Punctum Archimedis


Apa yang gereja bisa kontribusikan kepada masyarakat kontemporer? Pertanyaan ini bisa dijawab dari banyak perspektif, dari banyak kepentingan, juga dengan banyak pesimisme. Saya hendak mencoba menjawabnya dari sudut pandang seorang akademisi.

Hingga saat ini sudah 15 tahun saya terlibat secara aktif dan struktural di gereja. Saya melihat ada begitu banyak inisiatif yang dilontarkan dan program yang dicoba, tetapi kebanyakan pada akhirnya entah hanya seperti bintang jatuh yang sesaat melesat dan berpendar terang lalu dilupakan orang atau bertahan tetapi jatuh ke dalam mediokritas – tidak lebih dari program yang secara rutin dilakukan tetapi orang tidak tahu lagi apa jiwa dari program itu.

Adakah sesuatu yang bertahan dan berkesinambungan yang bisa dikontribusikan oleh gereja kepada masyarakat ini?

Ketika Yesus mengatakan, “Kamu adalah garam dunia,” bukankah itu artinya bahwa kita dipanggil untuk memberikan efek yang membuat dunia yang hambar menjadi bercita rasa sedap dan masyarakat yang korup menjadi baik karena adanya garam yang mempunyai efek penghambat proses pembusukan? Artinya, ketika garam itu ada dan garam itu berfungsi, fungsinya terasa dalam dua tingkat. Yang pertama, secara positif ia membuat yang biasa-biasa saja, yang datar, menjadi luar biasa – dari nol menjadi positif. Yang kedua, secara negatif ia menghalangi terjadinya proses pembusukan – dari negatif menjadi nol.

Setiap orang, saya yakin, dalam hidupnya masing-masing mempunyai satu perlengkapan hidup yang membuatnya efektif berada di tempat tertentu dengan fungsi tertentu. Ada satu ceruk dalam hidup yang bisa dia isi dan hanya bisa dia yang mengisinya. Salah satu tugas awal dari masing-masing individu adalah mendefinisikan set “perlengkapan hidup” itu dan menemukan ceruknya. Jika keduanya telah berhasil ia lakukan, maka ia pun akan menjalani kehidupan yang efektif.

Waktu menggumulkan pertanyaan apa yang gereja bisa kontribusikan kepada masyarakat kontemporer, saya bertanya pula kepada diri sendiri bagaimana saya sebagai seorang anggota gereja bisa berkontribusi kepada peran serta gereja di tengah masyarakat. Pada titik ini dalam hidup, saya pikir jawabnya terletak dalam bidang akademik. Bidang yang telah saya geluti selama 9 tahun ini seyogianya menjadi area dari mana saya melihat permasalahan ini dan mencoba menawarkan jawaban yang otentik.

Dalam satu tahun terakhir saya tengah menggumulkan secara spesifik bagaimana bidang akademik ini pun saya bisa menawarkan suatu kontribusi yang unik kepada dunia melalui maupun tanpa gereja.

Saya belum tiba pada jawaban yang pasti, tetapi satu kutipan dari Charles H. Malik dalam buku The Scandal of the Evangelical Mind karya Mark Noll beresonansi sangat kuat dengan pengalaman dan jalur hidup saya sejauh ini:

The problem is not only to win souls but to save minds. If you win the whole world and lose the mind of the world, you will soon discover you have not won the world. Indeed it may turn out that you have actually lost the world.

Saya mencari titik archimedes, punctum archimedis dalam hidup saya – satu area kunci yang berfungsi sebagai pangkal tuas imajiner yang dikatakan Archimedes, “Berikan aku tuas yang cukup panjang, maka dengan satu tangan aku bisa mengangkat dunia.” Saya menduga titik archimedes itu adalah bidang sejarah Weltanschauung, sejarah worldview.

Ini pilihan yang sangat tidak mudah. Ada banyak tawaran untuk melakukan pelayanan dan kegiatan yang baik seperti berkhotbah, membawakan seminar, mengurus LSM ini dan itu, tetapi jika itu menghindarkan saya dari titik archimedes yang Tuhan rancang dalam hidup saya, bukankah semua kebaikan itu menjadi musuh dari hal terbaik yang bisa terjadi, seperti kata Jim Collins, “The enemy of the great is the good“?

Hal demi hal terjadi dalam hidup ini. Terkadang apa yang ada di depan mata menjadi semakin jelas, terkadang menjadi buram, terkadang ada belokan tiba-tiba yang terjadi. Mungkin kita tidak akan pernah “tiba” di satu ceruk, atau juga kita tidak pernah benar-benar bisa mendefinisikan apa titik archimedes dalam hidup kita. Jika benar demikian, maka di dalam hidup ini mungkin kita tidak akan pernah mencapai garis “finish”, tetapi hanya beranjak dari satu batu pijakan, milestone ke batu pijakan berikutnya; atau juga hanya serangkaian upaya untuk menemukan titik ungkit yang lebih baik tanpa perlu menemukan lokasi eksak dari titik archimedes itu. Namun demikian, kita toh tetap harus berupaya?

Setelah beberapa tahun absen menulis reflektif secara berkala, saya berharap melalui blog yang baru ini saya bisa kembali mencurahkan isi pikiran saya untuk tiba di batu pijakan berikutnya, untuk setidaknya menemukan titik ungkit yang lebih baik dalam hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s