Rencana B


Rabu, 25 Januari 2012. Satu kejutan besar terjadi dalam hidup saya. Sebuah email datang dari Neurasmus, menginformasikan bahwa aplikasi beasiswa saya untuk program magister dalam bidang neurosains dinyatakan tidak lolos seleksi. Hal ini mengejutkan karena menurut jadwal, pengumuman hasil seleksi baru akan diberitahukan pada bulan April 2012. Jarang sekali dalam hidup saya satu hal yang sudah saya rencanakan sampai batal dan buyar begitu saja. Karena itulah saya sangat terkejut, walaupun dilihat dari sisi positifnya memang lebih baik saya tahu lebih awal daripada lebih belakangan.

Di akhir tahun 2010, waktu saya menengok kembali perjalanan hidup saya, saya melihat bagaimana satu demi satu hal yang saya rencanakan terwujud menjadi kenyataan. Sejak saya pertama kali membuat perencanaan hidup yang ekstensif di sekitar tahun 1998, rencana itu telah berkembang menjadi skema yang semakin kompleks, namun juga semakin mencerminkan berbagai aspek hidup saya. Dalam perjalanan selanjutnya praktis tidak ada hambatan bagi saya untuk mewujudnyatakan mimpi-mimpi besar dalam hidup saya. Mungkin ini juga satu hal yang membuat saya cukup terguncang ketika Neurasmus mengabari bahwa saya tidak mendapatkan beasiswa di tahun 2012 ini.

Masalahnya, dengan kebiasaan saya bahwa semua perencanaan hidup saya menjadi kenyataan, walaupun saya punya Rencana B, saya tidak berpikir bahwa Rencana B itu akan benar-benar dibutuhkan. Hanya semacam sekoci yang menjadi aksesoris seperti di kapal Titanic yang tenggelam 100 tahun lalu. Sekarang saya benar-benar harus banting setir dan memikirkan bagaimana hidup ini akan berlanjut.

Dalam konteks panggilan hidup, sebelumnya saya yakin bahwa disiplin ilmu yang perlu saya dalami sebagai persembahan hidup saya adalah ilmu saraf kognitif, ‘cognitive neuroscience‘. Rencananya adalah saya mengambil M.Sc., lalu melanjutkan dengan Ph.D., setelah itu entah kembali ke Indonesia atau tetap tinggal di universitas yang melakukan riset di bidang itu untuk memperdalam ilmu saya. Fokus selanjutnya dalam hidup saya, menurut skema ini, adalah untuk mengembangkan riset primer dalam bidang ilmu saraf kognitif dan mengkontribusikan pemikiran-pemikiran dari Weltanschauung Kristen.

Namun ternyata kenyataan hidup membawa saya kepada kenyataan yang berbeda. Dengan kondisi ini, mungkin saatnya bagi saya untuk memikirkan sebuah skema di mana saya akan tetap berada di Indonesia. Fokus yang saya berikan dalam hidup saya selama ini nampaknya terlalu didominasi untuk studi dan rencana berkontribusi yang ada jauh di depan; sementara saya memandang remeh apa yang ada di sini, sekarang.

Satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari peristiwa ini adalah saya ternyata terlalu banyak hidup di masa depan dan terlalu mengabaikan masa kini. Dalam hari-hari ini saya tengah berupaya merombak paradigma hidup saya dan memaksimalkan kontribusi saya untuk konteks yang saya hidupi, untuk orang-orang yang ada di hadapan saya, sementara rencana untuk pergi studi dan pindah ke luar negeri biarlah tetap hidup sebagai mimpi yang memberi gairah dalam hidup, tetapi jangan sampai membutakan saya dari peluang-peluuang dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di depan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s