Akankah Kita Tiba?


Satu pemikiran saya beberapa bulan terakhir ini: “Sudah 9 tahun saya bekerja purnawaktu di satu bidang – meniti karier, membangun kompetensi dan jejaring. Rasanya saya semakin lelah. Semangat bekerja agak berbeda dengan 9 tahun lalu. Rasanya, kalau bisa, saya ingin beristirahat dan mengurangi beban kerja yang berlebihan. Kalau bisa, ingin rasanya bekerja dari rumah, bebas dari jam kerja.”

Di satu sisi, saya tetap yakin inilah ceruk saya dalam hidup, inilah bidang di mana saya memang ingin dan perlu berkarya. Saya tidak salah melangkah. Bidang pendidikan adalah bidang yang Tuhan sediakan bagi saya. Di sisi lain, saya ingin mengurangi beban fisik dan mental dalam hidup saya dan lebih menikmati keleluasaan hidup. Bukankah ini sesuatu yang wajar?

Waktu saya ceritakan hal di atas kepada beberapa teman, saya berjumpa dengan satu fenomena yang sangat mengejutkan: ternyata keinginan di atas adalah satu hal yang sangat umum di antara banyak orang. Bukan hanya yang seusia saya, tetapi bahkan di antara mereka yang berusia kepala 4, kepala 5 …. Saya tidak mendiskusikan hal di atas dengan orang-orang yang usianya kepala 6 ke atas, jadi saya tidak tahu bagaimana sikap mereka terhadap hal ini. Yang saya tangkap adalah, ternyata perasaan lelah dan “ingin lebih santai” ini saya jumpai pada diri orang di berbagai profesi dan usia.

Saya pernah mengira (hingga beberapa hari lalu, bahkan), bahwa perasaan kelelahan ini hanyalah porsinya orang-orang yang kurang beruntung entah karena terpaksa melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai atau karena pada usia tua masih harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang “kasar” atau setidaknya menjemukan. Saya mengira, bagi orang-orang yang berhasil dalam karier dan bisnisnya, perasaan kelelahan ini tidak terjadi. Saya mengira, bagi orang-orang yang disebut belakangan ini, hidup akan terus-menerus memberikan tantangan dan gairah yang tak kunjung habis, asalkan kita berada di jalur yang benar. Tetapi ternyata tidak demikian, lho.

Orang-orang yang saya jumpai, bahkan mereka yang jelas-jelas meyakini bahwa mereka melakukan pekerjaan yang pas buat mereka, berhasil mencapai jabatan yang tinggi pada usia muda, bahkan mereka yang berada dalam posisi-posisi yang tuntutan waktu dan mentalnya cukup santai pun tetap dalam pencarian, tetap bertanya-tanya dalam hati kecilnya “Apakah saya sudah tiba? Cuma seginikah hidup ini?”

Saya pikir, dengan pengalaman saya seharusnya saya sudah “tiba” pada masa di mana saya bisa lebih menikmati hidup saya. Saya pikir, orang-orang yang berhasil adalah mereka yang bisa melihat ke belakang dan menunjuk satu titik dalam hidup mereka ketika mereka “akhirnya tiba” di tempat yang mereka tuju dalam perjuangan hidup mereka. Tapi ternyata tidak. Pencarian itu terus berlanjut.

Mungkin kita tidak akan pernah tiba. Mungkin hidup ini hanyalah perjalanan dari satu tonggak ke tonggak yang lainnya, dari satu milestone ke milestone berikutnya. Mungkin hanya dalam kematianlah pada akhirnya orang loain yang bisa menilai hidup kita dan mengatakan, “Ya, ia sudah tiba. Ia adalah orang yang tahu apa tujuan hidupnya dan sudah mencapainya.” Bagi kita sendiri yang menjalaninya, nampaknya garis finish itu hanyalah garis imajiner belaka.

2 thoughts on “Akankah Kita Tiba?

  1. menarik untuk melihat kembali teori perkembangan Erickson. umur kepala 4 atau 5 adalah dalam konteks mencari generiosity. jadi menurut saya itu pergumulan normal saja. sebenarnya yang menjadi yang terpenting adalah mau di arahkan kemana konteks generiositynya..apa tujuan hidupmu setelah masuk ke area itu?

  2. menurut saya, konsep perkembangan Ericksson perlu di visit kembali. umur 4 atau 5 memang dalam kondisi ingin generiosity. yang menarik adalah pergumulan ini mau diarahkan kemana? apa tujuan hidupmu ketika masuk ke area ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s