itu saya sudah punya rencana studi, saya sudah “tahu” mau studi ke mana, baru saya mencari beasiswanya. Ternyata sulit sekali menjalani proses ini, yang berkebalikan dari proses yang populer.

Saya merasa seperti di ujung bumi – di depan hanya terbentang jurang dan satu-satunya pilihan adalah berbelok. Tidak ada orang yang saya temukan yang bisa menolong saya memberi pencerahan tentang proses ke depan. Tidak ada juga teman-teman seperjalanan yang bisa berbagi beban. Walaupun saya pernah melalui beberapa persimpangan besar dalam hidup, yang satu ini nampaknya lebih seperti jurang yang tak terseberangi daripada persimpangan. Benarkah hanya segini yang bisa saya capai? Benarkah begitu sulit bagi saya untuk mewujudnyatakan mimpi-mimpi saya? Harus kandaskah mimpi-mimpi itu di sini?

Itu pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar mengerikan dan menghantui saya. Salah satu fakta yang mengerikan adalah: usia saya ketika itu baru 31 tahun. Impian sebesar itu kandas di usia 31? Mungkin bukan kandas, hanya saja saya perlu lebih telaten membangun fondasinya setahap demi setahap, namun tetap gambaran mental berada di ujung bumi itu mendominasi pikiran saya karena kenyataannya tidak ada seorang pun yang hadir untuk saya untuk memberi kontribusi konkret selain hiburan dan harapan tanpa mereka sendiri pernah melalui proses ini.

Di hari-hari ini saya mulai belajar untuk merajut kembali mimpi saya dari arah yang berbeda. Selama ini saya hanya memfokuskan perhatian kepada hal-hal yang nun jauh di sana dan seringkali juga melibatkan sangat banyak faktor yang berada di luar kendali saya – krisis keuangan Eropa, ketersediaan dana riset universitas-universitas AS, proses beasiswa, dsb. – sementara apa yang di depan mata dianggap hanya sebagai batu loncatan sehingga tidak dikerjakan dengan sepenuh hati. Kini nampaknya sudah saatnya saya belajar menyeriusi apa yang di depan mata dengan lebih sungguh-sungguh, mencoba sekuat tenaga untuk memberikan kontribusi konkret dan solid kepada setiap konteks di mana saya berada, sambil berupaya membangun jejaring dan fondasi untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan.

Pemikiran “cukup sampai di sini” seharusnya tidak perlu tercetus dalam benak siapa pun. Selalu ada hal yang masih perlu dikerjakan dalam hidup. Selalu ada hal yang bisa kita kontribusikan. Hidup bukan hanya soal pekerjaan, juga bukan hanya soal mengejar mimpi. Hidup memiliki banyak faset. Alangkah indah dan kayanya jika kita bisa memandang semuanya dan memberdayakan semuanya secara simultan sehingga hidup kita memiliki makna yang multifaset dan sinergis: pekerjaan dan mimpi, sisi pribadi dan sosial, semua itu terjalin kuat menghasilkan kontribusi yang unik, khas kita sendiri, meninggalkan jejak kepada orang-orang dan lingkungan di mana kita berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s